Buku Tentang Pentingnya Mengajarkan Kata 'Maaf' dan 'Terima Kasih' Sejak Dini

Ucapkan 'maaf' saat melakukan kesalahan dan ucapkan 'terima kasih' saat menerima sesuatu atau bantuan.

Kedua kata tersebut terasa sederhana, namun pada prakteknya sulit dilakukan. Berapa kali dalam sehari Anda mengucapkan 'terima kasih' sebagai rasa syukur atas segala hal dalam hidup Anda? Dan saya yakin, mengucapkan 'maaf' atas kesalahan yang kita perbuat adalah hal yang sulit dan jarang kita lakukan. Mengucapkan kata 'maaf' dan 'terima kasih' termasuk dalam sikap baik yang ternyata harus diajarkan kepada anak sejak dini, agar ketika dewasa nanti, sang anak menjadi mengerti pentingnya bertanggung jawab atas kesalahan yang diperbuat dan bersyukur dalam segala kondisi. 

'Pentingnya menerapkan sikap baik pada anak sejak dini' (Foto: Dok. Tentang Anak)

Berawal dari alasan tersebut, pada tanggal 15 Desember 2020 lalu, Tentang Anak meluncurkan dua buku pertama dari buku seri Sikap Baik berjudul “Terima Kasih” dan “Maaf” sebagai bagian dari buku-buku yang akan terbit kemudian. Dua buku ini dikerjakan bersama dr. Mesty Ariotedjo Sp. AGianti Amanda, S. Psi, praktisi anak usia dini Montessori Dipl, penulis buku anak Reda Gaudiamo, dan ilustror Bellansori

Dalam acara peluncuran buku tersebut, terdapat sesi pembacaan buku bersama aktris Sandra Dewi dan juga bincang tentang anak bersama Grace Eugenia Sameve, M.A, M.Psi, Psikolog dari Principal Child Psychologist Tentang Anak.

Tentang Anak sendiri merupakan sebuah wadah edukasi dan informasi tentang kesehatan dan tumbuh kembang anak, yang diinisiasi oleh dr. Mesty Ariotedjo, Sp.A. "Tentang Anak lahir secara tidak sengaja," aku Mesty Ariotedjo. Ia pun menjelaskan kronologi tercetusnya ide untuk membuat Tentang Anak, "Dimulai dari masa pandemi dan kebetulan saya sedang hamil kala itu, kemudian saya dibebas tugaskan untuk bekerja dari rumah. Pada saat itu saya melihat di media sosial ternyata banyak sekali hoax tentang anak. Ternyata hal ini yang tidak terlihat oleh kami tenaga medis karena kesibukan kami sehari-hari. Berangkat dari sinilah saya merasa perlu ada tenaga ahli yang memberikan edukasi kepada masyarakat tentang hal ini. Awalnya hanya lewat instagram pribadi saya, saya melakukan talkshow dengan mengajak beberapa senior dan profesor di bidang anak untuk sharing dan memberikan edukasi seputar anak, dan ternyata responnya sangat besar, sehingga saya mencetuskan untuk membuat Tentang Anak sebagai badan yang berdiri sendiri".


“Kami membuat buku ini bersama dengan pemikiran matang dari segi kesehatan dan perkembangan anak, disertai pemilihan kata dan ilustrasi yang tepat. Kami ingin menunjukkan betapa pentingnya berkolaborasi lintas bidang seperti yang kami lakukan, agar hasil akhir penulisan buku lebih tepat sasaran...”
- dr. Mesty Ariotedjo, Sp. A
 

Perlu kita akui, membaca adalah hal yang paling sulit dan malas dilakukan oleh masyarakat kita. Berdasarkan data World's Most Literate Nations (2016) oleh Central Connecticut State University, terdapat fakta yang sangat memprihatinkan, bahwa negara Indonesia menduduki peringkat kedua dari bawah, yakni posisi 60 dari total 61 negara terkait perilaku kegemaran membaca. Pernyataan ini diperkuat dengan data PISA (Programme for International Student Assessment) pada tahun 2018 yang juga menunjukkan hal yang tidak jauh berbeda, posisi Indonesia adalah peringkat 72 dari 77 negara, dengan skor rata-rata membaca di bawah skor rata-rata (371/488). Fakta inilah yang merupakan salah satu alasan mengapa Tentang Anak memilih buku sebagai media edukasi sikap baik kepada anak.

Atas rekomendasi Kementerian Kesehatan RI dan AAP, buku penting dan perlu dikenalkan kepada anak sejak usia dini, karena ternyata dalam 1.000 hari pertama kehidupan, 80% otak seorang anak sedang terbentuk. Periode ini merupakan saat yang sangat penting untuk mulai menanamkan sikap baik kepada mereka sejak usia dini. Selain bermanfaat sebagai landasan kesuksesan akademis dan meningkatkan kognitif, membaca buku bersama anak sejak dini dapat meningkatkan kualitas hubungan orang tua dan anak untuk saling menyayangi hingga mampu meningkatkan daya komunikasi dua arah.

American Academy of Pediatrics memaparkan bahwa selain memperkuat hubungan orang tua dan anak, membaca buku bersama juga bermanfaat untuk memperkuat keterampilan bahasa, pengembangan literasi, dan meningkatkan ketertarikan anak terhadap membaca sejak dini. Kedua buku dari total 4 serial buku Sikap Baik yang diluncurkan terlebih dahulu sebelum akhir 2020 ini diharapkan dapat menjadi alternatif bahan bacaan yang baik dan membantu orang tua untuk mengembangkan minat baca anak di usia keemasan.


"Sikap baik perlu diajarkan kepada anak sejak dini, efektifnya pada 5 tahun pertama sejak mereka lahir..."
- Grace Eugenia Sameve, M.A, M.Psi, Psikolog, Principal Child Psychologist Tentang Anak
 

'Grace Eugenia Sameve, M.A, M.Psi, Psikolog, turut hadir dalam acara peluncuran buku ini' (Foto: Dok.Tentang Anak)

"Anak-anak belajar dengan cara meniru apa yang ada di sekitarnya, maka dari itu cara paling efektif untuk mengajarkan sikap baik pada anak adalah lewat perilaku sehari-hari. Peran dan perilaku orang tua di rumah menjadi sangat penting untuk memberikan contoh-contoh sikap baik dalam kegiatan setiap harinya", jelas Grace Eugenia Sameve, M.A, M.Psi, Psikolog.

Serial Buku Sikap Baik berisikan contoh konkret dan sederhana dalam kehidupan sehari-hari untuk mengucapkan terima kasih dan maaf. Kata 'Terima Kasih' dan 'Maaf' merupakan ungkapan penghargaan dan penghormatan yang penuh makna. Dengan ditanamkannya nilai-nilai yang bermoral sejak usia dini, anak dapat memproses dan menyerap makna utama dari ungkapan tersebut. Kedua Serial Buku Sikap Baik ini juga melampirkan petunjuk bagi orang tua tentang bagaimana cara menginspirasi anak untuk bersikap baik.


"Buku 'Terima Kasih' dan 'Maaf' diharapkan dapat menjadi salah satu cara bagi orang tua dan anak untuk semakin dekat, dengan cara menjadikan membaca buku sebagai rutinitas harian, misalnya saat sebelum tidur, sehingga mereka selalu memiliki waktu berkualitas bersama yang konsisten setiap harinya..."
- Tentang Anak
 

Buku ini rampung hanya dalam waktu dua bulan. Jika Anda melihat isi dari buku ini hanya sedikit penggunaan teks di dalamnya. Bisa dikatakan 80% dari buku ini berisikan ilustrasi gambar dibandingkan teks. "Anak-anak ternyata lebih familiar dan senang membaca buku dengan banyak gambar yang bagus-bagus", ujar dr. Mesty Ariotedjo, Sp.A.

Ibu dari dua anak ini pun menambahkan bahwa setiap penggunaan bahasa dan kata dalam kalimat di buku ini dipikirkan dengan sangat matang. "Seperti pada bagian 'Saya berjanji tidak akan mengulangi lagi', setelah kami pikirkan lagi, kata janji itu punya suatu tanggung jawab yang luar biasa besar. Dan bagaimana bila ada suatu keadaan atau saat dimana anak tidak dapat memenuhi janji tersebut. Sehingga pada akhirnya kami mengubah dan menghilangkan kata tersebut".

'Sandra Dewi membacakan beberapa isi dari buku Maaf' (Foto: Dok.Tentang Anak)

Sandra Dewi mengungkapkan rasa senang dan bangganya terhadap karya Tentang Anak ini. "Buku ini sangat membantu saya untuk melakukan rutinitas mengajarkan membaca pada anak saya. Saya selalu membiasakan anak saya untuk membaca minimal 1x dalam sehari," ujarnya. "Saya paling suka bagian ini, 'Aku merasa lebih baik setelah meminta maaf', ini relate banget sama aku. Karena aku merasa sangat lega dan tenang setiap meminta maaf. Dan ini hal yang perlu diketahui oleh sang anak", jawab Sandra Dewi saat ditanya bagian mana dari buku 'Maaf' yang menjadi favoritnya.

'Salah satu isi dari buku Maaf' (Foto: Dok.Tentang Anak)

Selain pemilihan kata, point of view, angle serta pemilihan warna dalam ilustrasi buku 'Terima Kasih' dan 'Maaf' juga dipertimbangkan. "Anak lebih mudah melihat angle gambar dari depan, maka dari itu seluruh ilustrasi gambar lebih menggunakan tampak angle dari depan. Dan untuk pemilihan warna, semua dipilih bersama dengan tim penulis, warna apa saja yang menarik bagi anak", ujar Bellansori

"Kita sebisa mungkin menghadirkan suasana dan gambaran sesungguhnya di dalam buku ini, seperti pohon warnanya ya hijau, langit warnanya biru, dan sebagainya. Kita mau tidak hanya mereka teredukasi dari segi sikap baiknya saja, tapi lewat buku ini mereka juga bisa banyak belajar tentang hal lain," jelas Mesty Ariotedjo.

Ia pun menambahkan, "Jadi sebelum buku ini dicetak, saya tes dulu ke anak saya, dan pada saat itu mulai terpikirkan beberapa ide-ide baru, lebih menambahkan detail-detail pada gambar, seperti pada meja makan diletakkan buah-buahan, roti dsb. Sehingga saat orang tua membacakan buku tersebut, mereka bisa berdialog dengan anaknya, 'Oh mereka sedang sarapan roti hari ini, kalau kamu tadi pagi sarapan apa?' dan lainnya".

'Salah satu isi dari buku Maaf' (Foto: Dok.Tentang Anak)

“Ke depannya, Tentang Anak akan terus menginisiasi kegiatan-kegiatan positif serupa lainnya dengan menjadi pendamping terbaik para orang tua dalam mendidik anak melalui asupan informasi seputar parenting, ataupun menciptakan bahan bacaan lainnya yang dapat menjadi sebagai rutinitas positif orang tua dan anak,” tutup Mesty. Kedua serial buku Sikap Baik, 'Terima Kasih' dan 'Maaf' bisa Anda dapatkan secara online melalui Tokopedia dengan mengakses laman ‘Tentang Anak Official’.

Semoga dengan mengajarkan sikap baik sejak dini kepada anak-anak, generasi muda berikutnya bisa menjadi generasi yang tidak egois dan lebih banyak bersyukur serta bersikap transparan dan berani bertanggung jawab atas tindakan yang dilakukan. Klik di sini untuk informasi terbaru mengenai Tentang Anak.