Pentingnya Eksplorasi Seksual menurut Inez Kristianti

Di Indonesia, kata "seksual" bukanlah sebuah kata yang dapat dibicarakan dengan bebas. Tentu Anda pun setuju bahwa kata tersebut identik dengan kesan tabu. Meski demikian, ternyata edukasi tentang seksual perlu diajarkan kepada anak-anak sejak dini. Bukan untuk mengajarkan sang anak tentang aktivitas seksual, namun untuk menjaga dan mencegah terjadinya hal-hal yang tidak dinginkan.

Salah satu hal yang diajarkan dalam edukasi seksual adalah pentingnya melakukan eksplorasi seksual. Nyatanya, masih banyak masyarakat yang belum mengetahui apa itu eksplorasi seksual. Pada kesempatan kali ini, CLARA mengundang Inez Kristanti, seorang psikolog yang sering memberikan sexual education di akun media sosialnya. Apa yang dimaksud dengan eskplorasi seksual, serta apa manfaat dan peran dari eksplorasi seksual dalam sebuah hubungan? Semua dijawab Inez dalam bincang singkat berikut. 

Sebelum masuk pada topik utama, menurut Anda, seberapa penting edukasi seksual sejak usia dini? Karena berbeda dengan di Amerika Serikat, misalnya, di Indonesia masih menganggap edukasi seksual di usia dini sebagai hal yang tabu. Sejak usia berapa sebenarnya seorang anak sudah bisa diberikan pemahaman mengenai seks? 
Sebenarnya seksualitas itu sangat luas sekali tidak hanya sekedar membahas tentang aktivitas seksual, tetapi kita juga membahas tentang anatomi tubuh, gender, penilaian kita terhadap diri kita sendiri, citra tubuh dan juga berbicara tentang kasih sayang kepada orang lain, relasi, dan sebagainya. Jadi ketika kita berbicara tentang hal ini, yang kita bicara tentang hal yang bisa kita bahas itu luas sekali. 

Sebagai mahluk seksual, seksualitas adalah bagian dari diri kita. Bila kita tidak mengenal atau memahami tentang seksualitas, berarti ada sebuah aspek dalam diri kita yang tidak kita kenali atau pahami. Maka dari itu, pendidikan seksual sangat penting untuk diajarkan kepada anak-anak sedini mungkin. Namun, konten yang diajarkannya kepada mereka harus disesuaikan dengan usia dan kemampuan mereka untuk menangkap dan memahami apa yang kita ajarkan. Contoh sederhananya, ketika kita mengajarkan tentang seksualitas kepada anak berusia 2 tahun yang sedang diperkenalkan dengan anatomi tubuh manusia misalkan. Nah, kita jangan melewatkan bagian genital mereka atau mengganti namanya dengan nama lain, seperti burung dan sebagainya. Karena penting untuk mereka juga mengenali alat genital mereka. 

Menurut Anda, bagaimana cara terbaik orang tua Indonesia dalam memberikan edukasi seksual kepada anaknya khususnya mereka yang sudah memasuki usai remaja? Karena terkadang anak-anak akan merasa sungkan untuk membicarakan hal ini dengan orang tua mereka. 
Kata kuncinya adalah membangun komunikasi dengan si anak dengan memposisikan diri kita sebagai teman dan sahabat mereka. Hal ini terdengar mudah namun sulit untuk dilakukan. Apakah kita sebagai orang tua sudah bisa berkomunikasi dengan baik dengan mereka? Karena jangankan berbicara tentang seksual kepada mereka, kalau berbicara tentang hal yang general sehari-hari saja sudah sulit untuk kita lakukan. Itu sebabnya kita perlu membangun komunikasi secara general dengan anak terlebih dahulu, manfaatkan teachable moments yang tidak harus dalam keadaan kaku dan formal seperti saat ngobrol santai atau menonton film. 

Kembali ke topik utama, mengenai eksplorasi seksual, mungkin perlu ada pemahaman terlebih dahulu, apa itu Eksplorasi Seksual? Apa peran serta manfaat dari Eksplorasi Seksual? Kapan sebaiknya eksplorasi seksual ini dilakukan?
Eksplorasi seksual merupakan sebuah terminologi yang umum ya. Pada dasarnya eksplorasi seksual terkait pada bagaimana kita mengeksplorasi atau mencoba mengenal lebih jauh tentang seksual kita atau mencoba hal-hal baru yang belum pernah kita coba sebelumnya. Eksplorasi seksual terkait dengan diri kita pribadi atau dengan pasangan kita. Sebelum melakukan eksplorasi seksual dengan pasangan kita, kita perlu mengetahui atau mengenal nilai-nilai atau batasan-batasan kita terlebih dahulu, mana yang boleh dan tidak boleh menurut nilai-nilai atau norma yang kita percayai baru kita bisa melakukan eksplorasi seksual. Kapan mulai dilakukan, sesuai dengan kesiapan kita, tergantung pribadi masing-masing.

Bagaimana cara menyampaikan atau memberi ajakan untuk melakukan eksplorasi seksual dengan pasangan kita? Karena terkadang kita malu atau takut nanti malah dibilang terlalu agresif.
Balik lagi, eksplorasi seksual itu terkait kesiapan kita dan juga pasangan kita. Eksplorasi seksual harus dilakukan sesuai dengan nilai atau batasan dan kenyamanan kita dan pasangan kita. Akan ada consent atau persetujuan dari pasangan kita. Jadi ketika pasangan saya tidak mau melakukannya, ya kita harus bisa menghormati. Begitu juga sebaliknya, sehingga kita bisa menemukan kenyamanan kita tanpa adanya keterpaksaan. 

Terkadang yang sulit adalah ketika hendak memberikan penolakan, apalagi ketika cinta dijadikan alasan untuk bertahan. Bagaimana cara yang tepat untuk menolaknya? Dan bila pasangannya memaksa, apa yang harus dilakukan?
Ada baiknya sebelum melakukan hubungan seksual, kita bicarakan terlebih dahulu tentang seksual preference kita dan itu bisa dilakukan dengan santai sambil ngobrol makan atau nonton film misalnya. Jadi ketika kita sudah tahu dengan seksualitas masing-masing, ketika pasangan kita mengatakan tidak mau atau melakukan tanda-tanda penolakan, ya kita harus stop, jangan melanjutkan. Kita harus menghormati. No means no! No bukan artinya nanti kita bisa coba lagi. Tidak begitu. Perlu adanya kedewasaan dan kebijakan dari kita maupun pasangan kita. Kan tidak mungkin kita selalu meminta persetujuan mereka terus menerus setiap waktu.

Kita juga harus melakukan sinkronisasi dengan pasangan kita, dicari cara yang kedua-duanya bisa nyaman. Makanya penting untuk kita mengetahui nilai-nilai atau batasan kita itu tadi. Sehingga kita juga jadi tahu apa saja hal-hal yang tidak membuat kita nyaman. Dan ketika ada variasi seksual yang di luar dari nilai-nilai atau batasan kita, belum pernah kita coba, tapi tidak menyalahi nilai-nilai kita, itu yang akan menjadi hal baru yang kita temukan sehingga kita juga jadi bisa tahu kita nyaman atau tidak. 

Bila seseorang mengalami, mendengar dan/atau melihat sebuah pengalaman seksual yang kurang menyenangkan, kemudian hal itu menimbulkan trauma atau ketakutan pada dirinya, apakah eksplorasi seksual dapat membantu mengurangi atau bahkan menyembuhkan trauma tersebut? Atau sebaliknya, sebaiknya trauma tersebut disembuhkan terlebih dahulu sebelum melakukan eksplorasi seksual?
Kalau kita berbicara tentang trauma, ranahnya sudah mengarah ke klinis, artinya ada baiknya mereka mencari bantuan dari profesional. Karena bisa saja ada kejadian-kejadian yang dilakukan dimasa sekarang yang akan menjadi trigger untuk mengembalikan memori trauma tersebut. Itu sebabnya, bila ada trauma, sebaiknya mencari bantuan dari mental health profesional. 

Sebagai penutup, apa pesan atau saran yang ingin Anda sampaikan kepada pembaca CLARA terkait eksplorasi seksual?
Jangan membuat jarak dengan seksualitas kita
, karena hal tersebut bisa membuat kita tidak mengenal diri kita sendiri. Bukan artinya dengan tidak membuat jarak kita kemudian melakukan aktivitas-aktivitas seksual yang semua orang lakukan ya. Kadang kita dihadapkan dengan aktivitas seksual sebelum kita benar-benar mengetahui nilai-nilai seksual kita, jadi kita bingung harus bagaimana ketika menghadapinya. Bila Anda pernah mengalami hal ini, artinya Anda perlu mengetahui nilai-nilai dan batasan kita apa yang ok dan tidak menurut kenyamanan dan kepercayaan kita. Eksplorasi seksual itu tidak hanya sekedar membahas tentang gaya seksual apa saja yang akan kita lakukan tapi juga pada pengenalan diri kita terhadap nilai-nilai seksual kita, sehingga kita bisa melakukan kegiatan seksual dengan nyaman.