Ketika saya kecil dulu apabila mendengar kata tersebut, maka imajinasi saya pun akan melayang kepada sosok jahat berwajah menyeramkan dan penghancur kehidupan seisi dunia. Namun ketika saya dewasa nyatanya monster itu bisa jadi seorang yang berwajah rupawan nan harum mewangi. Bahkan bisa jadi monster itu berada di dalam diri kita pribadi.

 

Manusia yang diciptakan oleh Tuhan pada dasarnya semua baik, tak ada yang tidak baik tentunya. Manusia hadir ke muka bumi ini lahir sebagai bayi mungil bersih tanpa dosa. Namun peliknya dunia, perputaran energi negatif, dan banyaknya ragam masalah bahkan trauma hidup di muka bumi ini, menyebabkan manusia bisa berubah layaknya monster.

 

Manusia yang mudah beradaptasi, maka akan menyesuaikan dirinya dengan fluktuasi kehidupan. Misalnya Anda adalah seorang pemilik perusahaan dengan ratusan atau bahkan ribuan karyawan, maka sudah menjadi kewajiban Anda untuk menggaji mereka setiap bulannya. Tanpa ada excuse apapun kewajiban tersebut harus dijalankan.

 

Nah namun ketika Anda mengalami sesuatu dalam perusahaan, sehingga Anda harus menunggak pembayaran karyawan selama berbulan-bulan. Maka secara tidak Anda sadari bahwa Anda telah menanamkan bibit-bibit amarah kepada mereka. Bulan pertama mungkin mereka masih bisa sedikit toleransi, namun ketika masuk bulan kedua dan ketiga, mungkin bibit-bibit tersebut sudah berkembang menjadi racun yang menyebar ke hati dan  otak mereka.

 

Tanpa disadari Anda telah menciptakan monster-monster di dunia ini yang siap menghancurkan dunia. Jika perut lapar atau dengan alasan untuk kebutuhan hidup keluarga, maka seorang tulang punggung keluarga akan rela melakukan apa saja. 

 

Ada asap pasti ada apinya. Maka siapa sebenarnya yang salah? Monster atau justru pencipta monster tersebut? Jika monster dalam film-film superhero selalu digambarkan jahat dan harus dimusnahkan dari muka bumi. Maka dalam kehidupan nyata sebenarnya monster tidak melulu selalu jahat, mereka hanya korban dari ketidakadilan akan suatu sistem, atau juga kecurangan dari para penguasa atau pemimpin dalam sebuah institusi. Maka yang justru harus dimusnahkan disini adalah pencipta monster itu sendiri, keegoisan dan ketamakkanlah yang menjadikan seseorang tersebut menjadi monster untuk dirinya sendiri. 

 

Nah kembali merujuk kepada kalimat pembuka dalam artikel ini, bahwa monster tak selalu berwajah menyeramkan, namun bisa saja Anda sendiri pelakunya.