Women With Altitude

Kisah Inspiratif Mellisa Anggiarti, Seorang Pilot Perempuan Indonesia

Peran R.A Kartini yang dikenal sebagai simbol kesetaraan perempuan rasanya masih begitu erat dengan kondisi saat ini. Diskriminasi terkadang masih menjadi penghalang kaum perempuan dalam mencapai impian mereka, baik personal, maupun dalam berkarir.

Pilot merupakan salah satu profesi yang belum banyak digeluti oleh kaum perempuan. Dalam sebuah studi yang dilakukan oleh Dr. Rebecca Lutte dari Universitas Nebraska tentang Women in Aviation International, data membuktikan bahwa keberadaan perempuan sebagai Pilot, Teknisi Pemeliharaan dan Eksekutif Maskapai Penerbangan kurang dari 10%. Bahkan di Tanah Air kita sendiri, jumlah Pilot perempuan masih sangat sedikit dibandingkan dengan Pilot pria. Mengapa demikian? Apakah syarat dan ketentuan menjadi seorang Pilot terlalu sulit untuk kaum perempuan? Atau karena faktor lain? 

Untuk menjawab segala pertanyaan di atas, CLARA mengundang Mellisa Anggiarti, seorang Pilot Perempuan Indonesia yang telah menerbangkan pesawat sejak tahun 2016. Lewat bincang singkat di bawah ini, Mellisa menceritakan suka dukanya menjadi seorang Pilot Perempuan, serta tantangan dan pengorbanan apa saja yang harus dihadapinya.

'Mellisa Anggiarti saat menjalankan tugasnya sebagai Pilot' (Foto: Dok. Mellisa Anggiarti)

Sudah berapa lama Anda menjadi seorang Pilot? 
Saya memulai sekolah penerbangan saya pada tahun 2014, masuk flying school BIFA (Bali International Flight Academy) dan masuk airlines Garuda Indonesia pada tahun 2016. Garuda Indonesia merupakan maskapai pertama saya. 

Kalau tidak salah, Anda lulusan Filsafat Universitas Indonesia, kemudian apa yang menjadi dorongan atau inspirasi Anda hingga akhirnya memutuskan untuk menjadi Pilot?
Ya, sebelum memulai sekolah penerbangan, terlebih dulu saya menyelesaikan Strata 1 saya di Universitas Indonesia, jurusan Ilmu Filsafat. Dukungan untuk menjadi Pilot sebenarnya sudah dimulai sejak saya lulus SMA, karena Ayah saya juga berprofesi sebagai Pilot sebelum beliau pensiun di tahun 2013, namun saat itu saya memilih untuk kuliah dan menjadi Sarjana lebih dulu. Selama kuliah tidak terpikirkan oleh saya bahwa saya akan benar-benar terjun ke dunia penerbangan, karena memiliki banyak mimpi lain, seperti menjadi Penulis dan Jurnalis.

Saat menulis skripsi, saya menjadi sering bepergian ke luar kota memanfaatkan fasilitas tiket dari Ayah saya untuk mencari suasana baru. Saat itu jadi sering menaiki pesawat dan mengamati dunia Penerbangan, dan dalam sekejap keinginan itu kembali muncul, meskipun masih melalui banyak pertimbangan. Seperti menghitung biaya yang harus disiapkan, kematangan emosi karna jangan sampai kemauan saya bertahan hanya sesaat. Setelah lulus kuliah, saya baru fokus memulai semua test dan akhirnya diterima di sekolah penerbangan yang dikontrak langsung oleh maskapai.

Pernahkah Anda merasa menyesal menjadi seorang Pilot? Jika Anda tidak memilih karir sebagai Pilot, apa kira-kira karir yang akan Anda pilih?
Setelah menjalani pendidikan di sekolah penerbangan, banyak masa di mana saya merasa tidak sanggup meneruskan perjuangan sampai akhir. Saat-saat paling berat adalah saat harus bangun dari kegagalan, seketika ada rasa penyesalan, merasa sudah membuang banyak waktu, namun banyak dukungan semangat yang datang dan bilang bahwa memang untuk terbang itu harus melawan banyak 'angin'. Jadi penyesalan yang datang sifatnya karena saya hampir menyerah di tengah jalan. Dan sempat terpikir untuk melanjutkan pendidikan Magister di ilmu komunikasi agar saya bisa bekerja menjadi Jurnalis. 

'Meski sulit, Mellisa bertahan hingga akhirnya Ia berhasil menerbangkan burung besi di undara' (Foto: Dok. Mellisa Anggiarti)

Apakah setiap kali Anda akan menerbangkan pesawat, Anda masih memiliki rasa takut? Apa ketakutan terbesar Anda ketika Anda menerbangkan pesawat?
Perasaan takut yang pernah saya rasakan sebenarnya hal yang normal, biasanya setelah mendengar berita mengenai malfunction atau incident/accident yang terjadi. Namun biasanya saya hadapi ketakutan itu sebelum saya terbang dengan cara mempelajari hal-hal preventif yang bisa menjauhkan saya dari keadaan-keadaan yang sudah pernah terjadi. Seperti belajar dari kesalahan orang lain, akan membuat saya lebih berisi dan percaya diri. Jadi rasa takutnya berubah menjadi bekal ilmu.

Namun saya pernah takut banget, dulu waktu terbang ke Lombok, masih di dalam pesawat sedang persiapan untuk push-back, dimana saat itu bertepatan dengan gempa Lombok. Pesawat saya sebenarnya hanya bergoyang-goyang saja namun saya merasakan kepanikan orang-orang yang berhamburan keluar gedung terminal bandara, dan yang paling berat adalah mengetahui bahwa ada pesawat yang akan mencoba landing meskipun sudah dipastikan landasan dalam keadaan aman, tetap saja itu hal yang membuat saya berdoa sangat khusyuk, agar pendaratan dilakukan selamat. Setelah itu, saat giliran saya harus tinggal landas, saya sempat merasa takut dan sedih, berharap tidak ada gempa susulan di pulau itu.

Jumlah Pilot perempuan di Indonesia bahkan di dunia masih sangat minim. Mengapa demikian? Apakah kriteria atau syarat untuk menjadi seorang Pilot perempuan itu sulit? Apa saja kriteria atau syarat untuk menjadi Pilot perempuan?
Jumlah Pilot perempuan di Indonesia memang masih sedikit dibanding pilot laki-laki. Namun jumlahnya terus bertambah. Sepertinya alasan mengapa jumlahnya masih sedikit, karena memang di Indonesia keterlibatan perempuan untuk bekerja di luar rumah baru booming sekitar 10-20 tahun yang lalu dan juga karna Pilot dianggap sebagai pekerjaan laki-laki yang tugasnya mengendarai kendaraan besar dan bertanggung jawab terhadap nyawa banyak orang, dimana pekerjaan seperti ini awalnya tidak dipercayakan kepada Perempuan.

Namun seiring perjuangan senior-senior saya terdahulu, membuktikan bahwa ternyata pekerjaan-pekerjaan seperti itu juga bisa dijalani oleh Perempuan, meskipun memang harus dilalui dengan tantangan yang lebih berat dan penuh airmata karena melawan stigma bahwa perempuan tempatnya adalah di rumah. Sementara sebenarnya kriteria yang ditetapkan untuk menjadi Pilot sama saja antara lelaki dan perempuan, semua berlandaskan kompetensi. Minimal harus memenuhi kriteria kesehatan yang ditetapkan, lulus ujian pengetahuan dan keterampilan.

'Garuda Indonesia merupakan maskapai pertama Mellisa Anggiarti' (Foto: Dok. Mellisa Anggiarti)

Sebagai seorang perempuan apakah ada halangan baik secara fisik maupun nonfisik yang menjadi penghalang dalam menjalani profesi Anda?
Halangan-halangan lain lebih kepada kodrat, karena perempuan mengalami menstruasi, kehamilan dan menyusui. Tetapi ini tidak bisa dibilang sebagai halangan karena memang untuk mencapai kesetaraan ada hal-hal yang harus disesuaikan, seperti pemberian cuti haid dan cuti hamil serta kebijakan yg mengatur schedule saat Pilot perempuan masih dalam keadaan menyusui.

Bagaimana perlakuan orang-orang khususnya rekan seprofesi mengingat Anda bisa dikatakan minoritas di profesi ini? Apakah Anda sempat mengalami diskriminasi dengan profesi Anda sebagai pilot perempuan?
Ya, saya pernah mengalami pengalaman tersebut saat saya merasa diledek hanya karna saya perempuan dan suka bersolek. Saat sedang berada di sekolah penerbangan dulu, setiap ada kesalahan yang saya buat baik secara teknis atau ada hal yang dinilai kurang, maka saya akan menerima sindiran seperti “bersolek terus sih, bukan belajar”. Sindiran ini tentunya tidak diterima oleh rekan-rekan pria saya saat mereka juga melakukan kesalahan dan kekeliruan ketika belajar terbang.

Bagaimana dengan pengalaman menyenangkan Anda selama menjadi Pilot? Apa ada kejadian paling tak terlupakan yang pernah Anda alami? 
Kalau pengalaman menyenangkan terjadi hampir setiap hari, saat saya melihat penumpang bersuka cita sampai ke tempat tujuan mereka dan memberikan gesture berterima kasih. Sama halnya saat saya bawa kargo membayangkan barang-barang yang diantar ini dinantikan oleh orang-orang yang sudah memesan. Pengalaman seperti ini yang mengisi pekerjaan saya dengan kebahagiaan.

'Mellisa pernah mengalami diskriminasi sebagai perempuan waktu sekolah penerbangan dulu' (Foto: Dok. Mellisa Anggiarti)

Bagaimana tanggapan keluarga serta suami Anda yang sering ditinggal bekerja apalagi dengan resiko yang begitu tinggi setiap harinya?
Suami saya sudah mengetahui resiko pekerjaan saya dan kerap kali kami membicarakan hal ini, saat saya tidak kembali, tidak ditemukan atau saya selamat namun keadaannya menjadi berbeda. Di balik resiko yang selalu saya hadapi tiap bekerja ini, kami selalu percaya Tuhan Maha Tahu yang terbaik. Jadi, yang bisa saya lakukan hanya menyiapkan segala sesuatu seperti surat-surat untuk anak saya, wasiat dan tabungan. 

Jika anak Anda suatu hari ingin menjadi Pilot, apakah Anda akan mendukung keinginannya tersebut?
Saya berusaha tidak akan menghalanginya. Meskipun rasanya pasti berat. Karena mengetahui resikonya ada di setiap penerbangan yang akan ia lewati.

Rencananya, sampai kapan Anda akan mengeluti profesi ini?
Saya merencanakan akan terus menjadi Pilot sampai saya tidak bisa lagi terbang. Meskipun banyak hal yang saya ingin lakukan di luar terbang, namun belum terbayang untuk tidak terbang lagi dalam waktu 5-10 tahun ke depan. Sepertinya ini adalah hal yang dirasakan semua Pilot, saat ia benar-benar mencintai pekerjaannya.

Sebagai penutup, apa pesan Anda kepada para perempuan yang merasa tidak dapat memenuhi impiannya karena mereka seorang perempuan?
Pesan saya kepada semua perempuan, tidak ada impian yang bisa dibatasi hanya karena kita seorang perempuan. Meskipun berat dengan segala rintangan, stigma, beban ganda dan diskriminasi, tapi ketidakgentaran kita adalah kekuatan yang paling utama. Kepada semua perempuan yang sedang menjalani hidupnya, selamat berjuang meraih impian dengan tetap bisa berdiri sendiri.