Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, bagaimana jika kita berhenti sejenak dan bertanya: di mana posisi kita dalam waktu? Pertanyaan inilah yang menjadi titik berangkat musim pameran terbaru Museum MACAN bertajuk Where Are We in Time: A Season Across Shifting Landscapes. Alih-alih menawarkan jawaban yang pasti, musim pameran ini mengajak pengunjung menelusuri berbagai lapisan waktu, memori, dan lanskap melalui karya-karya yang bergerak di antara sejarah, identitas, hingga kemungkinan masa depan.

Menghadirkan pameran tunggal karya Riar Rizaldi, pameran grup Menelan Cakrawala, presentasi khusus oleh Dawn Ng dan Marcos Kueh, hingga ruang seni anak karya Ruth Marbun, rangkaian ini memperlihatkan bagaimana seni dapat menjadi medium untuk membaca ulang hubungan manusia dengan waktu dan lingkungan yang terus berubah. Setiap pameran menghadirkan sudut pandang yang berbeda, namun terhubung oleh benang merah yang sama: bagaimana masa lalu terus hidup dan membentuk cara kita memahami masa kini.

Sorotan utama musim ini hadir melalui Period Piece, pameran museum pertama Riar Rizaldi di Indonesia. Setelah membawa karyanya ke berbagai institusi internasional, termasuk Museum of Modern Art dan Centre Pompidou, Rizaldi kembali dengan eksplorasi mengenai hubungan antara teknologi, kolonialisme, dan industri ekstraktif. Melalui instalasi baru Bioskop Asymptotic (2026), ia membayangkan ulang lobi bioskop Indonesia era 1990-an sebagai ruang yang membeku dalam waktu, menghadirkan refleksi mengenai kemajuan, nostalgia, dan pengalaman kolektif yang perlahan menghilang.

Sementara itu, Menelan Cakrawala mengajak pengunjung memandang lanskap dari perspektif yang lebih kritis. Menghadirkan karya modern dan kontemporer dari berbagai generasi seniman, pameran ini mempertanyakan gagasan cakrawala yang selama ini dianggap netral. Dari sejarah visual kolonial hingga era algoritma dan krisis ekologis, pameran ini menunjukkan bahwa lanskap tidak pernah sekadar pemandangan, melainkan ruang tempat kekuasaan, representasi, dan ideologi beroperasi. Melalui empat bagian kuratorial yang saling berkelindan, Menelan Cakrawala mengungkap bagaimana keindahan sering kali menyembunyikan cerita yang lebih kompleks di baliknya.

Eksplorasi mengenai waktu juga hadir dalam karya Dawn Ng melalui Atlantis II. Menggunakan balok-balok es berpigmen yang perlahan mencair di atas lembaran kertas, seniman asal Singapura ini menciptakan arsip visual yang merekam proses perubahan dan kehilangan. Hasil akhirnya menyerupai peta, nebula, atau lapisan geologi yang terbentuk secara organik, menghadirkan meditasi puitis tentang kefanaan. 

Di sisi lain, Marcos Kueh menghadirkan Kenyalang Circus, sebuah proyek yang memadukan tradisi tekstil Borneo dengan budaya visual kontemporer untuk menelaah bagaimana identitas budaya terus diproduksi, dipertunjukkan, dan dikonsumsi dalam dunia modern.

Bagi pengunjung yang datang bersama keluarga, Beradu Padu karya Ruth Marbun menawarkan pengalaman yang lebih partisipatif. Melalui praktik kolase kolektif, anak-anak dan orang dewasa diajak menciptakan karya bersama menggunakan material sederhana sehari-hari. Seiring waktu, setiap kontribusi individu akan membentuk lanskap visual yang terus berkembang, menjadi metafora tentang hubungan manusia, kebersamaan, dan cara cerita-cerita kecil dapat membentuk narasi yang lebih besar.

Where Are We in Time terasa seperti sebuah undangan untuk memperlambat langkah dan mengamati dunia dengan lebih saksama. Di antara es yang mencair, lobi bioskop yang membeku dalam waktu, tenunan yang menyimpan ingatan budaya, hingga kolase yang tumbuh bersama pengunjung, Museum MACAN menghadirkan ruang untuk merenungkan bagaimana waktu tidak hanya bergerak maju, tetapi juga terus berputar melalui memori, lanskap, dan pengalaman kolektif yang kita bawa bersama.

Menelan Cakrawala dapat dikunjungi hingga 5 September 2026, sementara Riar Rizaldi: Period Piece, Marcos Kueh: Kenyalang Circus, Dawn Ng: Atlantis II, dan Ruth Marbun: Beradu Padu berlangsung hingga 4 Oktober 2026 di Museum MACAN.

Images courtesy of Museum MACAN. Photographer: Liandro Siringoringo