Tidak ada perpisahan yang mudah. Selama dan sebanyak apapun persiapan yang dilakukan, perpisahan sungguh jauh dari kata mudah. Segala sesuatu yang pernah dijalani dengan sepenuh hati tentu akan meninggalkan perih ketika tiba saatnya untuk berhenti. 

Kehilangan seorang ayah karena penyakit yang menggerogotinya mungkin mengizinkan saya untuk memiliki sedikit waktu mempersiapkan diri sampai hari itu datang. Mungkin membuat saya seharusnya lebih bersyukur sedikit dibandingkan dengan mereka yang harus kehilangan tanpa aba-aba. Namun, ketika tubuh itu perlahan menjadi dingin dan kaku, segala benteng pertahanan yang pelan-pelan saya bangun seketika tak lagi berarti. Percayalah, tidak ada waktu dan persiapan yang cukup untuk menghadapi hal ini. Setidaknya itu yang saya rasakan.

Saya kira, kehilangan sosok yang teramat berarti ini memberikan saya kekuatan untuk menghadapi perpisahan lain dalam hidup. Setidaknya, saya tahu bahwa tidak ada yang lebih menakutkan dari kehilangan ayah di usia 23 tahun. Tidak akan ada yang lebih berat daripada itu. Dan, saya benar. Tidak ada yang lebih berat. Namun, tidak juga menjadikan perpisahan setelahnya terasa mudah. Tidak juga menjadikan saya sosok perempuan berhati baja yang tak punya rasa.

Katanya, Tuhan mengambil hanya dengan maksud untuk menggantikannya dengan yang lebih baik. Saya mengamini hal ini. Namun, saya yakin, tidak ada satu hal pun di bawah kolong langit  yang dapat menggantikan sosok seorang ayah dalam hidup saya pribadi. Maka dari itu, saya sampai pada suatu kesimpulan bahwa mungkin ada banyak hal lain dalam hidup yang sejatinya memang juga tidak tergantikan. Apapun yang Tuhan izinkan untuk singgah sejenak di dalam hidup yang juga singkat ini memiliki porsinya masing-masing untuk membentuk saya sebagaimana saya ada hari ini.

Izinkan saya mengurai paragraf di atas. “The best is yet to come,” kata semua orang yang mencoba menguatkan. Saya tahu, yang terbaik masih ada di depan. Namun, itu tidak seharusnya menjadikan saya menyesali atau menganggap buruk apapun yang terjadi sebelumnya. Yang lebih baik akan datang untuk masa yang akan datang. Tidak berarti yang lebih baik itu akan menjadi baik untuk di masa yang sudah lalu. Saya percaya, setiap kejadian dan peristiwa, setiap keputusan, setiap orang yang saya jumpai dan sempat jalani hidup bersama adalah yang terbaik di suatu masa tertentu itu.

Pekerjaan pertama yang mungkin Anda tak sukai saat ini adalah pekerjaan yang Anda impi-impikan sejak duduk di bangku kuliah. Sosok yang menyakiti hati itu adalah sosok yang sama yang mengisi hari dengan tawa canda penuh mesra. Bisnis yang sekarang terpaksa harus gulung tikar mungkin adalah sesuatu yang Anda bangga-banggakan sebelumnya. Yang lebih baik akan datang untuk masa yang akan datang. Namun, tidak semerta-merta menandakan apa yang sebelumnya ada itu buruk. It was good while it lasted. 

Untuk surat pengunduran diri yang sempat diam berbulan-bulan di folder khusus dalam laptop Anda. Untuk malam-malam yang Anda habiskan berpikir apakah seharusnya hubungan ini perlu diperjuangkan atau dibiarkan saja kandas. Segala proses panjang menimbang-nimbang apakah bisnis ini layak dipertahankan atau dibiarkan tutup. Untuk semua keputusan yang tidak diambil dalam hitungan hari, namun berbulan-bulan, atau bahkan tahunan. Semua persiapan itu tidak menjadikan hari perpisahan menjadi mudah ketika waktunya tiba. Baiklah, mungkin tidak semua orang merasakan ini. Namun, jika Anda merasakannya, ketahuilah bahwa Anda tidak sendiri. Anda tidak lemah. 

Some people will talk about finding the good in goodbye. But, I know this one thing, no matter how good the thing I find at the end of the tunnel, it is still a “bye”. It's meant to hurt. So, let it hurt.