Sudut pandang Clara Sutantio terhadap Beauty Standard

Bulan lalu, selebritas muda Clara Sutantio sempat menggemparkan dunia maya dengan mengunggah foto ke akun Instagram pribadinya yang menampilkan lekuk tubuh apa adanya, tanpa filter ataupun editing. Dalam captionnya, Clara menulis "In this picture, I want to tell you guys that I'm not 'perfect' anymore, body changes as you grow up. But it's okay, I'm human as well". Dengan tagar #Showyourflaws, model yang sempat bersaing dalam ajang Asia's Next Top Model ini juga menyampaikan bahwa ia juga memiliki rasa insecure, namun memilih untuk mencintai tubuhnya apa adanya dibandingkan berusaha memenuhi "standar kecantikan" berdasarkan opini atau pandangan orang lain. Tindakan ini mendapat respon yang sangat positif dari berbagai kalangan, bahkan di level internasional.
 

"When you accepted your flaws, no one can use them against you..."
- Clara Sutantio
 

Jujur, saya sungguh kagum dengan apa yang dilakukan oleh Clara. Perempuan kelahiran tahun 1995 ini seolah menyuarakan isi hati jutaan perempuan di seluruh dunia yang memiliki rasa insecure luar biasa terhadap bentuk tubuh jauh dari bentukan sempurna. Saya pun bertanya-tanya, bukankah sebagai seorang model, ia dituntut untuk tampil dengan lekuk tubuh super kurus? Apakah gebrakannya ini akan berdampak pada karirnya sebagai seorang model?

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Clara Tan (@clarasutantio)

Saya beruntung berkesempatan untuk berbincang dengan Clara Sutantio mengenai sudut pandangnya terhadap body positivity. Pertanyaan saya dijawab dengan penuh tawa, "Oh ya? Hahahahha... Saya malah nggak tahu ada tuntutan menjadi sempurna untuk public figure". Terdiam saya dibuatnya. Jawaban sederhana darinya membuka lebar pikiran dan pandangan saya tentang sebuah pakem "standar kecantikan". Memang siapa sebenarnya yang menentukan standar kecantikan seseorang? No one. Then why do I need to feel so insecure about myself?  

Clara menambahkan, "Dulu iya saya merasa insecure dengan kekurangan saya, tapi sekarang sudah tidak lagi. Saya malah mencintai kekurangan saya karena itulah yang membuat setiap individual manusia berbeda, bukan? Saya juga tidak pernah khawatir lagi tentang apa pandangan orang tentang saya, buat apa saya khawatir? At the end, saya tidak bisa menyenangkan semua orang, lebih baik menyenangkan diri sendiri".

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Clara Tan (@clarasutantio)

Apa yang menjadi dorongan atau inspirasi Clara untuk tampil berani dan penuh rasa percaya diri sekarang ini? Bagi Clara, dirinya sendirilah sumber inspirasi. "Saya bekerja di modeling industry ini hampir 8 tahun. Saya tahu bagaimana proses editing, lighting, find the right angle untuk menghasilkan suatu karya yang sangat bagus. Dan saya ingin membuka mata teman-teman sekalian, apa yang Anda lihat itu palsu, inilah saya yang sebenernya, punya flaws juga sama seperti kalian. Dan saya bangga akan itu. Saya harap kalian juga bangga dengan flaws yang kalian miliki," ujarnya. 

'Clara Sutantio' (Foto: Denny Tjan)

"Urusi saja badanmu, itu punyamu. Badan orang lain biar lah mereka urus masing-masing. Itu punya mereka dan Hak mereka..."
- Clara Sutantio
 

Meskipun kita merasa percaya diri untuk tampil apa adanya, namun tetap saja selalu akan ada komentar negatif dari orang-orang di sekitar. "Puji Tuhan saya belom menemukan komentar negatif untuk posting-an saya tersebut, dan teman-teman terdekat saya tidak toxic". Ia pun menambahkan, "Kalau memang kalian mempunyai teman dekat yang suka memberi komentar negatif tentang badan Anda, berarti dia bukan teman yang baik. Teman yang baik pasti selalu membuat Anda lebih confident, bukan insecure".

Menurut Clara, orang yang melakukan body shaming adalah orang yang insecure dengan dirinya sendiri. "Satu kata yang tepat untuk orang yang suka melakukan body shaming adalah insecure. Percayalah orang yang selalu membuat orang lain insecure, sebenernya dia sendiri yang lagi insecure sama dirinya. Haters, do not body shame others just to make yourself feel good. And the victim, do not listen to them, you are beautiful in your own way", ucapnya.

'Clara Sutantio' (Foto: Denny Tjan)

Terkadang body shaming tidak selalu berasal dari orang lain saja, tetapi kita secara pribadi juga sering melakukan body shaming terhadap diri kita sendiri. Saya pun tidak memungkiri, kerap kali saya menghakimi diri saya sendiri dengan "standar kecantikan" yang entah dari mana asalnya. Lalu kata-kata Clara bagai siraman air segar bagi saya, "Don't be too hard on yourself. Don't let your mind bully you and stop compare yourself to others! Trust me, it'll make your life easier".  

Lalu, apakah mampu menerima diri saya sendiri ini merupakan salah satu bentuk self-acceptance atau justru bentuk arogansi yang tidak mau menerima kritik atau masukan dari orang lain? Kerap kali self-acceptance seolah menjadi tameng alasan untuk tidak mau memperbaiki diri. Untuk hal ini, Clara menjawab, "Menurut saya, sering menyalahgunakan self-acceptance untuk tidak mau memperbaiki diri itu hanya bisa dinilai oleh mereka yang sudah melakukan self acceptance tersebut, karena self acceptance juga memiliki konsekuensi. Jika seseorang yang katanya sudah menerima dirinya apa adanya, namun tidak bisa menerima konsekuensinya itu, saya rasa dia harus memperbaiki dirinya. Namun orang yang sudah menerima dirinya apa adanya dan bisa menerima konsekuensi dari hal tersebut, saya rasa selama tidak merugikan orang lain dan dia merasa tidak perlu memperbaiki diri, adalah hal yang wajar, karena manusia selalu menghakimi, namun kita yang menjalankan dan yang lebih mengerti apa yang baik untuk diri kita", ujar Clara menanggapi kekhawatiran saya.

Clara menyarankan, bila ingin tampil percaya diri apa adanya, yang pertama kali harus kita lakukan adalah mengubah cara pandang kita. "Rubah mindset mu tentang beauty standard. Percayalah, tidak ada orang yang sempurna di dunia ini. Dan belajar lah untuk mencintai dirimu sendiri, jika bukan kamu yang mencintai dirimu sendiri, siapa lagi yang akan mencintai dirimu lagi?". 

Dengan perbincangan singkat ini, saya banyak belajar bahwa tidak ada sebuah standar kecantikan bagi seseorang, yang ada hanyalah sudut pandang dan segala pikiran kita yang terbelenggu oleh segala kritik, opini dan pandangan dari orang-orang di sekitar yang membuat kita selalu merasa tidak cukup. Semoga dengan kisah inspiratif Clara Sutantio ini, Anda yang tengah merasa insecure, dapat lebih menghormati dan mencintai diri Anda sendiri, karena pada akhirnya, hanya Anda yang dapat menentukan dan menemukan kebahagian untuk diri Anda sendiri.