Keinginan memiliki rumah menjadi titik awal cerita Home Sweet Loan The Musical, adaptasi panggung dari novel karya Almira Bastari yang dipersembahkan oleh Visinema bersama Indonesia Kaya, berkolaborasi dengan Jakarta Art House. Setelah dikenal lewat versi novel dan film, kisah Kaluna kini hadir dalam format musikal yang memadukan akting, musik, koreografi, dan tata panggung. Pertunjukan ini berlangsung hingga 18 Oktober 2026 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, dengan total 23 kali pementasan.
Cerita berpusat pada Kaluna, perempuan muda yang berusaha mewujudkan impiannya memiliki rumah sendiri di tengah tuntutan hidup dan tanggung jawab keluarga. Keinginan tersebut menjadi perjalanan panjang yang mempertemukannya dengan berbagai persoalan, mulai dari kondisi finansial hingga harapan yang ia bangun untuk masa depan. Di tengah upayanya mencari tempat tinggal yang dapat disebut miliknya, Kaluna juga dihadapkan pada pertanyaan tentang arti rumah bagi dirinya sendiri. Sebab, rumah tidak selalu berhenti pada kepemilikan sebuah bangunan, tetapi juga berkaitan dengan rasa aman, penerimaan, dan kesempatan untuk menjadi diri sendiri.

Kehidupan Kaluna diterjemahkan ke atas panggung lewat pergantian latar yang mengikuti kesehariannya, mulai dari rumah keluarga, kamar tidur, hingga lingkungan kantor. Perubahan ruang ini membantu menggambarkan perpindahan Kaluna di antara kehidupan pribadi dan tuntutan di luar rumah. Tata panggung menjadi salah satu elemen penting untuk menjaga alur cerita tetap dekat dengan realitas, sekaligus memberi ruang bagi setiap adegan untuk berkembang. Situasi yang akrab bagi banyak orang pun mendapatkan bentuk baru ketika disampaikan dalam pertunjukan langsung.
Unsur musik turut membangun suasana dan emosi dalam cerita. Sebanyak 18 lagu mengiringi perjalanan Kaluna, termasuk Kembali Pulang, Kapan Pulang, Memang Milikku, Berakhir di Aku, dan Rumah dalam Ingatan. Setiap nomor menjadi bagian dari narasi yang memperkuat pergulatan karakter serta hubungan antartokoh. Sementara itu, koreografi garapan El Haq Latief dan Nudiandra Sarasvati menangkap ritme kehidupan urban Jakarta yang dinamis, lengkap dengan tekanan dan kesibukan yang menyertainya. Hal tersebut terlihat dalam nomor Tepuk Waras dan Riuh Jakarta, yang menerjemahkan suasana kota ke dalam gerak dan komposisi panggung.

Kaluna diperankan oleh Kalya Islamadina dan Chintana Jo dalam jadwal pertunjukan yang berbeda. Keduanya membawa karakter yang sama dengan interpretasi masing-masing, didukung oleh 11 pemeran lain dan 24 anggota ensemble. Dengan jumlah 37 penampil di atas panggung, setiap adegan melibatkan kerja bersama untuk menjaga perpindahan cerita, musik, dan koreografi tetap selaras. Di balik pertunjukan tersebut, lebih dari 50 kreator turut berkontribusi dalam berbagai aspek produksi, mulai dari pengembangan konsep hingga elemen teknis yang mendukung keseluruhan pementasan.
Peralihan dari layar ke panggung juga memberi kesempatan bagi cerita ini untuk disampaikan dengan pendekatan berbeda. Jika film mengandalkan bahasa visual dan kedekatan kamera, versi musikal membawa penonton menyaksikan emosi para karakter secara langsung, dengan musik dan gerak sebagai bagian dari penceritaan. Hubungan antara Kaluna dan orang-orang di sekitarnya pun berkembang di dalam ruang pertunjukan yang sama dengan penonton, membuat konflik sehari-hari terasa lebih dekat. Format ini sekaligus memperlihatkan bagaimana satu cerita dapat terus berkembang tanpa kehilangan persoalan utama yang membuatnya relevan.

Perjalanan Kaluna bukan hanya tentang mencapai target untuk memiliki rumah, tetapi juga memahami apa yang sebenarnya ia cari dari sebuah tempat untuk pulang. Keinginan untuk mandiri, tanggung jawab terhadap keluarga, dan kebutuhan untuk memiliki ruang bagi diri sendiri menjadi bagian dari proses tersebut. Lewat Home Sweet Loan The Musical, kisah tentang rumah dibawa ke panggung sebagai refleksi atas harapan dan pilihan yang kerap hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Foto: Dok. Indonesia Kaya