Love Yourself Enough to Take Some Rest

Entah perasaan saya saja, atau apa. Waktu 24 jam kini tak lagi terasa cukup. Hari-hari kian menjadi sibuk. Semua bergerak begitu cepat, seolah tak memberi ruang untuk beristirahat. Keep hustling. Ya, moto yang menjadi pegangan bagi banyak muda mudi. Terus berjuang tak peduli letih untuk terus meraih mimpi. Sleep is for the weak. Lembur menjadi hal yang biasa, dan justru menandakan kerja keras yang nyata. Sungguh, apakah harus seperti itu?

Tenang, Anda tidak sendiri. Saya tidak menghakimi karena saya pun begini. Hampir menyentuh usia seperempat abad, pikiran terus diisi dengan ketakutan akan masa depan. Ketakutan akan apa yang orang lain lakukan. Terus merasa tidak cukup. Terus merasa harus memberi lebih. Tanpa menyadari bahwa diri ini butuh sedikit kasih. Ya, mengasihi diri sendiri. Tidak melulu memikirkan tentang orang lain, pekerjaan, atau hal lain yang masih terlalu jauh untuk dipusingkan saat ini.

Mungkin ini saatnya benar-benar menggunakan satu jam makan siang untuk menikmati hidangan di atas meja, bercengkrama santai dengan siapa yang ada di depan mata. Bukannya sembari bekerja di depan layar komputer atau membalas pesan yang tak kunjung henti. Mungkin ini saatnya untuk benar-benar mengistirahatkan pikiran dan menenangkan diri, bukan sekadar memejamkan mata di malam hari dan kemudian tetap bangun dengan beban di hati. Mungkin ini sedikit pengingat untuk berani mengambil hari cuti, bukan justru berbangga hati bekerja tanpa henti.

Mungkin mencintai tidak memerlukan langkah yang besar. Mungkin mencintai dapat dimulai dengan ini. Menenangkan diri. Tenang, semua ada waktunya. Tidak semua perlu terjawab hari ini. Tenang, semua ada jalannya. Yang mereka lalui tidak perlu menjadi acuan untuk diri. Tenang, nanti semua ada jawabannya. Tenang. Istirahat, ya.