Kembalinya Sultan Agung ke Solo Dalam Pameran Karya Seni Mukti Negeriku!

Dalam rangka merayakan Kemerdekaan RI yang ke-76, Tumurun Private Museum bekerjasama dengan S.Sudjojono Center beserta keluarga Rose Pandanwangi Sudjojono, dengan bangga mempersembahkan pameran seni rupa berjudul "Mukti Negeriku!".Pameran ini menampilkan salah satu reproduksi mahakarya mendiang S. Sudjojono (1913-1986), seorang seniman handal dan pemikir ulung, yang menjadi salah satu kontributor seni rupa di Indonesia. 

Lukisan berjudul “Pertempuran Antara Sultan Agung dan JP Coen” (1973) ini merupakan pesanan khusus dari Ali Sadikin yang kala itu menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta kepada Sudjojono dalam rangka peresmian Museum Sejarah Jakarta pada tahun 1974. Lukisan ini menjadi salah satu koleksi berharga Museum Sejarah Jakarta.

'Sosok S. Sudjojono merupakan salah satu seniman yang memiliki pengaruh besar di dunia seni Indonesia' (Foto: Dok.Tumurun Private Museum)
'Lukisan Pertempuran Antara Sultan Agung dan JP Coen' (Foto: Dok.Tumurun Private Museum)

Sejarah lukisan “Pertempuran Antara Sultan Agung dan JP Coen” ini pun cukup istimewa. Perlu waktu 7 bulan untuk menyelesaikan lukisan yang berukuran 3x10 Meter ini. Sudjojono melakukan riset selama 3 bulan di Belanda untuk mendapatkan data-data historis yang akurat mengenai sejarah peristiwa tersebut, dan menuangkan hasil risetnya tersebut ke dalam sketsa-sketsa yang dibuatnya. 

Tak main-main, total keseluruhan sketsa-sketsa yang ia buat ini mencapai 38 sketsa yang disertai catatan-catatan mendetil mengenai berbagai hal sehubungan dengan peristiwa bersejarah tersebut. Saat ini seluruh sketsa tersebut telah menjadi koleksi Tumurun Private Museum dan untuk pertama kalinya Anda bisa menyaksikan seluruh sketsa ini secara lengkap di Indonesia.

'Sudjojono membuat 38 sketsa lengkap dengan catatan-catatan penting tentang peristiwa bersejarah tersebut' (Foto: Dok.Tumurun Private Museum)
'Seluruh sketsa ini secara lengkap dipamerkan dalam pameran Mukti Negriku!' (Foto: Dok.Tumurun Private Museum)

Dari segi keunikan tema yang historis realistis, tingkat kesulitan teknis dan waktu yang dibutuhkan untuk melakukan riset dan menyelesaikan lukisan ini, tidak bisa dipungkiri lukisan ini sangat berharga. Pameran ini juga sebagau salah satu upaya dalam mendukung usaha Museum Sejarah Jakarta yang dipelopori oleh Sri Kusumawati, S.S., M.Si. dan Esti Utami, S.S. untuk menjadikan lukisan “Pertempuran Antara Sultan Agung dan JP Coen” serta berbagai kajian dan sketsa-sketsa didalamnya terdaftar menjadi Cagar Budaya Nasional. 

Penyelenggaraan pameran ini juga merupakan salah satu wujud tujuan utama Tumurun Private Museum dalam menjalankan visi dan misi dalam bidang edukasi kepada masyarakat secara luas terutama mengenai seni, baik seni klasik maupun kontemporer. Melalui pameran ini, Tumurun Private Museum dan S.Sudjojono Center sangat mengharapkan masyarakat muda khususnya, dapat belajar lebih dekat mengenai sosok pejuang Sultan Agung dan seorang pemimpin Mataram, salah satu kerajaan terbesar di Nusantara, di mana kedua sosok penting yang ditampilkan dalam pameran ini merupakan bagian penting dari sejarah Indonesia dan sejarah seni rupa Indonesia.

'Sosok Sultan Agung dalam goresan Sudjojono digambarkan penuh wibawa dan kebijaksanaan' (Foto: Dok.Tumurun Private Museum)
'Pertemuan Kjai Rangga dan J.P Coen (13 April 1628 di Batavia)' (Foto: Dok.Tumurun Private Museum)

Kedua tokoh ini memiliki karakter yang sama, yaitu: visioner, pemberani dan cinta tanah air. Keduanya pun sama-sama pejuang, walau perjuangan mereka dilakukan dalam bentuk yang berbeda. Sultan Agung melalui ekspansi untuk perjuangan kemerdekaan serta upaya perbaikan hidup masyarakatnya; sedangkan Sudjojono melalui kuas, karya-karya dan tulisan-tulisannya.

Diharapkan pameran ini dapat memberi inspirasi kepada para seniman, pencinta seni, pelajar dan masyarakat umum akan makna dan peran seni, perjuangan dan nasionalisme bangsa dan negara sekaligus untuk dapat lebih mengenal sosok Sudjojono, karya-karya dan pemikirannya, riset yang dilakukan dan proses pembuatan karya tersebut. Pameran ini diharapkan dapat menjadi momentum untuk membawa semua lapisan masyarakat khususnya generasi yang lebih muda, milenial dan Gen Z  untuk memahami dan menerima serta menghargai nilai-nilai pejuangan lewat karya seni yang dharapkan dapat mengilhami pemikiran dan gaya hidup masa kini mereka kelak. 

'Tumurun Private Museum, Surakarta, Solo' (Foto: Dok.Tumurun Private Museum)
'Koleksi pribadi Sudjojono juga ditampilkan dalam pameran ini' (Foto: Dok.Tumurun Private Museum)

Pameran ini dapat Anda nikmati di Tumurun Private Museum, Surakarta, Solo dari tanggal 28 Agustus 2021 sampai 28 Februari 2022.