How Can We Love the Heartbreak?

If you’re a fire, I’ll gladly throw myself into you and say that you’re warm. If you’re a bed of roses, I’ll gladly lay down and say that you’re comforting. Have you ever felt like this? Suffocating, but barely holding on. If you have ever been there, it’s okay. You’re not alone.

Apakah Anda pernah merasakan hal yang serupa? Sebelum membaca lebih lanjut, jangan khawatir. Ini tidak akan menjadi cerita cinta anak SMA yang rela membuang semuanya demi satu orang yang dianggap spesial di masa itu.

 

Matahari bersinar tanda hari baru dimulai. Semua berjalan seperti hari Jumat pada biasanya, keseharian yang monoton. Pergi ke sekolah, diantar ke sekolah oleh ibu lalu sebuah ciuman mendarat di dahi bersama dengan kalimat yang biasa beliau ucapkan, "Hati – hati, mama sayang kamu”. Dan, dengan biasa saya jawab dengan “Iya, dah”. Lima kata yang biasa saya dengar, dan saya kira akan saya dengar selamanya. 

 

Kisah ini tentang dua matahari yang teramat hangat dan menenangkan, tapi hilang ditelan badai. 

 

Dua matahari yang paling saya cintai. Ayah dan Ibu. Saya senang membayangkan kedua orang yang paling saya cintai sebagai matahari, dan saya adalah si anak kecil yang membutuhkan kedua matahari untuk beraktivas. Begitu pula dengan adik saya. Mungkin sekiranya Anda sudah bisa menebak alur dari cerita ini. Dari bagaimana cerita ini berangkat, sampai nanti ia akan mendarat. Tapi, begitulah. Kisah ini akan tetap saya lanjutkan. 

 

Ada satu kejadian yang teramat membekas dalam memori saya, sampai menjadi luka yang tidak sembuh. Dengan waktu sekalipun, ia tidak bisa sembuh. 

 

Keluarga saya memang termasuk dekat, dalam arti yang literal juga. Kami sering tidur bersama di satu kamar dengan king size bed, bukan berarti dalam rumah kami tidak ada kamar lagi. Hanya sudah terbiasa begini. 

Suatu malam saya dan adik saya memutuskan untuk tidur duluan, meninggalkan dua matahari saya di luar karena mereka terlihat sedang berbincang bincang. Mungkin beberapa jam kemudian saya terbangun. Setengah sadar, saya mendapati ayah saya di samping saya.  “Baiklah, mungkin ini waktunya untuk benar – benar tidur”. Dengan adanya beliau di samping saya, semua perasaan gundah dan resah seakan hilang. 

 

Tapi, mengapa perasaan itu tak kunjung hilang walaupun dia ada di sana? Beliau sedang menangis. Menangis seperti anak kecil yang kehilangan mainan favoritnya. Bedanya, ia menangis dalam kesenyapan. Tanpa suara. Mungkin tidak mau membangunkan dua anaknya yang sedang terlelap. Itulah pertama kali, dan terakhir kali saya melihat beliau begitu tak berdaya. Dan, enam tahun setelahnya, saya harap akan ada mesin waktu. Agar saya dapat memeluknya, seperti beliau memeluk saya ketika sedang sedih. Bukan malah berpura-pura memejamkan mata dan menutup hati akan tragedi ini.

 

Berbagai macam kejadian yang mungkin saya sendiri tidak tau detailnya, pasti sangat menyakitkan untuk beliau. Saya tahu itu. Tapi di sini saya juga disakiti dan ditinggal. Beribu bahasa untuk menggambarkan betapa hancurnya saya rasanya tidak cukup. Berbagai cara telah dicoba untuk bangkit, namun rasanya kekosongan ini begitu dalam dan tak dapat diisi kembali. 

 

In the end, there’s no perfect answer. Yang ada hanyalah keinginan untuk maju. Luka? Pasti ada. Dalam dan mungkin waktu untuk sembuh yang teramat lama. Meskipun demikian, bukankan ini yang membuat kita sebagai manusia hidup? Perasaan dan sakit yang tak kunjung berhenti. Dan jika ini terjadi kepada Anda, saya harap Anda juga bisa melewatinya. Anda tidak sendirian di sini. Proses penyembuhan memang sulit untuk dilakukan, dan sampai detik ini saya - pun belum sembuh sepenuhnya. Yang bisa saya lakukan adalah; maju. Berjalan melewati tanah berbatu tanpa akhir yang jelas. Dari sinilah, saya belajar kesakitan yang sesungguhnya. Walaupun hati yang disakiti ini seakan hanya di rekatkan dengan perban, tapi ia tetap memilih untuk tetap berdetak. Bagaimana tidak, dua matahari yang saya cintai akan tetap menjadi dua matahari yang saya cintai. Sepanas apapun sinar yang disemburkan, tidak akan menjadi masalah. 

 

Lastly, kisah ini bukan untuk menarik simpati. Kisah ini adalah liberasi dari rahasia personal. Karena pagi telah datang, waktunya bangkit lagi. Kira – kira begitulah, sebuah pengakuan berkedok kisah yang dituangkan ke sebuah tulisan.

 



1 COMMENTS

Vito christian giovanni

Here's my highest compliment to the writer. She's a strong, independent woman, and one of the best person I know ???? Being able to share a super private story is not an easy thing to do. Despite all the problems she went through, she's still managed to become one of the writer in this company and wrote this amazing story as an inspiration to us all. Salute ???? Believe this: Life is Hard, so We can Be The Best of Us!

28 February 2020