Hairspray the Broadway Musical: The Process, The Challenges, and The Expectations

A conversation with Chriskevin Adefrid as the founder of TEMAN and the producer of Hairspray - The Broadway Musical in Jakarta

Hari itu, tanggal 27 November 2019, suasana hati saya sedang tidak keruan, entah mengapa. Di hari yang sama, saya menghadiri undangan press conference dari Hairspray - The Broadway Musical yang akan ditampilkan pada tanggal 21 dan 22 Desember 2019 mendatang di Ciputra Artpreneur. Saya ingat, saya duduk di dua baris paling belakang berusaha untuk memfokuskan diri pada apa yang disampaikan. Narasumber mengambil giliran dalam menyampaikan peran dan opini mereka mengenai pertunjukan ini. Bercerita tentang cinta dan mimpi, katanya. Saya mulai tertarik, namun pikiran masih pelik. 

Semua berubah ketika sesi tanya jawab berakhir dan para pemain memberikan sedikit cuplikan mengenai penampilan mereka. Saya tak kuasa menahan senyum melihat bagaimana para pemain bergerak berirama dalam harmoni. Mereka bernyanyi dalam pembagian suara yang pas. Di atas semuanya, mimik wajah mereka memperlihatkan karakter apa yang sedang dimainkan. I've never been so interested in musical theatre until I saw that. Dan, hebatnya, suasana hati seketika berubah ceria. Does it have some kind of magic?

I am in awe. Bagaimana bisa seseorang melakukan begitu banyak hal dalam waktu bersamaan. Pertunjukkan teater juga merupakan pertunjukkan langsung yang tidak memungkinkan adanya pengambilan ulang. Well, where have you been, Meta? Beruntung, saya berkesempatan berbincang dengan sosok muda di balik Teater Musikal Nusantara (TEMAN), Chriskevin Adefrid selaku founder dan producer.Through what he shared, you can see how passionate he is in achieveing his dream. And, seriously, it has successfully made me more excited about this show.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Teater Musikal Nusantara (@teman.musicals) on

Anda terlihat begitu mencintai dunia teater. Mengapa demikian?
Bagi saya pribadi, terlalu sempit jika hanya mengategorikan teater sebagai passion. Teater merupakan sesuatu yang telah menjadi bagian hidup saya sejak kecil. Teater menjadi tempat bagi saya untuk berekspresi dan di saat yang bersamaan juga merasakan ekspresi orang lain. Saya suka banget juga sama esensi teater itu sendiri, yaitu sebuah titik di mana banyak banget bidang dan keahlian dari orang-orang dengan latar belakang yang beda-beda, bertemu dalam sebuah karya.

Apa hal terbaik dari dunia teater menurut Anda?
Seperti yang saya katakan tadi, yang terbaik buat saya adalah esensi itu sendiri. Sederhananya mungkin adalah “unity”. Jadi, individu dengan berbagai latar belakang, berbagai bidang yang mereka geluti, bisa bener-bener apa aja, baik dari aktor, musisi, teknis, bahkan akuntan, engineer, dan lain-lain bisa kumpul semua dalam satu wadah. Keren dan seru banget gak, sih? Di sini justru perbedaan berperan penting, perbedaan yang bisa bikin teater itu ada.

Mengapa Anda memutuskan untuk menampilkan Hairspray?
Secara pribadi, ini ada hubungan nya dengan TEMAN itu sendiri. Di sini, kami berkomitmen untuk merevolusi industri musikal teater Tanah Air dengan tidak hanya memproduksi pertunjukkan musikal teater kelas dunia, tapi juga mempromosikan ke masyarakat luas di Indonesia. Nah, untuk deliver dua hal ini, kami butuh sebuah show yang tidak hanya legendary dan well known di dunia teater, tapi sesuatu juga yang relatable dan bisa dinikmati oleh audience. Tidak berhenti di sana, karena visi revolusi tersebut, TEMAN berkomitmen untuk menggunakan talent lokal yang berkualitas dan secara proporsi paling besar di setiap produksi nya. Tambahan lagi, kami juga ingin menampilkan sesuatu yang family friendly dan light hearted show yang sangat mudah dicerna dan penuh dengan energy dan elemen bersenang-senang. Nah, Hairspray menjadi jawaban untuk itu semua. 

Apa tantangan terbesar Anda dalam menampilkan Hairspray?
Tantangannya banyak dan besar semua, jadi agak susah untuk pilih mana yang paling besar. Mungkin kalau bisa dirangkum, tantangannya adalah Hairspray itu sendiri. Hairspray adalah show yang sudah sangat populer di industri ini, mulai dari film original-nya, lalu broadway adaptation, lalu film adaptasi, dan versi-versi lain. Ada begitu banyak benchmark dalam Hairspray dan tentu ekspetasinya pun tinggi. Ditambah lagi, tentu kami berusaha semaksimal mungkin agar pertunjukan ini dapat menyangi versi pertunjukan yang sudah ada. Jelas tidak mudah memproduksi pertunjukan dengan ekspetasi setinggi itu. Jadi, maintaining expectation and maintaining quality itu yang mungkin bisa di garis bawahi sebagai tantangan terbesar nya.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Teater Musikal Nusantara (@teman.musicals) on

Siapa karakter favorit Anda dalam Hairspray?
Hmm, mungkin buat saya itu Edna Turnblad. Edna adalah seorang ibu rumah tangga, kerja di binatu (laundry), berpenampilan mungkin kurang menarik menurut orang-orang di sekitar dia, sangat sederhana. Namun, siapa sangka, di balik sosok tersebut dia mempunyai mimpi besar yang terpendam yang mungkin termakan waktu dan terlihat seperti tidak lagi punya harapan. Yang keren adalah meskipun demikian, dia tetap memelihara mimpi tersebut sekalipun terlihat sulit menggapainya. Namun, pada saatnya tiba, dia memilih untuk keluar dari comfort zone, dan menjadi seseorang yang dia pilih sendiri. keren banget.

Apa makna yang dapat Anda pribadi ambil dari kisah Hairspray?
Ada dua hal yang selalu saya highlight, yaitu love and unity. Buat saya, dua hal ini yang sangat penting dalam kisah Hairspray dan sangat sangat relatable buat kita, orang Indonesia. Di negara yang penuh dengan keberagaman, persatuan menjadi hal yang perlu diusahakan. Beda ini, beda itu, beda selera, beda banyak hal. Nah, kita tuh sering gak sadar kalau perbedaan itu sebenarnya jadi sesuatu yang menyatukan. Persatuan hanya bisa diwujudkan kalau ada perbedaan, dan itu yang bikin indah. Terus juga bagaimana cinta itu sendiri sangat dipengaruhi oleh persatuan. Gimana mau sayang kalau gak bersatu. Dan, kembali lagi, bersatu itu gak mesti sama, cinta itu seharusnya gak kenal syarat. Gitu deh, dan tentu buat mencintai sesuatu itu ada tantangan, nah di Hairspray kita diajak melihat kalau justru tantangan malah bikin cinta itu makin kuat, bukan makin loyo, hahaha.

Apa harapan Anda untuk industri teater Tanah Air?
Harapan saya besar dan banyak, cuma kalau bisa di rangkum, saya berharap teater bisa terus menjadi wadah untuk dapat terus mengispirasi dan menghibur masyakarat Indonesia. Semoga teater juga dapat terus menjadi sarana edukasi yang mendidik dan berkualitas. Di samping semua itu. harapan terbesar sih supaya bisa melihat sebuah perubahan di industrinya itu sendiri, industri teater di Indonesia punya masa depan besar dan potensi yang gila banget, tapi itu semua tergantung ke kita semua, mau digarap atau membiarkannya hingga tergerus oleh arus jaman. Jaya terus teater Indonesia!

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Teater Musikal Nusantara (@teman.musicals) on