Dr. Fitria Agustina Memberi Solusi untuk Berbagai Permasalahan Kulit Semasa Pandemi

Melakukan aktivitas di luar rumah masih belum bisa dihindari oleh sebagian orang. Faktanya, beragam kebutuhan hidup tidak menunggu pandemi ini berakhir, karena tetap harus terpenuhi. Beberapa aktivitas mau tak mau tetap harus berjalan dengan normal. Hal yang membuat berbeda hanyalah penerapan protokol kesehatan, salah satunya menggunakan masker dan membawa hand sanitizer saat berpergian. Satu hal yang kerap dilupakan adalah kesehatan kulit.

'Dr.Fitria Agustina, SpKK, FINSDV, Vice Secretary of PERDOSKI' (Foto: Dok. Dr.Fitria Agustina, SpKK, FINSDV)

Sejak pandemi berlangsung saya merasakan terjadinya perubahan pada tekstur kulit. Kulit tangan menjadi kering dan kusam, mungkin akibat pemakaian hand sanitizer yang berlebih. Tidak hanya itu, beberapa permasalahan kulit seperti jerawat dan bintik hitam pada wajah juga kian muncul, khususnya pada bagian wajah yang kerap tertutup masker. Padahal, segala rutinitas penggunaan skincare tidak pernah terlewatkan. Apakah kondisi ini wajar? Apakah ini harga yang harus dibayar untuk tetap sehat selama masa pandemi?

Guna menjawab segala permasalahan kulit semasa pandemi, CLARA berbincang dengan seorang pakar kesehatan kulit dan kelamin, dr. Fitria Agustina, SpKK, FINSDV. Dengan 14 tahun pengalaman di Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI), dr.Fitria Agustina menjelaskan beragam penyebab terjadinya permasalahan kulit selama masa pandemi, serta solusi untuk mencegah dan menanganinya. 


"Kulit kita merupakan organ tubuh terluar dengan luas kira-kira 2m2 (10% dari berat badan), sehingga kulit termasuk organ penting yang memerlukan perhatian khusus dan dijaga kesehatannya..."
- dr. Fitria Agustina, SpKK, FINSDV, Vice Secretary of PERDOSKI
 

Apa saja kesibukan Anda akhir-akhir ini, khususnya dalam masa pandemi?
Selama masa pandemi, saya masih tetap menjalani praktek sebagai dokter spesialis kulit dan kelamin yang tentunya dengan berbagai pembatasan praktek di masa pandemi ini. Saya juga sedang melanjutkan study saya, S3 Ilmu Kedokteran (Anti Aging Medicine) di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Bali. Selain itu, sebagai bagian dari Tim SATGAS COVID PERDOSKI, saya juga aktif membuat konten edukasi masyarakat untuk media sosial dengan berbagai kegiatan Webinar dan Instagram Live. 

Dari sekian banyak spesialis, mengapa Anda memilih menjadi Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin?
Saat berjumpa dengan seseorang tentunya hal pertama yang terlihat adalah kondisi kulitnya, apakah kulitnya sehat atau tidak. Selain itu, penyakit kelamin tetap menjadi perhatian dalam menjaga kesehatan reproduksi yang memiliki dampak jangka panjang, khususnya bagi generasi muda. Sehingga mempelajari kulit dan kelamin menjadi hal yang sangat menantang dan menarik untuk saya. Mimpi saya adalah membangun sebuah Pusat Kesehatan Terpadu untuk kesehatan Kulit dan Kelamin dengan memberikan layanan prima untuk semua kalangan masyarakat yang mencakup semua divisi keilmuan Dermatovenereologi (kulit dan kelamin) yaitu dermatologi umum, infeksi, dermatologi anak, dermatologi geriatri, alergi imunologi, tumor dan bedah kulit, dan dermatologi kosmetik.

Berbicara tentang permasalahan kulit, sering ditemukan mitos atau tips-tips perawatan kulit wajah yang tidak terbukti secara klinis beredar di masyarakat, terutama di media sosial. Berdasarkan pengalaman Anda sebagai Spesialis Kulit dan Kelamin, apa hoax yang paling banyak Anda temukan di pasien-pasien Anda?
Ada 4 hoax yang sering saya temui, yang pertama, semakin mahal harga dari produk skincare, akan semakin bagus hasilnya. Kedua, jangan menggunakan moisturizer pada kulit berjerawat. Ketiga, kulit yang sehat adalah kulit yang putih. Dan yang terakhir, pemakaian krim eksfoliasi (pengelupas) pada kulit akan membuat kulit menjadi tipis. Saya ingin meluruskan, bahwa hal tersebut tidak benar. Skincare yang mahal tidak menjadi parameter, yang terpenting adalah memilih skincare yang cocok untuk jenis kulit dan sesuai indikasi kulit Anda. Kemudian, apapun jenis dan kondisi kulit Anda, moisturizer atau pelembab tetap harus digunakan. Namun yang harus diperhatikan adalah kandungan pada moisturizer yang dipilih. Pada kondisi kulit berminyak atau berjerawat, sebaiknya memilih moisturizer yang lebih banyak mengandung air dan bahan aktif yang membantu peyembuhan jerawat, seperti alpha hidroxy acid.

Nah, untuk hoax soal kulit sehat itu harus putih yang paling berbahaya. Putih itu belum tentu sehat. Akhirnya, orang berlomba-lomba untuk memutihkan kulitnya dengan memakai krim apapun yang bisa berefek putih secepat kilat atau hitungan hari. Perlu diperhatikan, kandungan krim “abal-abal” seringkali mengandung Mercury dan steroid yang berbahaya untuk kesehatan kulit. Yang terakhir, eksfoliasi atau pengelupasan kulit tentu diperlukan untuk mendapatkan kulit yang halus, bersih, dan sehat. Karena tahapan ini lapisan kulit terluar yang terdiri dari sel kulit mati akan dilepaskan. Pemakaian krim eksfoliasi ini juga dapat membantu regenerasi kulit dalam hal ini pembelahan sel kulit pada stratum basal di lapisan kulit atas (epidermis) menjadi lebih baik, mengatasi kelainan kulit ringan misalnya flek atau kulit yang kasar. Namun pemakaiannya harus tepat, jangan sampai kulit terasa perih karena terlalu kuat zat eksfoliasi yang digunakan dan frekuensi pemakaian terlalu sering. 

Selain penggunaan skincare, banyak pula yang menganjurkan untuk melakukan senam wajah. Apakah senam wajah memang dapat membantu menghilangkan permasalahan-permasalahan pada kulit wajah?
Manifestasi klinis dari penuaan wajah saat ini tidak hanya disebabkan oleh faktor intrinsik maupun faktor ekstrinsik (photoaging), tetapi juga karena berkurang atau hilangnya volume substruktural yang lebih dalam, yaitu massa lemak dan otot. Telah dilaporkan dari beberapa literatur bahwa senam wajah dapat memperbaiki kerutan dan kendur pada kulit wajah. Dari suatu penelitian pada tahun 2018 didapatkan bahwa senam wajah yang dilakukan selama 30 menit setiap hari atau selang sehari selama 20 minggu dapat memperbaiki bagian tengah wajah dan bagian bawah wajah. Mekanisme ini terjadi karena gerakan pada senam wajah membuat hipertrofi otot pipi dan otot lainnya. Penelitian lain menunjukkan bahwa terdapat peningkatan ketebalan otot wajah dengan pemeriksaan ultrasonografi yang disebabkan oleh senam wajah pada wanita paruh baya. Hal ini terlihat dari berkurangnya baik kerutan maupun kekenduran dari kulit wajah. Senam wajah dapat dilakukan sebagai alternatif prosedur medis untuk peremajaan kulit wajah, namun kekurangan dan kualitas bukti yang tersedia tidak cukup untuk menentukan apakah senam wajah ini sudah cukup efektif untuk mengurangi permasalahan kulit. Diperlukan penelitian dengan jumlah sampel lebih besar sebelum dapat ditarik kesimpulan tentang kegunaan senam wajah untuk peremajaan kulit wajah. Sehingga senam wajah sebaiknya dilakukan bersamaan dengan penggunaan skincare yang tepat, nutrisi makanan yang baik, olaraga teratur dan istirahat yang cukup akan membuat penampilan atau kondisi kulit berada dalam keadaan optimal dan mencegah premature aging.

Masuk kepada pokok pembahasan permasalahan kulit di masa pandemi. Baru-baru ini disebutkan terdapat gejala baru dari Covid-19 berupa munculnya ruam pada kulit seperti yang dialami oleh seorang selebritas. Apakah benar Covid-19 dapat menyebabkan permasalahan pada kulit? Apakah kondisi ini akan meninggalkan bekas permanen pada kulit? Apa ada cara atau solusi yang tepat untuk mencegah dan mengobatinya?
Lesi kulit dapat merupakan manifestasi potensial COVID-19 yang dapat terjadi pada 2%- 20% pasien COVID-19 dari semua golongan umur, baik pada dewasa maupun anak-anak. Lesi kulit yang dilaporkan hingga saat ini adalah ruam kemerahan (erythematous rash), urtikaria (biduran) livedo reticularis, lenting berisi cairan (vesicular lesions), petekie, dan chilblain-like lesions. Yang harus diketahui adalah lesi kulit ini bisa berdiri sendiri, tidak selalu berhubungan dengan COVID-19. Jika infeksi COVID-19 sudah teratasi, maka bersamaan dengan itu lesi kulit akan membaik tanpa meninggalkan bekas permanen. Upaya pencegahan untuk tidak timbul lesi kulit pada kasus COVID-19 tentunya belum ada. Kewaspadaan kita yang sebaiknya terus meningkat jika timbul lesi kulit dan disertai riwayat kontak dengan pasien COVID-19 atau disertai gejala demam, batuk, sesak nafas misalnya, jangan sampai lengah untuk berpikir ke arah COVID-19.

(Foto: Dok. Dr.Fitria Agustina, SpKK, FINSDV)

Protokol kesehatan yang paling utama untuk mencegah penyebaran virus COVID-19 adalah dengan mencuci tangan dengan sabun atau menggunakan hand sanitizer. Mana yang lebih baik bagi kulit kita, menggunakan hand sanitizer atau mencuci tangan dengan sabun?
Menjaga kebersihan tangan secara benar dengan mencuci tangan atau menggunakan pembersih berbasis alkohol (hand sanitizer) dapat mengurangi jumlah virus yang terdapat pada tangan yang terkontaminasi. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) merekomendasikan mencuci tangan dengan sabun dan air jika memungkinkan karena mencuci tangan dengan air dan sabun dapat mengurangi jumlah semua jenis kuman dan bahan kimia yang ada di tangan. Jika sabun dan air tidak tersedia, menggunakan pembersih tangan dengan konsentrasi akhir setidaknya 60% etanol atau 70% isopropil alkohol akan menonaktifkan virus SARS-CoV-2. Namun penggunaan hand sanitizer mungkin tidak efektif jika tangan terlihat kotor, kotor atau berminyak, jadi mencuci tangan dengan sabun dan air lebih baik dalam keadaan ini. Durasi yang disarankan WHO untuk seluruh prosedur cuci tangan berkisar tangan dengan air dan sabun antara 40 hingga 60 detik, dengan menggunakan teknik standar 7 langkah. Durasi untuk menggosokkan pembersih/sabun ke seluruh permukaan tangan kira-kira 20 sampai 30 detik. Untuk pemakaian hand sanitizer (hand rub) yang mengandung alkohol sebaiknya juga 20-30 detik digosokkan pada tangan.

Namun mencuci tangan dengan sabun dan penggunaan hand sanitizer secara terus menerus dapat menimbulkan kering pada kulit. Apa solusi terbaik mengatasinya?
Ya, frekuensi mencuci tangan dengan air dan sabun ataupun penggunaan hand sanitizer dengan frekuensi tinggi sering menimbulkan masalah pada kulit tangan seperti dermatitis kontak iritan. Kulit area punggung tangan, sela jari, bahkan pergelangan tangan terasa kering, gatal, hingga perih yang disertai lecet pada kulit. Untuk mencegah hal ini, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yang pertama memilih sabun pencuci tangan dengan pH yang sesuai dengan kulit (sekitar pH 5,5), sedangkan untuk hand sanitizer, pilih yang mengandung pelembab didalamnya misalnya aloe vera. Setelah mencuci tangan atau memakai hand sanitizer, segera gunakan pelembab (hand cream). Hand cream bisa digunakan sesering mungkin jika kulit tangan terasa kering. Jika sudah terjadi dermatitis kontak iritan pada kulit tangan (hand dermatitis) maka segera konsul ke dokter agar diberikan terapi pengobatan. Dan jika sudah sembuh, upayakan selalu pencegahan.

Berbagai merk hand sanitizer yang beredar di pasaran menawarkan beragam tingkat kadar alkohol yang berbeda-beda, bahkan ada yang mengandung 80% alkohol. Sebenarnya berapa persen kadar alkohol yang efektif untuk membunuh kuman? Apa ada dampak dan pengaruh pada kesehatan kulit kita?
Seperti yang sempat saya jelaskan di atas, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) merekomendasikan menggunakan pembersih tangan dengan konsentrasi akhir setidaknya 60% etanol atau 70% isopropil alkohol. Jika kandungan alkohol terlalu tinggi pada hand sanitizer maka risiko dermatitis kontak iritan akan lebih tinggi. Kulit menjadi kering yang akan berpengaruh terhadap sawar/barrier kulit yang menurun. Hal ini akan memudahkan untuk terjadinya keluhan gatal atau perih atau bahkan infeksi pada kulit.

Selain permasalahan kulit tangan yang kering, banyak orang yang mengalami permasalahan jerawat dan kulit kering, khususnya pada bagian yang tertutup masker. Apakah memang masker menjadi penyebab timbulnya permasalahan kulit ini? Apa solusi untuk mencegah atau mengobati permasalahan kulit tersebut?
Pemakaian masker dan kacamata yang berkepanjangan dapat menyebabkan efek samping berupa reaksi kulit seperti jerawat, dermatitis kontak, efek tekanan, gatal, kulit kering, urtikaria karena tekanan serta memperburuk apapun kondisi kulit yang mendasari. Untuk cara pencegahannya terbagi menjadi 3 tahapan, sebelum menggunakan masker, saat menggunakan masker dan sesudah menggunakan masker. 

Hal-hal yang sebaiknya diperhatikan sebelum memakai masker adalah menggunakan pembersih kulit yang lembut dengan pH balance kulit (mis pH 5.5) di awal dan akhir hari. Hindari penggunaan toner yang dapat mengeringkan kulit, pemakaian produk skincare dengan kandungan fragrance (pewangi) yang kuat karena akan meningkatkan risiko terjadinya dermatitis kontak alergi dan hindari menggunakan bahan eksfoliator berlebihan pada kulit karena bisa sangat mengiritasi. Selain itu, usahakan untuk tidak menggunakan kosmetik, gunakan kosmetik seperlunya saja, terutama pada area kulit yang tertutup makser agar kulit dapat bernafas. Penggunaan masker dapat membuat bagian kulit yang tertutup menjadi panas dan menyababkan kulit menjadi lebih mudah berkeringat dan berminyak. Penggunaan kosmetik dapat memperburuk kondisi tersebut. Kulit juga perlu dilembapkan secara teratur dengan memilih pelembap yang sesuai jenis kulit. Hindari pemakaian krim yang berminyak jika Anda memiliki kulit yang rentan berjerawat. Perlindungan terhadap matahari tetap diperlukan. Penggunaan tabir surya bisa berfungsi sebagai pelembab, jadi tidak perlu merangkap.

Hal-hal yang sebaiknya diperhatikan saat memakai masker adalah selalu mengunakan pembersih tangan sebelum mengaplikasikan masker, dan hindari menyentuh masker bagian luar, karena tangan dapat terkontaminasi oleh virus. Untuk mengurangi gesekan kulit dengan masker, jangan memakai masker dengan tali terlalu kencang dan Anda bisa mengoleskan lotion pelembab setidaknya 30 menit sebelum pemakaian masker untuk melumasi dan mengurangi gesekan antara kulit dan masker. Dan yang terakhir, meminimalkan waktu pemakaian masker sebanyak mungkin dan sebaiknya setiap beberapa jam biarkan kulit beristirahat selama 5 menit. Namun perlu diingat, membuka masker diperkenankan bila Anda berada ditempat yang jauh dari keramaian. 

Hal-hal yang sebaiknya diperhatikan setelah memakai masker adalah berhati-hati pada saat membuka masker, jangan menyentuh bagian luar masker, cara melepaskan masker yang tepat adalah dengan memegang tali pengikatnya. Gunakan pembersih tangan setelah melepaskan masker. Selain itu Anda perlu ,melembabkan kulit yang tertutup masker pada malam hari, khususnya bila kulit memiliki gejala iritasi. Sering-sering memperhatikan kondisi kulit wajah Anda secara teratur untuk mencari tanda-tanda iritasi seperti kemerahan / kulit bersisik. 

Kabarnya paparan sinar matahari merupakan salah satu penyebab utama permasalahan kulit, sedangkan selama masa pandemi, kita disarankan untuk berjemur. Apakah perlu menggunakan sunscreen sebelum berjemur di pagi hari?
Berjemur yang disarankan pada masa pandemi ini bertujuan untuk meningkatkan pembentukan vitamin D dari bentuk pro vitamin D yang terdapat di kulit. Karena vitamin D bermanfaat dalam meregulasi respons imunitas tubuh baik respons imunitas bawaan (innate immunity) maupun yang didapat (adaptive immunity). Defisisensi vitamin D berhubungan dengan peningkatan penyakit autoimun dan kemungkinan terjadinya infeksi. Paparan sinar matahari yang berlebihan memiliki dampak yang kurang baik pada kulit. UVA dapat menginduksi pembentukan reactive oxygen species (ROS) pada kulit dan UVB dapat menyebabkan kulit kemerahan yang biasa terjadi pada kondisi sun burn. Untuk mendapatkan manfaat dari sinar matahari, maka saat kita terpapar atau sengaja memaparkan diri perlu memperhatikan indeks ultraviolet pada area tempat kita berjemur. Karena akan berbeda setiap area, bergantung pada jam dan posisi matahari. 

'Global Solar UV Index - a practical guide' (Foto: World Health Organization (WHO))

Dengan indeks UV 1-2 kita bisa berjemur tanpa proteksi, namun untuk indeks UV 3-7 diperlukan proteksi berupa topi, suncreen dan berpakaian. Tidak disarankan berjemur pada indeks UV 8 keatas karena akan berbahaya untuk kulit, seperti meningkatkan risiko terjadinya photoaging, menurunnya imunitas kulit, dan kanker kulit. Untuk mendapatkan hasil berjemur yang bermanfaat, Anda bisa melakukan tips berjemur untuk orang Indonesia dewasa berikut: berjemur di pukul 09.00 WIB (bergantung pada Indeks UV setiap wilayah), jangan berjemur pukul 10.00-14.00 WIB (cek Index UV) karena kulit dapat terbakar sinar matahari dan terjadi penurunan imunitas kulit. Durasi berjemur cukup 5-15 menit saja, jangan sampai kulit memerah karena itu berarti sudah terjadi efek sunburn. Frekuensinya cukup  2-3 kali dalam seminggu. Cukup menjemur kedua lengan dan tungkai, hindari area kepala dan leher. Dilarang berjemur jika memiliki kulit yang sensitif dengan sinar matahari.


"COVID-19 bukanlah penyakit menular seksual..."
- dr.Fitria Agustina, SpKK, FINSDV, Vice Secretary of PERDOSKI
 

Selain permasalahan kulit, Virus COVID-19 diketahui dapat menyebar lewat tetesan atau percikan air liur yang keluar dari mulut pengidap saat bersin atau batuk. Lalu, bagaimana dengan melakukan hubungan intim? Apakah aman berhubungan intim selama masa pandemi?
Transmisi virus COVID-19 melalui transmisi kontak, droplet (percikan), melalui udara (airborne), fomit (barang yang terkontaminasi), fekal-oral, melalui darah, dan binatang ke manusia. Sebagian besar penelitian menunjukkan bahwa SARS-CoV-2 tidak terdeteksi dalam air mani dan penularan melalui air mani bukan merupakan jalur yang memungkinkan. Didapatkan bahwa semua sampel air mani yang diperoleh pada tahap infeksi akut pada pasien COVID-19 (swab nasofaring positif untuk SARSCoV-2), virus tidak dapat dideteksi dalam air mani. COVID-19 bukanlah penyakit menular seksual. Namun transmisi dapat terjadi ketika berciuman karena menyebarkan infeksi melalui kontak langsung dengan air liur dan juga menghirup udara nafas pasangan, karena kontak sangat dekat yang jelas.

Apakah ada tindakan preventif yang harus dilakukan bila ingin melakukan hubungan intim selama masa pandemi?
Berhubungan seksual selama masa pandemi aman, asalkan selalu memperhatikan hal-hal berikut ini: Jangan berganti-ganti pasangan dan hindari berciuman. Penggunaan kondom dan dental dams dapat mengurangi kontak dengan air liur, air mani atau feses yang terbukti mengandung virus. Jika menggunakan sex toys, cuci terlebih dahulu dengan bersih. Selain itu Anda harus mandi sebelum dan sesudah berhubungan seksual. Jangan mengunakan air panas, kalau pun menggunakan air hangat boleh saja dengan suhu tidak lebih dari 37 derajat celcius agar kelembapan alami kulit tetap terjaga. Jangan menyentuh mata, hidung, mulut atau pasangan Anda atau tangan yang belum dicuci. Bila memungkinkan, kenakan masker atau penutup wajah yang menutupi mulut dan hidung untuk memberikan lapisan perlindungan saat bernafas. Anda juga perlu melakukan eksplorasi kreatif atau inovasi posisi seksual untuk menghindari kontak tatap muka untuk membatasi paparan virus. Pilih ruang yang terbuka, besar, dan berventilasi baik. Dan yang paling penting, hindari aktivitas seksual jika salah satu pasangan mengalami demam, batuk atau sakit. 

Sebagai penutup, apa ada tips yang bisa Anda share dengan pembaca CLARA terkait perawatan kulit selama masa pandemi?
Untuk menjaga kulit tetap sehat selama masa pandemi, Anda bisa melakukan tips-tips yang saya jelaskan sebelumnya dan jangan lupa untuk selalu menjaga kesehatan kulit dengan membersihkan kulit baik wajah maupun badan. Selain itu, olahraga teratur tetap perlu dilakukan minimal 150 menit seminggu untuk menjaga kesehatan tubuh termasuk kulit, karena kerja jantung akan baik dan supply nutrisi yang sampai ke jaringan kulit pun akan lebih baik. Pastikan juga Anda melakukan istirahat yang cukup dengan tidur 8 jam sehari akan membuat semua sel di dalam tubuh bisa bekerja optimal. Dan yang terpenting, selalu menjalankan 3M, yaitu mencuci tangan, menjaga jarak, dan memakai masker.

 

Klik di sini untuk menyaksikan wawancara bersama dr. Fitria Agustina, SpKK, FINSDV.