Di Balik HARSA, Ada Kebahagiaan yang Tidak Tergesa

Menutup rangkaian JF3 Fashion Festival 2026, LAKON Indonesia mempersembahkan HARSA.

Ada sesuatu yang hampir selalu luput ketika kita berbicara tentang fashion: waktu. Di balik sebuah siluet yang tampak sederhana, tersimpan rangkaian proses yang panjang, tangan yang bekerja, material yang dipilih, detail yang dikerjakan berulang kali, hingga gagasan yang perlahan menemukan bentuknya. 

Di tengah semuanya yang bergerak semakin cepat, LAKON Indonesia memilih untuk memperlambat langkah. Bukan untuk berhenti, melainkan untuk melihat kembali apa yang membuat perjalanan ini berarti.

Pada penghujung BRI - JF3 Fashion Festival 2026 kemarin, LAKON Indonesia mempersembahkan HARSA, sebuah koleksi yang mengambil namanya dari bahasa Sanskerta, berarti kebahagiaan. Kebahagiaan yang dimaksud bukanlah euforia pada garis akhir. Ia justru ditemukan dalam perjalanan: pada proses yang panjang, tangan yang terus bekerja, dan keberanian untuk tetap berkarya meski hasil akhirnya belum terlihat.

HARSA melanjutkan narasi yang sebelumnya dibangun melalui koleksi Urub dan Pasar Malam. Bila Urub hadir dengan semangat yang menyala dan Pasar Malam merayakan kehidupan serta pertemuan di dalamnya, kali ini LAKON mengarahkan pandangannya ke sesuatu yang lebih intim: proses menciptakan itu sendiri. 

Di tangan Creative Director Irsan, yang kini memasuki koleksi kesembilannya bersama LAKON Indonesia, gagasan tersebut diterjemahkan ke dalam siluet yang lebih lembut, ringan, dan elegan. Setelah mengeksplorasi pendekatan streetwear di koleksi sebelumnya, HARSA bergerak menuju wilayah daily wear hingga daily wear deluxe, memperlihatkan sisi LAKON Indonesia yang lebih refined tanpa kehilangan karakter fungsionalnya.

Batik dan bordir karya tangan Indonesia tetap menjadi denyut utama koleksi. Namun alih-alih membiarkannya tinggal sebagai simbol tradisi, LAKON menerjemahkannya melalui bahasa yang lebih modern: permainan proporsi, konstruksi, serta pertemuan material seperti katun poplin, katun voile, satin duchess, dan organza. Sebanyak 36 tampilan kemudian hadir dalam gestur yang ringan dan kontemporer, menawarkan gagasan tentang kemewahan yang tidak datang dalam bentuk yang berlebihan, melainkan melalui detail yang perlahan dapat ditemukan. 

“Sebuah karya tangan membutuhkan waktu, kesabaran, ketelitian, dan hati. Justru di situlah letak nilainya.”

Pernyataan Thresia Mareta, Founder LAKON Indonesia, menjadi semacam benang merah dari keseluruhan koleksi. Selama delapan tahun membangun LAKON, ia belajar bahwa kebahagiaan tidak hanya hadir ketika sebuah karya selesai. Ia tumbuh di sepanjang proses: dalam diskusi, eksperimen, tantangan, hingga melihat sebuah gagasan berkembang menjadi sesuatu yang nyata. 

Untuk presentasinya, LAKON Indonesia mempertemukan karyanya dengan Euneun, label tas asal Korea Selatan yang dikenal melalui pendekatan desain yang elegan dan fungsional. Koleksi Euneun melengkapi tampilan HARSA di runway JF3, menciptakan pertemuan visual yang memperlihatkan bagaimana craftsmanship dapat menjadi bahasa universal yang melampaui batas geografis.

Pendiri Euneun sekaligus aktris Korea Selatan, Hahm Eun-jung, turut hadir di Jakarta untuk menyaksikan presentasi tersebut. Kehadirannya memperluas narasi HARSA menjadi sebuah dialog lintas budaya yang bukan semata tentang menciptakan sesuatu bersama, tetapi tentang menemukan kesamaan dalam cara dua kultur menghargai kualitas, keterampilan, dan karakter sebuah karya.

Sebagai koleksi penutup BRI - JF3 Fashion Festival 2026, HARSA pun terasa seperti sebuah kesimpulan yang tidak benar-benar ingin menjadi akhir. Ia sejalan dengan gagasan Re-Crafted: Shaping the Future, bahwa masa depan fashion Indonesia tidak harus berarti memutus hubungan dengan masa lalu. Justru sebaliknya, masa depan dapat dibentuk dengan membawa pengetahuan, keterampilan, dan akar budaya ke dalam bahasa yang terus bergerak.

Mungkin itulah mengapa HARSA terasa lebih dari sekadar koleksi penutup sebuah festival. Ia adalah pengingat bahwa fashion tidak hanya dibangun dari apa yang terlihat di runway, tetapi juga dari waktu yang tidak terlihat, tangan-tangan yang bekerja dalam diam, dan proses panjang yang sering kali tidak ikut masuk ke dalam frame. Jika kita mau melihat sedikit lebih dekat, di sanalah letak kemewahan yang sesungguhnya: waktu yang diberikan kepada sebuah karya untuk menjadi dirinya sendiri.

Di situlah HARSA menemukan kebahagiaannya.

Foto: Dokumentasi Resmi LAKON Indonesia & BRI - JF3 Fashion Festival 2026.