Day One Versus Day 100

It is simply incomparable

Beberapa waktu terakhir, saya semakin membiasakan diri untuk berolahraga. Karena bukan tipe orang yang dapat melakukan home-workout, saya lebih memilih untuk mengunjungi studio kebugaran, seperti yoga, barre, TRX, hingga bootcamp. Akibatnya, saya kebingungan sendiri melihat orang lain dengan mudah melakukan setiap gerakan yang diperagakan oleh sang instruktur. Bagaimana tubuh mereka mampu membentuk posisi tertentu dan mereka tampak tidak terengah-engah melakukannya. Saya? Boro-boro memikirkan posisi tubuh, tidak tumbang saja syukur. 

Minder? Sudah pasti. Mungkin saya memang tidak berbakat melakukan olahraga jenis itu. Mungkin saya memang harus cukup dengan jalan kaki mengelilingi komplek. Untuk apa mempermalukan diri di tengah keramaian orang yang sudah biasa dengan olahraga itu. Eh, sebentar. Sudah biasa. Ah, ya. Mereka sudah biasa. Saya tidak. Saya belum terbiasa. The first time is always the hardest. Mungkin mereka sudah melakukannya berpuluh kali, atau bahkan beratus kali. Mungkin itu sudah menjadi kebiasaan, bukan sekadar penasaran seperti yang saya rasakan. 

Pola pikir saya pun berubah setelah menyadari hal tersebut. Saya berhenti membandingkan diri dengan mereka yang memang sudah piawai. Saya tak lagi merasa malu. Mereka yang sudah melalui proses panjang juga pasti paham bahwa saya adalah seorang pemula. Mereka tidak membandingkan diri dengan saya yang masih mencoba-coba. Mengapa saya harus membandingkan diri dengan mereka?

Yang saya sadari adalah tidak ada satu pun manusia di ruangan itu yang menertawakan saya. Mereka bahkan tidak pusing dengan apa yang saya lakukan dan fokus pada dirinya masing-masing. Seolah menyadari bahwa setiap manusia memiliki tantangannya sendiri di waktunya sendiri. Kemudian, apa yang menjadi sulit di hari pertama bahkan tidak lagi terasa sulit di hari ketiga. Hari ketiga memiliki tantangannya sendiri. Begitu pun seterusnya.

Demikian halnya dengan proses kehidupan secara keseluruhan. Rasanya sulit ketika melihat bisnis seseorang berjalan begitu lancar dan pesat. Sulit ketika melihat hubungan rumah tangga yang berjalan lebih dari sepuluh tahun begitu harmonis. Sulit ketika melihat orang lain lebih ini dan itu.

Permasalahannya adalah di perbandingannya. Anda tidak bisa membandingkan hari pertama Anda dengan hari ke-100 milik orang lain. Banyak proses yang telah dilalui untuk mencapai titik di mana ia berada saat ini. Mereka sudah melalui proses yang sedang Anda lalui. Masa iya baru menjalankan bisnis selama sebulan lalu membandingkan diri dengan toko sebelah yang sudah berjalan selama bertahun-tahun. Masa iya baru mulai belajar yoga lalu sudah bisa membentuk pose supta kurmasana? Anda bahkan tidak tahu itu apa, bukan? 

Seriously, the challenge is to stop comparing yourself to others. The challenge is simply to be the better you. You'll face failure, but you'll fail forward. And, that is what matters.