Corona Virus and I

Ini sebuah cerita bagaimana pandemi corona virus membuat saya seperti sedang dalam ruang pengakuan dosa.

Sampai akhir bulan Februari 2020 saya tak pernah takut dengan isu virus corona atau Covid-19 yang telah membuat dunia nyaris lumpuh. Tetapi di awal bulan Maret karena beritanya semakin gencar dan membombardir whatsapp grup saya yang berjumlah 30 itu, kekederan saya mulai muncul. Saya tak mau bercerita soal ketakutan karena tak ada gunanya, tetapi saya mau bercerita kalau pandemi ini telah membuat saya  tahu kualitas saya yang sesungguhnya, yang ternyata jauh dari apa yang saya pikir selama ini.

1. Waktu pemerintah mengatakan supaya tidak berkumpul di tempat ramai, dan kemudian saya membaca bahwa banyak orang pergi berlibur ke puncak dan tetap masih ada yang melakukan olahraga saat car-free day, saya jengkelnya setengah mati. Tetapi setelah itu saya menyadari bahwa dalam hidup saya setiap hari sebelum pandemi ini terjadi, saya juga selalu senangnya melanggar aturan main. Saya tak pernah mau belajar untuk mencegah tetapi selalu senangnya mengobati. Selama malapetaka tidak terjadi pada saya, saya tak peduli.

2. Saya baru tahu kalau saya itu bukan warga negara yang baik, yang mungkin cintanya perlu diragukan. Dengan datangnya pandemi awalnya saya mau pindah saja ke negara lain sama seperti terjadi kerusuhan beberapa belas tahun lalu. Tetapi ketika saya membaca bahwa beberapa negara sudah menutup pintunya rapat-rapat dan serangan virus corona juga terjadi juga di negara lain, saya tak bisa kemana-mana.
Pada saat itulah saya dipaksa berpikir untuk tidak melarikan diri setiap kali saya punya masalah. Mencintai itu perlu perjuangan dan tahan banting. Mencintai itu bentuknya tidak selalu yang menghadirkan ketenangan dan kestabilan, tetapi juga guncangan yang justru mengujii apakah cinta saya itu sekualitas berlian terbaik di dunia.

3. Untuk pertama kalinya saya menyadari bahwa doa-doa yang saya panjatkan selama ini adalah untuk mengamankan saya dari pencobaan bahkan kalau bisa Tuhan menjauhkan saya dari cobaan apapun itu. Kemudian datanglah pandemi ini. Setiap hari teman saya yang pendeta atau teman-teman saya yang seiman mengirimkan ayat-ayat alkitab untuk menyakinkan saya tak perlu takut. Saya kesal dibuatnya, saya bahkan tak lagi membaca dan langsung menghapusnya. Pandemi ini telah mengajarkan saya untuk rela mati bahkan ketika Tuhan tak membuat saya sembuh.
Pandemi ini telah membuka pikiran saya yang utama itu bukan soal sembuh tapi soal kerelaan mencintai Tuhan dalam segala keadaan. Saya mau mati dengan mencintai Tuhan, bukan mencintai ego saya yang kelewat besar itu.