Yogyakarta atau Jogja telah lama menjadi salah satu kota yang penting dalam lanskap seni dan budaya Indonesia. Di kota ini, tradisi Jawa hidup berdampingan dengan praktik seni kontemporer yang terus berkembang melalui galeri, ruang alternatif, studio seniman, hingga institusi budaya. Perpaduan antara akar tradisi dan semangat eksperimentasi inilah yang membuat Jogja selalu menawarkan cara baru untuk melihat seni. Berangkat dari kekayaan tersebut, Yogyakarta Art Trip hadir sebagai sebuah cultural journey untuk mengeksplorasi lanskap seni, budaya, dan kreativitas Jogja. Sebagai bagian dari tim redaksi CLARA, saya berkesempatan mengikuti rangkaian perjalanan ini yang digelar bersama Artsphere Gallery Jakarta pada 10 hingga 13 Juli 2026.
Pengalaman artistik sudah terasa sejak kami tiba di ARTOTEL Suites Bianti Yogyakarta. Karakter seni yang hadir di berbagai sudut hotel menjadikan karya bukan sekadar elemen dekoratif, tetapi bagian dari pengalaman ruang. Kunjungan kemudian berlanjut ke ARTJOG 2026 melalui guided tour bersama Maya Sujatmiko. Tahun ini, ARTJOG mengangkat tema Ars Longa Generatio, yang berbicara mengenai bagaimana seni bertahan, berubah, dan diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Kehadiran 96 seniman dari berbagai latar memperlihatkan luasnya percakapan tersebut, termasuk melalui ARTJOG Kids yang menghadirkan karya 52 anak dan remaja berusia 6 hingga 15 tahun.
.png)
Foto: Dok. ARTJOG 2026 & Museum of Toys
ARTJOG 2026 menggandeng seniman lukis Indonesia yang menetap di Yogyakarta, Roby Dwi Antono, untuk menerjemahkan tema tersebut melalui instalasi fasad berskala besar, patung, dan ruang imersif. Karya-karya ini memperkuat gagasan tentang keberlanjutan seni, sekaligus menunjukkan bagaimana gagasan artistik terus menemukan bentuk baru dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Foto: Dok. Agan Harahap & ara contemporary
Menjelang malam, perjalanan membawa kami pada karya fotografi Agan Harahap dan Vivien Poly di Mediterranea Restaurant by Kamil. Pameran The Maestro’s Eyes, yang dikurasi oleh Angki Pu dan Kamal, menjadi salah satu pertemuan menarik antara teknologi, sejarah seni, dan ingatan. Melalui teknologi artificial intelligence (AI) sebagai “kamera fiktif”, Agan merekonstruksi lukisan klasik Indonesia menjadi fotografi yang tampak nyata, sebelum hasilnya kembali diwujudkan secara fisik melalui teknik screenprint. Karya tersebut kemudian mempertanyakan kembali batas antara fakta dan fiksi dalam fotografi di era AI, sekaligus mengajak kita melihat sejarah melalui kemungkinan-kemungkinan baru.

Foto: Dok. Yogyakarta Art Trip
Keesokan harinya, kami berkesempatan mengenal lebih dekat praktik artistik Mella Jaarsma melalui kunjungan ke studionya. Seniman Belanda-Indonesia ini telah menetap di Yogyakarta sejak 1984. Praktiknya banyak mengeksplorasi tubuh, kostum, identitas, serta isu sosial dan politik. Dari sana, kunjungan dilanjutkan ke Cemeti Art House untuk melihat Pulse of Ritual karya Citra Sasmita. Pameran ini mempertemukan tradisi, spiritualitas, mitologi, serta sejarah kolonial dalam sebuah perjalanan visual yang terus bergerak dari masa lalu menuju masa kini. Sebelum melanjutkan eksplorasi, kami menikmati makan siang di GalaRasa, restoran kontemporer yang memadukan cita rasa Nusantara dengan penyajian yang modern. Perjalanan hari kedua pun berlanjut ke Kiniko Art, Sangkring Art Space, Gajah Gallery, hingga Srisasanti Gallery, dengan masing-masing ruang menawarkan pengalaman dan perspektif yang berbeda.
.png)
Foto: Dok. Sangkring Art Space & Kiniko Art
Di Kiniko Art, kami menemukan suasana galeri yang sejuk dan asri, memberikan pengalaman yang menangkan untuk menikmati pameran yang sedang berlangsung, termasuk karya Jalaini Abu Hassan yang dikurasi oleh Alex Luthfie R., serta pameran kelompok Rimpang Rasa hasil kolaborasi dengan Zen1 Gallery. Kunjungan berlanjut ke Sangkring Art Space, ruang eksperimental yang didirikan Putu Sutawijaya, dengan beragam karya mulai dari miniatur Vespa berbahan koran dan replika atap rumah bertuliskan “MBG” hingga lukisan dengan permainan tekstur dan warna yang menyimpan makna tersirat.
.png)
Foto: Dok. Artsphere Gallery & Srisasanti Gallery
Gajah Gallery memperlihatkan perannya sebagai salah satu ruang yang mendukung praktik seni kontemporer dari Asia Tenggara, melalui pameran, publikasi, hingga kolaborasi internasional yang membuka ruang bagi seniman untuk merespons isu budaya dan sosial. Sementara, Srisasanti Gallery menghadirkan Gathering/Ground/Gesture, pameran kelompok yang melibatkan 14 seniman dari Indonesia dan mancanegara. Mengangkat gagasan tentang kedekatan, hidup berdampingan, dan pertukaran, pameran ini menempatkan pertemuan dalam ruang bersama sebagai bagian penting dari pengalaman melihat seni. Kehadiran kedua galeri ini melengkapi perjalanan dengan perspektif berbeda tentang bagaimana karya, seniman, dan gagasan dapat terus berkembang melalui sebuah ruang. Hari kedua kemudian ditutup dengan makan malam di Masama yang digelar bersama Srisasanti Gallery.

Foto: Dok. Artsphere Gallery & Mandala View
Memasuki hari terakhir, perjalanan bergerak menuju Magelang untuk mengunjungi OHD Museum, koleksi pribadi Oei Hong Djien yang berfokus pada seni modern dan kontemporer Indonesia. Di sini, aktivitas mengoleksi seni terasa sebagai sebuah proses yang personal, dibentuk oleh pengalaman dan perjalanan panjang seorang kolektor. Usai kunjungan ke OHD Museum, kami menuju Artotel Leguna Magelang untuk makan siang. Hotel yang baru diresmikan pada April lalu ini menarik perhatian melalui karya arsitektur Andra Matin yang terinspirasi dari bentuk dan struktur teras serta stupa Borobudur.
Kemudian, kunjungan berlanjut ke Mandala View, rumah kolektor Emmo dan Narcisse Italiander yang memadukan koleksi seni, desain, dan arsitektur. Furnitur Italia kontemporer berdampingan dengan kabinet keraton Jawa abad ke-19, sementara karya patung modern, Bali, Jawa, dan tribal berpadu dengan objek etnografis. Area masuk mengarah ke foyer dengan kolam refleksi dan air mancur, sementara bagian luar dikembangkan sebagai taman botani sekaligus taman patung, dengan karya berukuran besar menjadi bagian dari lanskap.

Foto: Dok. Ning Artspace & Suanjaya Kencut
Setelah itu, kunjungan dilanjutkan ke Ning Artspace untuk mengunjungi studio seniman Suanjaya Kencut, salah satu perupa kontemporer Indonesia yang terhubung dengan ruang seni tersebut. Kunjungan ini juga bertepatan dengan pameran kelompok L’art pour la vie yang dikuratori Nurudin Sidiq Mustofa. Rangkaian hari kemudian ditutup dengan makan malam di Warung Bu Ageng, rumah makan khas Jawa yang dikenal dengan suasana tradisionalnya di kawasan Tirtodipuran, Yogyakarta.
Selama tiga hari, Yogyakarta Art Trip mengajak menelusuri beragam sisi kehidupan seni di Jogja. Dimulai dari ARTJOG 2026, perjalanan berlanjut ke studio seniman, galeri, hingga rumah kolektor, dengan setiap kunjungan menawarkan cerita dan sudut pandang yang berbeda. Dari sana, terlihat bagaimana seni terus menjadi bagian dari kehidupan kota, tumbuh berdampingan dengan tradisi, kreativitas, dan gagasan-gagasan baru.