Traveling to a Whole New Phase of Life

I know that there are a lot of moments that feel like the end of life. But, every end leads us to another beginning. The end is not the end. And, you know what? The end never ends.

2019 just ended. A whole new decade has just started. 2020. Kalau saja ayah masih ada, tepat pada malam pergantian tahun, ia pasti berpartisipasi menghiasi langit dengan kembang api warna warni. Ah, ya, ia sudah tiada. 28 November 2019, ia berpulang kepada yang maha kuasa. Tahun baru dibuka dengan rasa duka. Menatap langit yang berwarna malah membawa tetesan air jatuh dari mata. Gempita malah berteman hati yang hampa. Ayah suka kembang api, ia selalu suka. Namun, kini ia tiada. 

Sebentar. Tulisan saya tidak hanya sekadar curahan hati belaka. Saya kira hidup saya ikut berakhir ketika ayah saya menutup mata selamanya. Hari itu, tubuh kaku yang semakin membeku di atas salah satu ranjang ruangan rumah sakit sungguh terasa seperti hukuman mati. Rasa bingung, takut, sedih, marah, semua bercampur menjadi satu. Ya, saya kira hari itu hidup saya berhenti memiliki makna. I thought it was the end. But, the truth is, that end is not the end. Here I am, still alive. Here I am in a whole new decade. 

So, all I can say is, I am traveling into a new phase of life. I am traveling into an unknown. Ya, saya sedang berjelajah ke suatu fase dalam hidup yang sungguh tidak familier. Ke suatu masa yang tidak pernah saya alami sebelumnya. Menjalani hidup dengan sesosok ayah selama 22 tahun, 11 bulan, dan 13 hari. And, one day, he is gone. So, I am traveling to a whole new phase of life. A father-less life. 

Misalnya saja, Kota Singkawang yang menjadi tempat perjumpaan saya dengan ayah sejak ia memutuskan untuk berhenti bekerja di ibu kota. Perjalanan dua jam di udara dan tiga jam di darat tidak menjadi masalah karena saya tahu bahwa ada sosok ayah yang akan saya peluk sebagai hadiahnya. And, one day, he's gone. Nothing's left. Oh, ada. Yang tersisa adalah kebun yang biasa ia kerjakan sejak pagi hari. Atau, pakaiannya yang masih tersusun rapi di dalam lemari. Atau, kursi di meja makan yang selalu ia tempati. Dua kali saya memimpikannya di sini. Dan, di kedua mimpi itu pun ia telah pergi. 

I know that there are a lot of moments that feel like the end of life. It can be an end of a relationship, end of a career, or everything else. But, every end leads us to another beginning. The end is not the end. And, you know what? The end never ends. There will always be another end. If the 22-year-old me can survive losing a dad who was very close to me, I know that I can survive everything else in this world. So, I guess here is to many more ends in the future!