To the Author of Our Heartbreaks' Songs, Our Hearts Are Now Breaking for This Loss

Rest in Peace, Glenn Fredly. You will remain in our hearts.

"Glenn Fredly meninggal..," kata seseorang di grup WhatsApp. Saya berhenti dari kegiatan yang saya lakukan untuk mencari tahu kebenarannya melalui Google. Tenang, tidak ada berita sama sekali, pasti hoax. Namun, pesan yang terus berdatangan di grup semakin membenarkan kabar tersebut. Saya kembali ke mesin pencarian, dan berita mulai bermunculan. Media sosial juga mulai dipenuhi ucapan kepedihan atas berpulangnya salah satu musisi terbaik Tanah Air. 

Tahun 2020 sungguh terasa seperti sebuah sandiwara. Sayangnya, tidak ada yang tertawa. Terlalu banyak bencana sehingga justru tampak seperti sedang bercanda. Terlalu banyak rasa duka. Kehilangan yang satu ini rasanya menggores hati sebagian besar jiwa. Suara yang menemani begitu banyak hati yang terluka. Mulai dari seseorang yang masih berseragam abu-abu hingga seorang ibu dengan dua anak yang sudah masuk ke bangku sekolah dasar. Atau, bahkan seorang pria yang berusia kepala delapan. Lintas generasi, memang. Semua merasakan kepedihan yang sama. Mungkin beberapa ada yang berkata, "Ah, berlebihan". Namun, berapa banyak yang hari-hari patah hatinya diselamatkan oleh suara menenangkan milik sang musisi, Glenn Fredly? Saya salah satunya. 

Lagu yang membuat saya sadar bahwa patah hati adalah suatu hal yang tidak terelakkan. Siap mencintai berarti siap terluka. Kabar baiknya? Saya tidak sendiri. Semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk terluka. Dan, Glenn Fredly pun berperan di sini. Lagu miliknya berhasil mewakili perasaan yang sulit diungkapkan. Januari, Akhir Cerita Cinta, Terserah. Sudah berapa lama lagu itu berkumandang? Dan, masih indah didengar hingga detik ini. Lagu-lagu yang ia ciptakan setelahnya pun bersifat konsisten, baik solo maupun duet, lagu yang memang "Glenn Fredly". 

Memang, sebagian besar yang kehilangan pun tidak mengenalnya secara personal. Hanya sekadar hubungan antara fans dan idola. Terpisah jarak antara panggung dan baris penonton. Namun, nyatanya hari kepergiannya ini pun memunculkan beragam testimoni mengenai kehidupan sang musisi. Banyak yang bercerita tentang kerendahan hatinya. Tentang kecintaannya pada musik dan pada Indonesia. Bagaimana ia selalu mengusahakan yang terbaik di setiap kesempatan yang ada. Glenn Fredly adalah nama besar dengan hati yang besar. Sungguh. 

Lucunya (iya, sarkastik), ia bahkan harus berpulang di tengah pandemi. Di saat pemerintah bahkan mengeluarkan peraturan bahwa pemakaman bukan pasien Covid-19 hanya dapat dihadiri oleh 20 orang. Bagaimana mungkin? Tega sekali rasanya. 20 adalah nominal yang sangat kecil mengingat betapa besar sosok ini. Bahkan mungkin ada banyak keluarga, kerabat dekat, atau mereka yang adalah pengikut setia Glenn Fredly tidak dapat mengantarkannya ke peristirahatan terakhir. Tega sekali sandiwara ini. Hahaha.

2020, cukup sudah dengan semua kepedihan ini. Semoga tidak bertambah lagi. Teruntuk Glenn Fredly, karyamu dan pribadimu akan senantiasa terekam manis di dalam hati setiap pribadi yang berhasil tersentuh sepanjang hidupmu. Rest in peace, Champion. You have fought a good fight, you have done your race.