Kasus kekerasan seksual, khususnya pada kaum perempuan semakin kian terjadi, meski di zaman modern sekarang ini. Berbagai platform media sosial dan aplikasi dating online kerap kali menjadi salah satu media bagi para predator seksual menjalankan aksinya. Lalu, apa yang sebenarnya dimaksud dengan kekerasan seksual? Sampai mana batasan suatu tindakan dapat dikatakan sebagai kekerasan seksual? Dan apa yang dapat dilakukan untuk mencegah atau melawan kekerasan seksual ini terjadi kepada diri Anda atau orang-orang yang Anda sayangi?

Pada kesempatan kali ini, CLARA mengundang Poppy Dihardjo, seorang penggiat isu perempuan yang aktif melawan kekerasan seksual dan stigma pada kaum perempuan Indonesia lewat konten yang edukatif dan inspiratif di sosial media. Bersama dengan para penggiat isu perempuan lainnya, Poppy membentuk No Recruit List, suatu layanan atau platform untuk perempuan yang mengalami atau melihat adanya kekerasan seksual, sehingga mereka dapat meminta bantuan bila mengalami kejadian tersebut. Semua pertanyaan seputar kekerasan seksual pada perempuan akan di jawab oleh Poppy lewat perbincangan singkat berikut. 

(Foto: Dok.No Recruit List)

Bagaimana tanggapan Anda terkait kasus kekerasan seksual di Indonesia? Apakah pandemi mempengaruhi angka terjadinya kasus kekerasan seksual? Semakin tinggi atau justru semakin berkurang?
Ya, kejadian kekerasan seksual meningkat setiap tahunnya dan di masa pandemi menjadi lebih tinggi. 

Sebelum masuk lebih dalam, apa yang dimaksud dengan kekerasan seksual? Sampai pada tahap mana suatu tindakan dinyatakan sebagai kekerasan seksual?
Jawabannya cuma satu, paksaan. Apa pun yang berhubungan dengan seksualitas yang dipaksakan, itu sudah termasuk dalam kekerasan seksual.

Apa yang menjadi inspirasi atau dorongan Anda untuk aktif melawan kekerasan seksual pada perempuan? 
Saya sendiri merupakan korban dari kekerasan seksual. Saat itu saya merasa sendirian dan tidak akan ada orang yang akan mendengar atau mempercayai saya, sehingga saat itu saya memilih untuk diam dan tidak menceritakan hal ini kepada siapapun. Dari situ lah saya berpikir, jika korban dari kekerasan seksual memiliki support system maka mereka tidak akan merasa sendiri, sehingga mereka bisa lebih berani untuk menyuarakan pengalaman mereka dan bisa membuat mereka lebih cepat menyintas kejadian tersebut. Pengalaman saya tersebut  yang menjadi dorongan saya untuk melakukan kegiatan ini. 

So sorry to hear that! Apa alasan korban kekerasan seksual tidak melakukan perlawanan? Apakah karena takut, diancam atau ada alasan lain?
Berdasarkan pengalaman saya, saat kejadian tersebut saya tidak bisa melakukan apa-apa. Otak saya seperti blank, dan saya hanya bisa berpikir just get this over! Saya pun baru tahu setelah saya aktif bergerak melawan isu kekerasan seksual, bahwa ada istilah yang disebut sebagai tonic immobility. Tonic immobility adalah kondisi dimana tubuh kita bereaksi terhadap kejadian yang traumatis, namun kita tidak bisa melakukan apa-apa, tidak tahu harus melakukan apa.

Berdasarkan pengalaman Anda tersebut, apa dampak dari kekerasan seksual bagi Anda selaku korban? 
Saya mengalami kejadian tersebut ketika masih SMA. Over 20 years saya lulus SMA, saya masih gemetar saat melihat nama orang tersebut di Facebook. Kebayang, selama 20 tahun saja saya masih gemeteran, bagaimana kalau ada yang mengalami kejadian lebih parah dari yang saya alami, seperti kasus pemerkosaan? Dan trauma tersebut membuat saya berpikir bahwa saya tidak worth it, saat saya menjalani hubungan dengan lawan jenis saya terus berpikir bahwa saya masih beruntung masih ada pria yang mau dengan saya. Akhirnya saya kembali menjadi korban toxic marriage dimana saya mengalami marriage rape, all kind of gaslighting sampai akhirnya saya ditinggalkan untuk perempuan lain.

Jadi dampaknya pada mental dan psikis yang saya pun baru paham setelah saya meminta bantuan profesional, bahkan saya tidak sadar bahwa saya adalah korban dari toxic marriage hampir lebih dari 10 tahun. Saat ini saya bisa menceritakan pengalaman saya ini dengan tersenyum, namun saya memerlukan waktu yang cukup lama untuk bisa mencapai titik ini, menyintas itu butuh proses.

Apa yang membuat Anda bertahan dalam toxic marriage tersebut?
Karena saya takut saya ditinggalkan oleh pasangan saya, kembali lagi karena saat itu saya merasa saya tidak worth it sebagai seorang perempuan dan saya sebagai seorang ibu juga memikirkan anak-anak saya. Umur saya sudah segini, kalau saya bercerai bagaimana saya bisa mendapatkan pasangan baru. Dan ini juga yang dialami sebagian besar korban kekerasan seksual. Saya memilih untuk tetap bersama dengan dia daripada saya harus melakukan perubahan yang baru.

Berdasarkan pengalaman Anda sebagai pengiat isu kekerasan seksual, apa yang menjadi alasan utama seorang melakukan kekerasan seksual? 
It can be genetic, bisa dari apa yg kita lihat sehari-hari dari orang tua kita, bagaimana kita dididik dan dari lingkungan sekitar. Maka hal itu akan terekam oleh benak mereka sehingga mereka merasa hal tersebut wajar-wajar saja untuk dilakukan, Bahkan saya pun baru tahu dari teman saya seorang psikolog anak, bahwa jika saya sedang hamil dan saya mengalami kekerasan seksual atau KDRT pada saat hamil, anak di dalam janin saya bisa berpotensi menjadi pelaku kekerasan seksual karena lingkungan dimana anak tersebut dibesarkan yang membuat mereka terbiasa dengan kekerasan.

Bagaimana dengan si korban, apa yang menjadi alasan utama mereka untuk membiarkan atau tidak melaporkan kasus kekerasan ini kepada orang-orang di sekitarnya?   
Sebagian sama dengan pelaku kekerasan, genetik, didikan dan lingkungan di sekitar. Bisa juga karena pengalaman mereka sebelumnya pernah menjadi korban atau orang tuanya menjadi korban. Mereka akan membiarkan kekerasan terjadi kepada mereka karena mereka merasa itu hal yang normal terjadi. Sebagai contoh, saya adalah korban kekerasan, saya tidak merasa ini sebuah kekerasan, wajar saja jika saya dipukuli karena berbuat salah, seperti saat ayah saya memukul ibu saya karena tidak memasak. 


Satu-satunya cara untuk mengakhiri mata rantai kekerasan tersebut adalah dengan tidak menurunkan hal tersebut ke anak-anak kita.
 

Apakah ada ciri-ciri seseorang berpotensi menjadi pelaku kekerasan seksual, sehingga kekerasan seksual ini dapat dicegah?
Hampir sama dengan toxic relationship, dimulai dari love bombing dulu, posesif, memberikan perintah atas diri kamu contohnya kamu nggak boleh pulang terlalu malam, dsb. Awalnya terlihat seperti care, sesungguhnya mereka sedang mengontrol kebebasan atas diri kamu seakan-akan kamu tidak bisa melakukan apa pun tanpa dia. Sehingga ketika kamu masuk dalam pernikahan ketika ada suatu ketimpangan, kamu merasa kamu yang harus leveling down bukan dia yang berusaha naik menyamakan. Hal itu yang membuat seseorang masuk dalam pernikahan yang toxic

Online dating kerap kali menjadi salah satu media atau modus melakukan penipuan yang mengarah kepada kekerasan seksual khususnya kepada anak-anak di bawah umur. Sejak memasuki masa pandemi, online dating menjadi semakin populer. Apa yang harus diperhatikan untuk mencegah terjadinya modus kekerasan seksual dari online dating?
Karena pandemi membatasi ruang gerak secara offline, internet jadi ruang publik baru untuk jadi tempat utama kekerasan seksual di masa pandemi, sehingga kita perlu waspada. Yang harus kalian lakukan sebelum bertemu dengan online dating adalah riset, cari tahu tentang orang tersebut sebelum ketemuan atau melangkah lebih lanjut. Gunakan aplikasi pelacak nomor sehingga kamu bisa tahu apakah orang tersebut terdaftar dengan identitas yang berbeda. Ajak video call dan telepon supaya kamu bisa melihat gerak gerik dan verbal clues dari suaranya. Jangan memberikan data lengkap seperti alamat, kantor sebelum kamu yakin bahwa mereka bisa dipercaya. Saat kopdar untuk pertama kalinya kalian harus gunakan instinct kalian, jangan mau bertemu di tempat-tempat yang membuat kamu tidak nyaman. Beri tahu keberadaan kalian ke orang yang bisa kalian percaya. Biasakan untuk berangkat dan pulang sendiri saat awal-awal kencan untuk mengurangi resiko. 

Bila saya atau orang lain di sekitar saya menjadi korban dari kekerasan seksual, apa yang harus saya lakukan?
Kalau kalian mengalami kekerasan seksual, kalian bisa menghubungi hotline No Recruit List atau DM ke instagram saya, dengan senang hati akan saya bantu. Kalian juga bisa download aplikasi Help Renakta, aplikasi ini terhubung langsung dengan Polda Metro Jaya, kalian bisa menghubungi mereka dan kalau misalkan ada kejadian dan kalian tidak berani bertindak atau mengintervensi, kalian bisa rekam kejadian tersebut dan upload di aplikasi ini, maka polisi yang akan datang ke lokasi untuk mengintervensi. 

Jika orang di sekitar kalian bercerita bahwa mereka adalah korban, yang paling pertama harus kalian lakukan adalah dengarkan untuk memahami. Tunjukkan empati kita dengan mengajukan pertanyaan, are you okay? Apa perasaanmu saat ini? Sudah bisa menceritakan apa yang terjadi atau belum? Jika mereka belum bisa menceritakan, just be there for them, jadi support system mereka dan tanyakan kepada mereka, how can I help? Dan jangan memaksa jika mereka belum siap. Fokus terlebih dahulu pada korbannya, biasanya kita terlalu emosional dan fokus kepada pelaku, kita lupa bahwa ada korban yang perlu ditolong.  


"Pelaku kekerasan seksual memiliki 3 senjata melawan yang disebut DARVO. Deny, Attack, Reverse role of Victim and Offender..." 
- Poppy Dihardjo, Penggiat Isu Perempuan
 

Sebagai penutup, apa tips atau saran Anda bagi pembaca CLARA Indonesia terkait kekerasan seksual?
Pertama, cari dan sebarkan info tentang kekerasan seksual sebanyak-banyaknya dengan #gerakbersama. Kedua bantu korban dengan minimal tdak victim blaming. Ketiga, waspada kekerasan seksual di intenet, karena online adalah ruang publik baru untuk kekerasan seksual. 

Bagi Anda yang ingin mendengarkan kisah pengalaman Poppy dalam menghadapi dan melawan kekerasan seksual dan toxic marriage, serta informasi mendalam tentang kekerasan seksual lainnya, Anda bisa menyaksikannya di sini.