Mistakes, Lessons, and Hopes of Nila Baharuddin

Berada di bulan terakhir tahun ini, kadang membuat saya berhenti sejenak. Mengingat cerita-cerita di tahun ini yang sudah agak samar, tapi tidak menyangka sudah melewatinya. Memang benar kata orang banyak, jalani hari demi hari, tidak merasakan adanya perubahan. But it’s amazing to see how lots of things have changed. Begitu pula dengan Nila Baharuddin, desainer yang baru meluncurkan trunk show di awal bulan ini. Suatu siang di sebuah café, saya berkesempatan mendengar cerita masa kecil, pelajaran berharganya, hingga pengalaman menginjakkan kaki di negeri nan jauh, London, yang berhasil menciptakan impian baru.

 

Halo, Nila! Kita baru bertemu ya di trunk show Issues kemarin..

Halo! Iya, betul.

 

First, when did you first realize you wanted to pursue a career as a designer?

Sebetulnya dari kecil, sih. Dari kecil itu aku gak suka kalau orang itu pakai baju atau style yang mirip-mirip. Jadi aku dari kecil kalau lebaran tuh aku cari bahan sendiri, terus pergi ke tukang jahit sendiri, gambarnya pun masih asal-asalan. Sebelum SD pun aku suka matching-in baju, kalau punya sepatu merah tapi bajunya gak ada merah-merahnya aku suka complain “kok bajunya gak merah? Kan, sepatunya merah”, hahaha.

 

Bahkan sejak duduk di bangku sekolah dasar sudah punya selera yang bagus, ya.

Hahaha, selain itu juga Ayahku berpengaruh dengan gayanya yang dandy, yang rapi-rapi gitu. Jadi, dia kalau beli sesuatu itu benar-benar selective, nah dari situ aku semakin terbiasa mix and match pakaian. Dan karena ayahku sering kerja ke luar negeri, jadi kalau pulang aku suka dibelikan majalah-majalah fashion yang waktu itu masih kurang established di Indonesia. Lalu dari kecil pun aku berkali-kali sudah kepingin ikut lomba merancang busana, tapi waktu itu aku belum sekolah mode. Aku kurang suka kalau aku masih belum mengerti sesuatu, hanya modal dibantu orang, kayaknya aku merasa kurang pintar banget kalau orang lain doang yang tau, terus aku gak tau..

 

Kemudian Nila langsung lanjut sekolah mode, ya?

Iya, aku akhirnya sekolah di Jepang karena kebudayaannya yang kaya banget, selain itu mereka juga punya ciri khas cutting-an yang unik dan detail, membuat aku tertarik banget sekolah di Jepang. Kebetulan papaku juga dipindahkan kerja di Jepang, jadi pas banget aku langsung ambil jurusan fashion di Sugino Gakuen.

 

Nila Baharuddin (Foto: Dok. CLARA)

Apa pekerjaan pertama Anda setelah lulus kuliah dan apa yang hal tersebut ajarkan kepada Anda?

Waktu di Jepang selepas lulus college, aku gak milih langsung pulang ke Indonesia. Saat itu justru aku lebih memilih kerja, tapi di bagian jewelry. Aku gak mau bekerja di desainer pakaian dulu, aku pikir aku sudah mengertilah kurang lebihnya cara bikin baju. Lalu aku kerja jadi asisten desainer jewelry di sana kira-kira dua atau tiga tahun.

 

Apa rasanya bekerja sama desainer Jepang?

Karena orang Jepang itu sangat strict dan detail, rasanya agak kejam, sih. Di sana juga ada seperti senior-junior gitu, kalau senior belum pulang ya kita gak bisa pulang. Hebatnya, mereka selalu detail banget, misalkan ada yang salah, mereka cari tahu kenapa bisa salah, lalu dicari solusinya. Mereka dilatih untuk membuat barang apapun lebih bagus daripada aslinya. Makanya aku sekarang kalau lihat orang jadi suka gak sabar sendiri, hahaha. But it’s a good thing, cuma kalau dibawa ke sini Indonesia agak susah, jadinya ngomel terus nantinya. Hahaha.

 

Menarik, ya. Bicara tentang kesalahan, waktu pertama kali membuat brand sendiri, ada gak sih kesalahan terbesar sebagai pemulaii?

Aku orangnya itu suka last minute, kalau mau show jadi kayak dikejar-kejar waktu. Itu mungkin, ya. Lalu aku juga merasa lama dalam mempersiapkan penjahit-penjahitku supaya matang. Setelah sepuluh tahun berkecimpung di dunia pernak-pernik, baru deh tiga tahun lalu aku merasa tukang jahitku sudah siap memproduksi brand pakaianku. Itu jadi tantangan sih buat aku, untuk memberanikan dirinya tuh lama banget sebelum langsung terjun, haha.

 

Itu semua karena pengaruh dari pernah bekerja dengan orang Jepang juga ya? Apakah pernah mengalami break down waktu di Jepang karena perbedaan kultur dalam belajar dan bekerja?

Pernah, hahaha, di kelas drapping pas kuliah dulu. Itu gurunya killer banget. Dulu kalau kelas itu disuruh membuat dummy, lalu kita disuruh per orang menunjukkan dummy-nya ke dosen kita. Nah, dia biasanya cuma lihat saja dari jauh lalu tiba-tiba langsung dicoret, “ulang”. Wah, stres banget, hahaha. Dulu teman semejaku itu kalau mengerjakan cepat banget, bikin aku panik. Jadinya kalau orang malam minggu biasanya main, kalau aku justru bawa pulang manekin di Hari Sabtu, lalu aku kerjain semua yang ketinggalan. Hal itu bertahun-tahun terjadi, tapi aku sekarang merasa itu jadi modal besar buat aku, karena sudah terbiasa.

 

Hahaha, ditambah peer pressure, ya. Kalau Anda bisa kembali dan mengatakan sesuatu kepada diri Anda di masa itu, what would it be?

Hm, mungkin kalau aku start early akan lebih baik. Menurutku, pertimbanganku terlalu banyak untuk mau mulai ini semua, karena aku terlalu banyak lihat brand lain, jadi untuk memberanikan dirinya agak sedikit telat.

 

Tapi dalam waktu yang lumayan singkat sekarang sudah bisa showcase di luar negeri ya, Paris dan London.

Sebetulnya aku awalnya show di Malaysia, tahun 2018. Habis itu baru Paris, September 2018 untuk S/S 2019. Kemudian London tahun ini aku show 2 kali, Februari dan September kemarin.

 

Bagaimana perasaan Anda waktu show di luar negeri?

Aku kaget banget, ternyata sambutannya di sana bagus banget. Dari sana aku mulai agak percaya diri walaupun awalnya aku juga grogi.. Takut.. Pada suka gak ya.. Ternyata model-modelnya pun sampai gak mau copot bajunya sampai show berikutnya! Hahaha.

Nila Baharuddin (Foto: Dok. CLARA)

Wow, habis itu jadi masuk Forbes ya setelah show?

Iya, aku masuk Forbes habis show yang di London.

 

Bagaimana perasaannya?

Haha, kaget sih! Pertamanya itu aku di-review majalah di Paris, lalu dia cari Instagram aku, lalu dia kirimkan foto artikelnya. Kalau Forbes, aku juga di direct message melalui Instagram pas sudah sampai di Indonesia.

 

Dari banyaknya apresiasi yang diterima dari luar negeri, apakah ada rencana untuk membuat offline store di luar?

Ada sih, makanya aku milihnya ke London terus. Kalau misalkan aku show disana 2-3 kali pasti orang juga notice sama brand kita, daripada show di banyak negeri tapi cuma sekali-sekali. Jadi orang di negara tersebut bisa lihat apakah kita berkembang. Kalaupun aku berhasil buka di luar nanti, aku berpikirnya di London. Karena London itu fashion-nya sangat berevolusi.

 

Apakah akan dalam waktu dekat?

Hahaha kalau bisa sih maunya sebentar lagi. Tapi untuk sekarang aku mau mikirin yang di Indonesia dulu, paling tidak setahunan ini sih.

 

Okay, last one! Apa harapan untuk para desainer di Indonesia yang juga sedang berusaha untuk melebarkan sayap ke luar negeri?

Satu pesanku sih,  kalau mau bawa kain kita keluar negeri, jangan di-print. Biar orang luar juga lihat kain asli kita, selain itu kasihan pengrajin kita kalau cuma pakai kain yang tiruan hasil kerjanya mereka. Kalau bukan kita sendiri yang memajukan bangsa kita, siapa lagi?