Jika kehidupan ini adalah sebuah panggung teater yang selalu dimeriahkan dengan suatu opening act. Maka bulan pembuka di tahun 2026 ini mungkin bukan suatu opening act yang kerap diharapkan. Pasalnya dalam beberapa minggu terakhir pada bulan Januari ini, langit kota Jakarta diselimuti awan kelabu.
Curah hujan yang kian deras kerap mengguyur Jakarta hampir disetiap jamnya. Bahkan situasi tak dapat diprediksi apakah matahari akan terbit di siang hari atau tidak. Rakyat Jakarta mungkin dapat dikatakan tak siap dengan kondisi hujan yang ekstrim ini, walaupun tiap tahun sudah mengalami hal serupa.
Pasalnya bila hujan telah mengguyur kota ini, maka aktivitas penduduk ini pun menjadi terganggu. Para warga yang hendak berpergian ke kantor harus mengeluarkan usaha berkali lipat untuk berperang menghadapi lalu lintas. Genangan air yang menyebabkan jalan terendam, otomatis membuat kendaraan menjadi melambat, hingga akhirnya menyebabkan macet tanpa ampun.
Sementara bagi mereka yang bermukim di luar area Jakarta harus berkorban berjam-jam untuk dapat menempuh tempat bekerja (kantor). Disisi lain bagi mereka yang harus menggunakan fasilitas publik seperti bus, ojek dan MRT harus terpapar air hujan. Melihat kondisi ini tak hanya energi yang harus terbuang sia-sia, melainkan keuangan pun menjadi terganggu. Contohnya berapa banyak bahan bakar yang harus terpakai untuk bermacet-macetan di jalan? Belum lagi tarif transportasi umum seperti taksi dan ojek pun menjadi melonjak.
Tak hanya mereka yang harus berpergian kesana kemari saja yang menderita, para pemilik usaha seperti restoran dan toko pun terkena imbasnya akibat pengunjung yang sepi, karena tidak berani berpergian. Lalu bagaimana dengan mereka yang bekerja dirumah sebagai ART? Mereka pun merasakan dampaknya dengan problema cucian tidak kering, dan halaman yang kotor akibat tampias hujan terbawa angin.
Lantas bagaimana dengan tagihan pembayaran rumah tangga yang secara konsisten selalu harus ditepati? Seperti tagihan Listrik, air, telpon dan lain sebagainya? Kendati permasalahan cuaca yang ekstrim harus membuat aktivitas dan perekonomian terganggu, namun tanggung jawab tetap tak berkurang.
Segala sesuatu yang turun dari langit adalah rejeki, sekalipun itu berupa tetesan air. Maka sekalipun kondisi ini membuat aktivitas menjadi lumpuh sesaat, namun tetaplah ada manfaatnya. Mungkin dengan kondisi cuaca seburuk ini, membuat manusia untuk beristirahat sejenak dari rutinitas dan lalu lintas yang kurang bersahabat. Sementara disisi lain udara kota Jakarta yang telah penuh dengan polusi menjadi lebih bersih dan segar.
Photo by Adit Syahfiar - Pexels.com