Kisah Inspiratif Meira Anastasia Berjuang Melawan Rasa Insecure

Belum lama ini, saya mendapatkan sebuah teks pesan dari kawan yang sudah lama tidak berjumpa. Bukan pesan bahagia yang saya dapatkan darinya, melainkan kesedihan. Ia bertanya, "Why I’m not good enough?". Terdiam saya dibuatnya. Mungkin ini juga menjadi pertanyaan dalam benak Anda. We tend to look down on ourselves too much.

Meira Anastasia adalah sosok yang saya kagumi. Meskipun kerap mendapatkan komentar negatif tentang dirinya, Meira berhasil menjadikan komentar negatif tersebut sebagai dorongan untuk berkarya. Setelah sukses mengembangkan cerita film "Cek Toko Sebelah" dan menulis skenario dari film populer "Susah Sinyal" dan "Milly & Mamet: Ini Bukan Cinta & Rangga", Meira Anastasia juga melejit lewat karya tulis pada buku berjudul "Imperfect, A Journey to Self-Acceptance". Buku ini merupakan keluh kesah Meira tentang rasa insecure akibat komentar negatif tentangnya di akun media sosial sang suami, Ernest Prakasa.

Berangkat dari hal tersebut, ibu dari dua anak ini terinspirasi untuk berbagi kisah perjuangannya untuk berdamai dengan dirinya. Dalam buku tersebut Meira juga memberikan beberapa tips, seperti mengubah pola makan sehat hingga olahraga sederhana di rumah. Buku ini yang kemudian diangkat menjadi sebuah film "Imperfect: Karir, Cinta & Timbangan" yang sukses disaksikan lebih dari 2,5 juta penonton.
 

“Ketika kita sudah berdamai dengan diri kita sendiri, menerima siapa diri kita, kita bisa dengan lebih santai menjalani hidup dan lebih optimal lagi untuk mengembangkan apa yang kita miliki...”
- Meira Anastasia


Mengubah hal negatif menjadi sesuatu yang positif bukanlah hal mudah. Bahkan menurut Meira, hal tersebut baru bisa dilakukan jika kita mampu berdamai dengan diri kita sendiri. Lewat podcast-nya, "Meira Bicara", ia menyampaikan bahwa salah satu bentuk perdamaian dengan diri sendiri adalah self-acceptance. Pada kesempatan kali ini, CLARA berbincang dengan Meira Anastasia mengenai kisah perjuangannya dalam menghadapi rasa insecure, role model dalam hidupnya, hingga solusi menghadapi komentar negatif dari orang sekitar. Sudah saatnya kita berhenti berperang dengan diri sendiri. We need to make a peace with ourselves!

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Meira Anastasia (@meiranastasia) on

Setiap orang tentu memiliki ketakutan atau kekhawatiran dalam hidup yang sering kali membuat kita kehilangan rasa percaya diri dalam melakukan segala sesuatu. Apa yang menjadi concern terbesar Anda dalam melakukan segala sesuatu?
Sebenernya saya juga nggak tau trigger-nya apa ya, tapi mungkin ada hubungannya dengan kakak saya. Saya itu dua bersaudara, dan kakak saya itu pintar secara akademis sedangkan saya tidak. Dalam keluarga kami itu juga seperti di-highlight, saya tidak sepintar Abang dalam segala hal gitu dan itu membuat saya selalu merasa I’m not good enough. Mungkin itu yang memupuk saya untuk merasa tidak percaya diri dan selalu overthinking, jadi sebelum melakukan sesuatu, saya sudah takut duluan jika nanti saya akan gagal dan tidak cukup baik untuk melakukan banyak hal.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Meira Anastasia (@meiranastasia) on

Seperti judul podcast Anda, "Berdamai dengan diri sendiri", apakah Anda sudah berhasil berdamai dengan segala ketakutan Anda? Dan bagaimana cara Anda menghadapinya?
Menurut saya berdamai dengan diri sendiri itu adalah sebuah proses, bukan tujuan akhir yang harus dicapai. Kita nggak bisa langsung mengenal siapa diri kita, tapi kita perlu proses yang mungkin berapa tahun baru akan menemukannya. Sampai saat ini, saya juga masih berproses dan memang sekarang sudah ada beberapa yang saya damaikan, tapi pasti masih banyak juga yang belum bisa saya lakukan. Buat saya personally, berdamai dengan diri sendiri itu yang pertama harus disadari bahwa manusia memang diciptakan nggak sempurna, ada flaw-nya, ada kekurangannya, jadi ketika kita mengejar kesempurnaan, kita akan lelah sendiri. Saya memang tidak sempurna dan memiliki banyak kekurangannya, tapi saya punya kelebihan. Jadi nggak terlalu menuntut banyak sama diri sendiri dan bisa move on membuat saya bisa melakukan lebih banyak hal lebih baik.

Untuk bisa berdamai dengan diri sendiri sepenuhnya tentu bukan hal mudah. Apa yang Anda lalui dalam proses ini?
Salah satu yang mengubah hidup saya adalah pergi ke psikolog. Saya dibantu untuk bisa lebih tahu siapa diri saya yang sebenarnya dan kenapa saya memiliki pola pikir atau cara pandang seperti itu. Kita track bareng ke masa lalu saya dan kita lihat bagaimana bisa sampai terbentuknya pola pikir yang seperti ini. Jadi dengan datang ke psikolog sangat membantu saya sekali dalam memetakan apa yang terjadi di dalam pikiran saya dan apa yang seharusnya bisa saya pelajari dari diri saya sendiri.
Kadang kita nggak benar-benar bisa melihat ke dalam diri kita, ada suatu pemikiran atau mungkin kejadian yang nggak mau kita pikirin dan kita block, tapi jika dibantu oleh orang yang memang ahli di bidangnya, kita jadi terbantu untuk menguraikan itu semua. Itu adalah salah satu keputusan terpenting dalam hidup saya; Pergi ke psikolog. Akhirnya sekarang saya sudah lebih terbiasa aja untuk menilai diri sendiri tidak tergantung dengan penilaian orang.

Apa perubahan dalam diri Anda yang paling terlihat baik oleh diri Anda sendiri maupun orang-orang di sekitar Anda saat Anda sudah mulai berdamai dengan diri Anda sendiri?
Perubahannya jadi lebih santai. Dulu lelah sekali selalu berusaha untuk menjadi apa yang orang inginkan karena takut dinilai oleh orang lain. Takut gagal, takut nggak bisa, takut malu-maluin, pokoknya banyak ketakutan karena saya udah overthinking duluan dengan hal yang belum pasti terjadi, pikirannya tuh udah kayak melaju terlalu jauh sendirian. Tapi ketika saya udah berdamai dengan diri saya sendiri, saya tahu bahwa saya yang sebenarnya dan kalau memang orang mau menilai saya, ya itu terserah mereka karena kita nggak bisa atur. Saya berusaha untuk mulai mengatur pikiran-pikiran saya sendiri, sampai akhirnya saya jadi bisa lebih mengembangkan diri saya, saya bisa bikin buku, bisa ikut bantuin nulis skrip film yang padahal itu semua tidak akan terjadi kalau saya belum berdamai dengan diri saya yang overthinking.


Menurut Anda seberapa penting self-acceptance bagi kehidupan Anda dan orang di sekitar Anda?
Self-Acceptance itu penting karena kadang kita suka terjebak di dalam satu penilaian terhadap diri kita sendiri. Kita jadi sibuk dengan penilaian orang lain. Jadi menurut saya, penting untuk kita tahu siapa kita sebenarnya dulu, baru kita bisa memilah-milah judgement orang lain terhadap kita. Kalau kita langsung masukkan ke dalam hati semua judgement dan apa yang orang bilang tentang kita, rasanya jadi nggak fair sama diri kita sendiri karena mereka menilai dari kaca mata dan persepsi mereka, padahal yang paling tahu kita ya harusnya diri kita sendiri. Jadi menurut saya ketika kita sudah berdamai, kita sudah menerima siapa diri kita sendiri, kita bisa dengan lebih santai lagi menjalani hidup dan bisa lebih optimal lagi untuk mengembangkan apa yang kita miliki.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Meira Anastasia (@meiranastasia) on

Self-acceptance adalah hal yang dapat kita kontrol, namun kita tidak dapat mengontrol orang lain untuk menerima diri kita apa adanya. Lalu bagaimana cara kita beradaptasi dengan itu semua tanpa membuat diri kita merasa tidak nyaman?
Memang kita nggak bisa mengatur orang lain dan cara beradaptasinya ya kita harus sadar apapun yang mereka pikirkan itu adalah buah hasil pemikiran mereka bukan dari pemikiran kita. Kita harus bisa memilah-milah dan juga memutuskan mana yang baik untuk kita dan mana yang nggak. Tapi menerima diri itu bukan berarti kita nggak mau berkembang. Kita sebagai manusia diberikan akal budi untuk berpikir. Kalau kita punya kelemahan, ya bagimana caranya kita mau untuk mengubah kelemahan itu menjadi sebuah kelebihan. Orang pasti akan bisa melihat bahwa ada sebuah usaha atau yang disebut proses untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Ketika kita berusaha untuk menjadi lebih baik, itu akan berbuah baik juga untuk kita. Jadi jangan terlalu terobsesi untuk bisa memuaskan atau membuat happy semua orang karena kita nggak akan bisa. Pilih saja yang memang worth it.

Salah satu ketakutan terbesar seseorang dalam proses self-acceptance adalah pandangan orang lain atau komentar-komentar negatif yang sering didapatkan di sosial media ataupun dari kerabat terdekat. Bagaimana cara yang tepat untuk merespon komentar-komentar negatif tersebut?
Kalau di sosial media sih kita punya beberapa pilihan, diemin aja atau langsung kita block. Apalagi orang yang tidak berani untuk menunjukkan siapa dirinya yang memang sengaja pengen dberi perhatian atau ada yang nggak happy sama hidupnya jadi pengen orang lain juga nggak happy dengan berkomentar negatif. Males juga kita ajak berantem mereka, buang-buang waktu, tenaga dan pikiran. Tapi kalau dari kerabat terdekat memang sulit untuk langsung bisa kita block. Kalau memang hubungan kita dekat, nggak ada salahnya untuk kita komunikasikan, kita diskusikan bersama apa yang kita rasakan, karena kadang-kadang keluarga atau kawan itu nggak sadar sudah menyakiti hati kita dan berbekas di dalam hati kita. Kalau memang orangnya cukup dekat dan juga kita bisa ajak ngobrol, ya coba dikomunikasikan saja.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Meira Anastasia (@meiranastasia) on

Apa Quotes favorit Anda tentang self-acceptance?
Kebetulan saya sempat menulis sebuah quotes “Ubah insecure menjadi bersyukur”. Ketika saya bikin quotes itu, saya mencerminkan apa yang sedang saya alami. Jadi saya berpikir kalau saya fokus ke insecure-an diri saya terus, kapan saya bisa berkembang? Padahal ada banyak hal yang bisa saya syukuri. Jadi itu apa yang saya coba bilang ke diri saya sendiri, bahwa di balik semua rasa insecure yang saya pikirkan, ternyata ada banyak hal yang bisa disyukuri. Kadang saya lupa bersyukur untuk hal-hal kecil ataupun hal-hal besar yang luput dari pandangan saya karena terlalu crowded sama hal-hal negatif. Jadi dibanding fokus terus pada kelemahan-kelemahan yang saya punya, saya berusaha melihat sisi positif dari apa yang saya punya dan saya syukuri itu. Apalagi bersyukur itu nggak bayar, gratis.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Meira Anastasia (@meiranastasia) on

Siapa yang paling berpengaruh dalam hidup Anda? Role model atau panutan Anda dalam hidup ini. Dan kenapa?
Yang paling berpengaruh dalam hidup saya adalah Ernest, sebagai suami dia sangat memberikan saya kesempatan untuk bisa jadi lebih baik lagi dan dia juga yang selalu mendorong saya untuk mencoba banyak hal baru. Ketika saya adalah orang yang paling nggak percaya sama diri saya sendiri, justru dia adalah orang yang percaya sama saya dan dia benar-benar mendukung saya banget. Saya juga salut sama dia, dia nggak mau kerja setengah-setengah, dia selalu melakukan apapun sebaik yang dia bisa, perfeksionis dan detail. Dulu kecil dia di-bully gitu karena matanya yang sipit tapi akhirnya dia malah bisa menjadikan itu turning point dalam hidupnya dengan menjadikan hal itu sebagai materi untuk dia stand up comedy. Dari situ saya belajar bahwa ketika kita sudah bisa menerima diri kita sendiri dan berdamai, hidup akan menjadi lebih terbuka daripada kita sibuk mengutuki diri sendiri, malah jadi beban untuk bisa hidup dengan lebih baik lagi sebagai seorang manusia.

Apa pesan Anda untuk pembaca CLARA?
Buat pembaca CLARA, saya mengingatkan saja bahwa sebelum kita membahagiakan, mencintai atau membantu orang lain jangan lupa untuk melakukan hal itu terlebih dahulu kepada diri kita sendiri. Dengan cara yang sederhana saja, seperti menyayangi tubuh kita dengan memberikan makanan yang sehat, tidur yang cukup, dan berolahraga. Berikan pikiran-pikiran yang baik kepada diri kita sendiri, jangan terlalu memikirkan kata orang karena semua pemikiran orang tidak bisa kita atur. Yang bisa kita atur adalah pandangan kita terhadap diri kita sendiri, yang penting kita berbuat baik dan juga terus berkembang menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Kalau bukan kita yang menyayangi diri kita sendiri, lalu siapa lagi?