Ketika Sinema Menjadi Ruang Bertemu: Next Step Studio Indonesia di Panggung Global

Bare Expose

 

 

Di tengah lanskap sinema Asia Tenggara yang semakin dinamis, Next Step Studio Indonesia hadir sebagai ruang temu yang segar. Debut perdananya di Semaine de la Critique menjadi penanda penting: Indonesia tidak lagi sekadar partisipan, melainkan penggerak narasi regional.

 

Mengusung format empat film pendek hasil kolaborasi delapan sineas (empat dari Indonesia dan empat dari Asia Tenggara), proyek ini terasa seperti laboratorium kreatif yang intim namun berani. Nama-nama seperti Reza Rahadian, M. Reza Fahriyansyah, hingga Khozy Rizal dipertemukan dengan perspektif sutradara regional, menciptakan dialog visual yang tidak hanya personal, tetapi juga politis dalam diamnya.

 

Empat judul yang dihadirkan yakni Holy Crowd, Original Wound, Annisa, dan Mothers Are Mothering, menggali spektrum emosi yang berlapis: dari spiritualitas yang riuh, luka yang diwariskan, hingga relasi keibuan yang kompleks. Jakarta, dalam konteks ini, bukan sekadar latar, melainkan karakter yang hidup—berdenyut, padat, dan penuh kontradiksi.

 

Deretan pemain seperti Prilly Latuconsina, Happy Salma, hingga Asmara Abigail memberi kedalaman performatif yang terasa organik, seolah kamera hanya menangkap fragmen kehidupan yang memang sudah ada.

 

 

Di balik layar, nama Yulia Evina Bhara sebagai produser bersama Amerta Kusuma memastikan bahwa visi artistik tetap berpijak pada eksekusi yang presisi. Kolaborasi dengan berbagai rumah produksi, termasuk Visinema Pictures, mempertegas bahwa ini adalah kerja kolektif yang serius.

 

Next Step Studio Indonesia bukan sekadar proyek film. Ia adalah pernyataan: bahwa masa depan sinema Asia Tenggara akan ditentukan oleh keberanian untuk berbagi ruang, merayakan perbedaan, dan menulis ulang cara kita bercerita.