Beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan untuk mengerjakan suatu proyek di Bandung. Kota yang kini hanya dengan jarak tempuh 30 menit berkendara menggunakan kereta cepat, telah membawa saya ke suatu kota yang memiliki tingkat kesibukan lebih rendah daripada Jakarta.
Entah apa yang membuat cara kerja dan berpikir manusia di kota Jakarta ini seolah berlari bagaikan kuda. Bahkan saya tak paham apa yang mau dikejar? seolah tiada hari esok. Sementara di kota yang hanya letaknya hanya sekejap dari ibukota justru menawarkan fase bekerja yang sangat slow. Seolah hidup itu memiliki irama yang melankolis romantis, semua hal yang dilakukan harus tertata tenang, dan kenyamanan adalah nomor satu.
Setiap orang bertutur bahasa lembut, kesantunan adalah basis dari setiap orang yang hidup di kota tersebut. Terasa bahwa di kota Bandung semua orang lebih memiliki tingkat kesabaran dan toleransi yang tinggi dibandingkan di kota Jakarta.
Dapat dikatakan pada kesempatan itu saya merasa iri akan apa yang masyarakat Bandung miliki, bahwa sesuatu yang ‘spesial’ itu justru tidak berada dimiliki oleh orang-orang yang menetap di kota utama. Bahwa suatu kota utama seperti Jakarta yang memiliki segala hal, nyatanya justru miskin akan kesabaran dan toleransi. Semua orang hanya memikirkan dirinya untuk menjadi terdepan dan kejar tayang.
Seringkali saya kembali menanyakan, sebenarnya apa untungnya menjadi terdepan, terutama bahkan terhebat dari sekelilingnya. Jika sebuah kota seperti Jakarta yang seharusnya menjadi garda utama dari kota-kota di Indonesia lainnya, telah kehilangan inti pesonanya seperti keramahan. Maka bagaimana jika kota ini diibaratkan sebagai seorang manusia? Mungkin layaknya sebuah tengkorak yang berjalan.
Maka untuk apa mengejar sesuatu yang tak tampak luarnya indah, megah, tetapi didalamnya keropos. Bahwa menjadi yang terdepan dan utama, bukan berarti terbaik.
Foto: Plato Terentev - Pexels.com