Kaum Perempuan Paling Rentan Mengalami Dampak Negatif Covid-19

Perlu kita akui, pandemi Covid-19 yang telah berlangsung hampir 2 tahun ini berdampak terhadap penurunan kualitas hidup. Baru-baru ini hasil kajian studi dari Yayasan CARE Peduli (YCP) yang merupakan badan kemanusiaan yang terlibat secara konsisten dalam tanggap darurat terhadap berbagai bencana yang terjadi di Indonesia, seperti El Nino, tsunami Samudera Hindia pada 2004, gempa bumi Padang dan Yogyakarta, serta gempa bumi-tsunami di Palu pada 2018 lalu, menunjukkan bahwa kaum perempuan menjadi kelompok kaum rentan yang paling mengalami dampak negatif selama pandemi Covid-19. 

'YCP memberikan paket isoman untuk perempuan rentan yang berada jauh dari Puskesmas' (Foto: Dok. Yayasan CARE Peduli)

"Memasuki tahun kedua pandemi, kerja kemanusiaan kita justru terus bertambah. Gelombang demi gelombang Covid-19 menghadang, sementara bencana alam dan risiko perubahan iklim terhadap kemiskinan dan ketahanan hidup tetap berdatangan. Secara umum, perempuan bernasib lebih buruk daripada laki-laki karena beban tanggung jawab yang meningkat dan berlipat ketika ada pembatasan mobilitas dan kebijakan tinggal di rumah (stay at home) diberlakukan..."
- Bonaria Siahaan, CEO Yayasan CARE Peduli 
 

Hasil survei menunjukkan bahwa mayoritas beban school from home atau sekolah daring jatuh pada perempuan. Hal ini yang juga mungkin Anda rasakan saat ini. Tanggung jawab tambahan dalam mengawasi studi anak-anak di rumah sangat berat khususnya bagi perempuan pedesaan atau daerah perkotaan yang miskin, dikarenakan tingkat pendidikan rendah. Tanpa disadari, kondisi ini pun menimbulkan berbagai masalah baru di dalam keluarga, termasuk tindak kekerasan pada perempuan.

Tak hanya itu, beban berlipat juga dialami perempuan hamil karena keterbatasan akses pada layanan kesehatan serta berkurangnya kapasitas rawat inap rumah sakit. Secara mental dan emosional, perempuan hamil dari kelompok rentan dan marjinal seringkali dipenuhi kekhawatiran akan keselamatan janin dan dirinya, apalagi dengan keterbatasan akses informasi yang benar tentang Covid-19 dan keuangan yang semakin menipis. Untuk itulah, setiap program kemanusiaan yang Yayasan CARE Peduli jalankan dimulai dengan Rapid Gender Assessment (RGA). 

'Simbolis Bantuan Covid19 dari YCP Bagi Kaum Perempuan' (Foto: Dok. Yayasan CARE Peduli)

"Dengan beban tanggungjawab yang berat dan berlipat di masa pandemi, keberhasilan kita dalam meningkatkan kualitas hidup perempuan rentan dapat secara signifikan membantu juga meringankan kesulitan bagi seluruh anggota keluarganya. Sebesar itulah pengaruh perempuan bagi pasangan dan anak-anaknya," ujar Alissa Wahid, Direktur Nasional Gusdurian Network Indonesia (GNI).

Dalam rangka memperingati Hari Kemanusiaan Sedunia pada 19 Agustus, YCP mengajak semua pihak sebagai warga negara untuk mengambil peran penting. Pertama, kita wajib melaksanakan protokol kesehatan ketat untuk menghindari penularan baik untuk diri kita sendiri maupun orang lain, sehingga dapat menghindarkan terjadinya lonjakan kasus. Kedua, kita perlu lebih peka dan dapat membantu orang terdekat yang memerlukan, baik itu anggota keluarga maupun tetangga di lingkungan sekitar. Ketiga, kita dapat melawan misinformasi dengan membantu memberikan informasi yang benar dan edukasi kepada masyarakat soal pandemi. Keempat, kita bisa memilih berdonasi baik secara langsung kepada yang membutuhkan atau melalui lembaga-lembaga sosial dan kemanusiaan. 


"Pemerintah bekerja keras tanpa henti untuk menanggulangi bencana termasuk pandemi Covid-19. Kunci utama penanganan bencana dan operasi tanggap darurat adalah kajian data yang lengkap dan akurat terkait kelompok rentan terdampak. Kami memberikan apresiasi kepada Yayasan CARE Peduli yang selama ini telah melakukan fokus respons kepada kelompok rentan terutama perempuan, dimana dalam kelompok ini juga termasuk ibu hamil, ibu menyusui, juga kelompok rentan balita, lansia dan penyandang disabilitas. ”
- Nelwan Harahap, Asisten Deputi Kedaruratan dan Manajemen Pasca Bencana, Kemenko PMK
 

'Paket Isoman untuk Perempuan Rentan Jauh dari Puskesmas' (Foto: Dok. Yayasan CARE Peduli)

Berdasarkan arahan Presiden Republik Indonesia Bapak Joko Widodo, Menko PMK diamanahkan sebagai koordinator Aksi Solidaritas dan Kedermawanan Masyarakat Dalam Penanganan Dampak Covid-19 yang inklusif melibatkan berbagai pihak termasuk media dan masyarakat luas.

Gerakan Solidaritas dan Gotong Royong kemanusiaan dalam rangka penanganan Covid-19 dan berbagai dampak yang ditimbulkannya akan dioperasikan dan dikendalikan melalui Sekretariat Bersama yang dipimpin langsung oleh Kemenko PMK. Tak hanya itu, kegiatan ini juga melibatkan berbagai actor Penta Hellix (Pemerintah, Dunia Usaha, Masyarakat Sipil, Perguruan Tinggi/Lembaga Riset dan Media) secara kolaboratif.

'YCP memiliki berbagai program yang didukung oleh donatur individu maupun institusi' (Foto: Dok. Yayasan CARE Peduli)

Dengan adanya aktivitas kolaborasi ini diharapkan dapat membantu percepatan penangulangan Covid-19 dan penanganan dampak lainnya termasuk penanggulangan bencana selama masa pandemi Covid-19. Gerakan Solidaritas ini diharapkan dapat berjalan secara efektif memperkuat dukungan bagi masyarakat terpapar dan kelompok rentan di Indonesia.

YCP memiliki jaringan kuat dalam mengimplementasikan program-program kemanusiaan, terutama bagi kelompok perempuan rentan di seluruh wilayah Indonesia. Bentuk bantuan YCP untuk membantu program pemerintah antara lain : Program WASH yang menyediakan materi komunikasi risiko, fasilitas cuci tangan, masker, sabun tangan dan pembersih. Di Majene dan Mamuju paska gempa Palu, YCP membangun kamar mandi khusus ramah perempuan, anak, dan penyandang disabilitas yang berlokasi dekat dari tempat penampungan korban gempa.

Selain itu, ada Program Menjamin Ketahanan Pangan yakni bantuan kepada kelompok rentan dalam bentuk voucher makanan, voucher tunai dan akses ke pertanian dan budidaya ikan air tawar. Ketiga, program Uang untuk Bekerja dan Mata Pencaharian Alternatif, dimana YCP memberikan bantuan kepada masyarakat desa melalui skema cash-for-work yang berfokus pada pembangunan infrastruktur desa di NTT. Di Sukabumi dan Purwakarta, YCP menyediakan modal, pelatihan dan uang tunai bagi pekerja garmen perempuan yang di-PHK untuk membuat pola, memproduksi dan menjual masker ke Dinas Kesehatan Kabupaten setempat dan masyarakat.

'YCP juga menyediakan tenda khusus perempuan hamil dan bersalin yang terpapar Covid-19' (Foto: Dok. Yayasan CARE Peduli)

Di Serang, YCP menyediakan tenda-tenda bertekanan negatif khusus bagi perempuan terpapar Covid-19 yang sedang hamil dan untuk bersalin di Puskesmas, serta tempat dan kebutuhan isolasi mandiri berbasis masyarakat di desa-desa yang jauh dari jangkauan pelayanan kesehatan. Selain itu, dukungan diberikan dalam bentuk penyaluran paket alat pelindung khusus (APD), vitamin, susu, dan pembersih tangan bagi petugas kesehatan di Puskesmas, serta paket isolasi mandiri berbasis masyarakat utamanya bagi perempuan, lansia, serta anak-anak di desa-desa yang jauh dari jangkauan pelayanan kesehatan.

'Kondisi tenda khusus perempuan hamil and bersalin yang terpapar Covid-19' (Foto: Dok. Yayasan CARE Peduli)

Hari Kemanusiaan Sedunia menjadi momentum dan pengingat bagi masyarakat semua bahwa dengan berbagai bencana di tengah pandemi yang menelan banyak korban dan melumpuhkan kehidupan manusia, tanggung jawab memelihara dan menumbuhkan kemanusiaan ada di pundak kita bersama, baik secara kolektif maupun individual. Yayasan CARE Peduli turut serta dalam aksi mitigasi risiko dan adaptasi atas perubahan iklim dalam solidaritas untuk masyarakat rentan yang paling membutuhkan.