Kapan nikah? Kiranya pertanyaan itulah yang hampir saya hindari apabila silaturahmi pada saat hari raya.

Hingga suatu waktu entah itu tahun lalu atau beberapa tahun yang silam, saya dan beberapa teman saya pun berencana untuk pergi berlibur ketika saat hari raya berlangsung. Hal ini dilakukan untuk menghindari temu sapa ketika hari raya.

Bagi beberapa orang adegan pertemuan keluarga besar adalah suatu yang menyesakkan. Mulai dari harus basa-basi, menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak ingin didengar, hingga akhirnya pertemuan tersebut pun tidak berakhir dengan memori yang istimewa, melainkan menjadi suatu prahara dalam hati.

Prahara hati yang akhirnya menjadikan kita berharap untuk tidak bertemu mereka lagi di hari-hari berikutnya, hingga tahun- tahun selanjutnya. 

Kini kita penduduk dunia sedang menghadapi suatu cobaan terbesar dari sepanjang sejarah. Cobaan yang membuat manusia tak dapat melakukan interaksi secara langsung dengan manusia lain. Pembatasan interaksi inipun menjadikan manusia cukup kehilangan arah. 

Interaksi antara manusia yang biasa dilakukan dengan leluasa, kini terasa telah dicabut hak istimewanya. 

Dalam hitungan kurang dari dua bulan, umat muslim di muka bumi ini akan merayakan hari rayanya. Hari yang menjadi suatu waktu untuk berkumpul bersama keluarga, teman dan sanak saudara. 

Jika social distancing masih harus dilakukan, self quarantine masih wajib dijalankan dan ibadah masih dilakukan di kediaman masing-masingmasing-masing, maka untuk tahun ini ada kemungkinan momentum silaturahmi tersebut harus absen untuk pertama kalinya.

Apakah hal tersebut menarik? Karena untuk membayangkannya saja saya tidak sanggup. Jika manusia sebagai kodratnya adalah mahkluk sosial maka syukurilah hal tersebut, karena ketika hak tersebut dicabut maka keseimbangan diri pun akan terganggu.

Kini adalah saat intropeksi diri, bahwa manusia tak dapat hidup sendiri, bahwa kita sebagai makhluk sosial harus saling berinteraksi, bahwa kita sebagai manusia tidak hanya dapat mendengar apa yang mau kita dengar saja. Tak hanya dapat melihat apa yang mau dilihat saja. 

Inti dari segalanya adalah ‘menerima’ berbagai hal, ucapan/komentar dengan lapang dada, sebagaimana kita menerima bahwa saat ini bumi sedang butuh rehat sejenak. 

Dear world, get well soon please!