Ada momen-momen tertentu ketika sebuah festival film tidak hanya menjadi ruang apresiasi karya, tetapi juga panggung penghormatan terhadap perjalanan panjang seorang auteur. Tahun ini, Festival International du Film Fantastique de Gérardmer menghadirkan momen tersebut melalui kehadiran Joko Anwar sebagai Guest of Honor.
Bagi publik sinema global, nama Joko Anwar telah lama melampaui batas geografis. Ia adalah suara yang konsisten menegaskan bahwa horor dan fantasi Asia Tenggara memiliki bahasa, kedalaman, dan daya gugah yang unik. Gérardmer, festival yang dikenal dengan kurasi ketat serta audiens fanatik genre, memahami benar posisi penting itu.
Retrospektif, diskusi, hingga pertemuan dengan penonton menjadi rangkaian yang merayakan bagaimana dua dekade lebih karya Joko membangun ekosistem baru bagi perfilman Indonesia. Dari eksplorasi trauma kolektif, mitologi lokal, hingga kritik sosial yang terbungkus atmosfer mencekam, semuanya menemukan rumahnya di kota kecil Prancis yang setiap tahunnya berubah menjadi pusat dunia film fantastik.
Namun penghormatan ini tidak berdiri sendiri.
Dalam berbagai agenda resmi festival, Joko hadir didampingi oleh aktris Asmara Abigail—kolaborator kreatif yang wajah dan performanya lekat dalam sejumlah karya penting sang sutradara. Kehadiran Asmara menjadi penanda kesinambungan artistik: bagaimana visi seorang sutradara diterjemahkan melalui tubuh, gestur, dan keberanian seorang performer.
Asmara membawa representasi perempuan Indonesia yang kuat, kontemporer, dan relevan dengan percakapan sinema dunia hari ini. Di Gérardmer, ia bukan sekadar tamu, melainkan bagian dari narasi besar tentang bagaimana film-film tersebut hidup dan beresonansi.
Interaksi keduanya dengan publik festival terasa hangat sekaligus reflektif. Ada kebanggaan, tentu, tetapi juga kesadaran bahwa perjalanan masih panjang. Dunia kini menoleh, dan Indonesia menjawab melalui karya.
Gérardmer tahun ini membuktikan satu hal: film genre bukan lagi pinggiran. Ia adalah arus utama baru, dan nama Joko Anwar—bersama para kolaboratornya seperti Asmara Abigail—berdiri di garis depan perubahan itu.
Photo by Olivier Vigerie