How Local Designers Are Shaping What’s Next at JF3 2026

Mode tidak pernah sekadar tentang apa yang dikenakan. Ia adalah tentang apa yang ingin ditinggalkan.

Perhelatan BRI - JF3 Fashion Festival 2026 mungkin telah usai pada Juli lalu, tetapi gaungnya masih terasa melalui deretan koleksi yang meninggalkan kesan di panggung mode tersebut. Selama tujuh hari, lebih dari 50 desainer lokal maupun mancanegara mempertemukan perspektif, teknik, dan gagasan mereka dalam satu perhelatan yang tak sekadar merayakan mode, tetapi juga melihat kemungkinan-kemungkinan baru untuk masa depannya.

Mengusung visi Re-Crafted: Shaping the Future, JF3 tahun ini kembali menegaskan perannya sebagai sebuah ekosistem yang mempertemukan kreativitas, tradisi, inovasi, hingga regenerasi dalam industri mode. Bagi redaksi CLARA, perjalanan selama tujuh hari menyaksikan langsung perhelatan ini menjadi kesempatan untuk melihat bagaimana para desainer menerjemahkan semangat tersebut melalui bahasa visual mereka masing-masing.

Dari eksplorasi material dan kekayaan tradisi hingga permainan siluet yang lebih eksperimental, sejumlah nama berhasil mencuri perhatian kami. Mereka bukan hanya menghadirkan koleksi yang menarik secara estetis, tetapi juga menawarkan cara pandang berbeda mengenai ke mana mode Indonesia tengah bergerak. Berikut adalah deretan desainer lokal yang meninggalkan impresi paling kuat di panggung BRI - JF3 Fashion Festival 2026.

Billy Tjong - FUCHSIA: The Color of a Legacy

Merayakan 25 tahun perjalanannya di dunia mode, Billy Tjong menghadirkan FUCHSIA sebagai sebuah memoar visual yang merangkum perjalanan kreativitas, craftsmanship, dan ekspresi dirinya. Fuchsia sendiri bukanlah warna yang asing bagi Billy, berulang kali muncul sebagai aksen dalam karya-karyanya. Kali ini, untuk pertama kalinya, warna favorit tersebut mengambil utuh panggung utama dalam 28 tampilan yang menelusuri kembali berbagai fase karier Billy, dari siluet dan teknik ikonis hingga interpretasi kontemporer atas karya-karya terdahulu.

FUCHSIA terasa seperti dialog antara masa lalu dan masa depan. Eksplorasi khas Billy terhadap corsetry dan feminitas diterjemahkan kembali melalui perspektif yang lebih kontemporer, sementara keterlibatan talenta-talenta muda membuka ruang bagi interpretasi baru atas warisan desainnya. Hasilnya adalah sebuah koleksi yang tidak berhenti pada nostalgia, melainkan menunjukkan bagaimana sebuah bahasa kreatif dapat terus berevolusi.

Tities Sapoetra - THRESHOLD: Between Then and Tomorrow

Beranjak dari refleksi personal menuju fase transformasi, Tities Sapoetra menghadirkan THRESHOLD sebagai interpretasi atas ruang liminal. Sebuah titik ketika masa lalu perlahan dilepaskan dan kemungkinan baru mulai mengambil bentuk. Koleksi ini menarik perhatian melalui evolusi visualnya yang subtil: warna-warna terang bergerak menuju palet yang lebih dalam, siluet lembut bertransformasi menjadi bentuk yang lebih terstruktur, sementara material ringan berkembang menjadi tekstil dengan karakter yang lebih kuat. 

Detail menjadi bahasa utama koleksi ini: embellishment, bordir, elemen dekoratif, hingga konstruksi presisi berpadu dengan draperi yang mengalir dan tailoring yang tegas, menciptakan keseimbangan antara romantisme dan struktur. 

Hartono Gan - HEARTBEAT: Back to the Essence

Jika sebelumnya kita sudah berbicara tentang ruang di antara masa lalu dan masa depan, Hartono Gan justru memilih untuk kembali pada sesuatu yang paling fundamental: pakaian itu sendiri. Bertajuk HEARTBEAT, koleksi ini menjadi dialog antara realitas kehidupan hari ini dan romansa ingatan sang desainer terhadap dunia mode di era 1990-an. Di tengah perubahan pola konsumsi yang semakin adaptif, Hartono Gan menggeser perhatian dari tren menuju esensi, dengan menghadirkan busana yang berkualitas, fungsional, dan dirancang untuk melampaui pergantian musim. 

Semangat tersebut diterjemahkan melalui siluet khas 90-an yang bersih, terkonstruksi, dan minimalis. Kemeja dirancang untuk dikenakan sebagai lapisan dalam maupun luaran, jaket berbahan silk hadir dengan karakter versatile, sementara celana dan gaun menawarkan fleksibilitas antara kebutuhan formal dan kasual. Setelan jas bergaya gender-neutral melengkapi koleksi yang terasa understated, namun justru memberi ruang bagi pemakainya untuk menjadi pusat perhatian.

YASA - NIHI Voyage: From Heritage to Horizon

Melanjutkan eksplorasi tentang bagaimana identitas lokal dapat menemukan bentuk baru di tengah mode kontemporer, YASA menghadirkan pendekatan yang lebih dekat pada alam dan kekayaan wastra Nusantara. Terinspirasi dari lanskap ikonik NIHI, koleksi bertajuk NIHI Voyage ini menerjemahkan flora dan fauna Indonesia ke dalam motif bordir yang kaya detail, dengan arsiran yang mengambil karakter garis serta tekstur tenun tradisional Sumba. Hasilnya adalah busana pria yang terasa modern dan maskulin, namun tetap membawa jejak kuat dari akar budaya yang menjadi sumber inspirasinya.

Setiap detail dalam NIHI Voyage bekerja sebagai bagian dari narasi perjalanan. Siluet kontemporer berpadu dengan sentuhan artisan, sementara aksen kerang menjadi penutup yang mengikat koleksi pada lanskap pesisir dan semangat eksplorasi NIHI. Wastra tidak hadir sebagai sesuatu yang nostalgik, melainkan sebagai bahasa yang terus bergerak, membawa warisan, alam, dan identitas Indonesia ke dalam cara berpakaian pria masa kini.

RAEGITAZORO - LUMEN: Carrying the Light Forward

Dari eksplorasi warisan budaya, kita menuju lanskap yang lebih personal. RAEGITAZORO menghadirkan LUMEN: From Her Shadow to My Light sebagai sebuah studi tentang bagaimana ingatan dapat mengambil bentuk. Dipresentasikan melalui 30 tampilan, koleksi ini menerjemahkan pengalaman personal ke dalam tailoring yang terinspirasi arsitektur, konstruksi presisi, serta siluet sculptural yang terasa tegas namun tetap tenang. Proporsi, volume, dan struktur dibiarkan berbicara, melalui palet monokrom yang sesekali diterangi aksen hijau neon sebagai metafora bagi transisi, pembaruan, dan harapan.

LUMEN tidak berhenti pada kisah kehilangan. Koleksi ini justru berbicara tentang apa yang tetap tinggal setelah seseorang pergi: pengaruh, nilai, dan kekuatan yang perlahan membentuk siapa kita. Terinspirasi dari mendiang ibunda, sosok yang menjadi fondasi perjalanan sang desainer, memori diterjemahkan bukan sebagai nostalgia, melainkan sebagai sesuatu yang terus bergerak dan berevolusi. Volume yang semula longgar berkembang menjadi bentuk arsitektural yang lebih tegas, menciptakan dialog antara kerentanan dan kekuatan.

Sofie - ROOTS IN TRANSIT: Rooted, Yet Moving

Berangkat dari pengalaman hidup di antara dua dunia: keinginan untuk tetap membawa akar budaya, sekaligus dorongan untuk terus bergerak menuju masa depan, Sofie membawa percakapan tentang warisan ke perspektif generasi urban melalui ROOTS IN TRANSIT. Alih-alih menempatkan tradisi sebagai sesuatu yang tertinggal, Sofie melihat budaya sebagai identitas yang hidup, sesuatu yang dapat dibawa ke mana pun, tumbuh bersama pemakainya, dan menemukan bentuk baru dalam kehidupan kontemporer.

Gagasan tersebut diterjemahkan melalui bahasa visual yang mempertemukan identitas budaya Indonesia dengan karakter streetwear yang lebih relevan bagi generasi urban. 

AMOTSYAMSURIMUDA - HEIRLOOM FANTASY: Dressing the Past Anew

Jika beberapa desainer tadi memilih menengok warisan sebagai fondasi, AMOTSYAMSURIMUDA justru memilih untuk mengacaknya kembali. Melalui HEIRLOOM FANTASY, material-material lama yang ditemukan di dalam kotak penyimpanan rumah orang tua sang desainer diberi kehidupan baru, bertemu dengan energi teatrikal New Romantic dan kultur klub malam era 1980-an. Kain antik, tekstil tradisional, dan material warisan tidak lagi diperlakukan sebagai artefak yang harus dipertahankan dalam bentuk aslinya, melainkan dipotong, didraper, dan dikonstruksi ulang menjadi siluet dengan bahu lebar, kemeja fluid, celana high-waisted, hingga kerah dramatis. 

Di sinilah HEIRLOOM FANTASY menemukan daya tariknya: pada keberanian untuk memperlakukan tradisi sebagai sesuatu yang hidup. Masa lalu tidak diabadikan, tetapi dinegosiasikan kembali melalui fantasi, ekspresi diri, dan kebebasan untuk menentukan identitas.

_________

Pada akhirnya, apa yang kami temukan di panggung BRI - JF3 Fashion Festival 2026 bukan sekadar parade koleksi, melainkan beragam cara untuk membayangkan masa depan mode Indonesia. 

Pada titik ini, Re-Crafted: Shaping the Future terasa bukan sekadar tema, melainkan sebuah cara pandang. Sebab masa depan mode tidak selalu lahir dari sesuatu yang sepenuhnya baru; terkadang ia tumbuh dari apa yang kita pilih untuk ingat, bongkar, pertahankan, dan bentuk kembali. Dan jika tujuh hari JF3 meninggalkan satu kesimpulan bagi kami di redaksi CLARA, mungkin inilah: mode Indonesia tidak sedang mencari satu definisi tentang masa depan. Ia sedang menciptakannya, dengan tangan sendiri, dengan bahasa yang semakin berani, dan dengan warisan yang terus menemukan bentuk barunya.

Foto: Dokumentasi Resmi BRI - JF3 Fashion Festival 2026