Dior Returns to Shanghai, 79 Years After Christian Dior’s “Shanghai”

Dior akan membawa Cruise 2028 ke Shanghai pada Jumat, 14 Mei 2027, di bawah arahan Jonathan Anderson

Hampir delapan dekade lalu, Shanghai terlebih dahulu hadir dalam sejarah Dior bukan sebagai lokasi pertunjukan, melainkan sebagai sebuah nama. Pada 1948, hanya setahun setelah Christian Dior memperkenalkan siluet yang kemudian dikenal sebagai New Look, sang couturier menamai salah satu look dalam koleksi Haute Couture Spring–Summer 1948 dengan nama Shanghai. Kini, 79 tahun kemudian, nama tersebut seolah menemukan jalan pulang. Pada Jumat, 14 Mei 2027, Dior akan membawa Cruise 2028 ke kota yang pernah hidup dalam imajinasi sang pendiri, kali ini melalui visi Jonathan Anderson.

Pemilihan Shanghai terasa seperti sebuah dialog lintas waktu. Jauh sebelum cruise show menjadi bagian penting dari kalender mode global, Christian Dior telah menjadikan nama-nama tempat, perjalanan, dan dunia yang jauh dari Paris sebagai bagian dari kosakata kreatifnya. Yang menarik, Dior belum pernah menginjakkan kaki di China ketika ia menciptakan look Shanghai tersebut. Ketertarikannya terhadap budaya Timur justru tumbuh melalui imajinasi, referensi visual, serta atmosfer yang telah lama menarik perhatiannya. Setelah Shanghai, ketertarikan tersebut kembali muncul dalam berbagai nama dan motif yang berkaitan dengan China, termasuk Pékin, Chinoiseries, Nuit de Chine, dan Bleu de Chine.

Kembalinya Dior ke Shanghai kali ini terasa lebih dari sekadar pemilihan sebuah kota untuk cruise show. Pada 2010, John Galliano pernah membawa Dior ke Shanghai untuk presentasi Cruise, menjadikan kota tersebut sebagai panggung berskala besar bagi Maison. Shanghai juga kembali menjadi titik penting bagi Dior melalui presentasi dan berbagai proyek budaya pada tahun-tahun berikutnya.

Namun, pada 2027, babak tersebut akan ditulis oleh Jonathan Anderson. Sebagai creative director baru Dior, Anderson tengah memasuki periode ketika hubungan antara arsip dan masa depan menjadi bagian penting dari eksplorasinya terhadap Maison. Kunjungannya ke Dior Heritage baru-baru ini bahkan memperlihatkan ketertarikannya terhadap cara Christian Dior menggunakan masa lalu sebagai bahan untuk membangun sesuatu yang baru.

Shanghai, dengan demikian, menghadirkan sebuah kebetulan yang terlalu puitis untuk diabaikan. Pada 1948, Christian Dior menciptakan Shanghai sebagai sebuah gagasan—sebuah nama yang lahir dari imajinasi seorang couturier terhadap dunia yang belum ia datangi. Pada 2027, Jonathan Anderson akan membawa Dior ke kota tersebut secara nyata. Hampir delapan puluh tahun memisahkan keduanya, tetapi satu nama tetap menjadi penghubung: Shanghai.

Kini, pertanyaannya bukan lagi bagaimana Dior membayangkan Shanghai, melainkan bagaimana Shanghai akan membentuk Dior yang baru.