Baik atau buruknya sebuah tahun selalu dilihat dari memori yang tercipta. Dan akhir tahun kemarin, banyak pertanyaan saya lontarkan kepada teman terdekat, how this year had been to them. Scared to be the only one, saya bertanya apakah tahun 2019 juga merupakan tahun yang kurang baik bagi mereka. Jahat jika lega, namun itulah yang saya rasakan ketika banyak yang juga merasakan, 2019 merupakan tahun yang berat, tahun yang penuh perubahan, penuh akhir dan juga awal.

 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by CHANEL (@chanelofficial) on

 

One of the biggest and unexpected transition in fashion industry also happened in 2019. Ada banyak akhir dari sebuah masa, jabatan, bahkan hidup dari desainer-desainer paling berpengaruh di dunia. Tanggal 19 Februari 2019 menjadi hari paling berduka bagi industri ini. Meninggalnya Karl Lagerfeld pada usianya ke-85 bukan hanya mengosongkan posisi seorang creative director, namun juga menghapus impian saya sejak kecil untuk suatu hari nanti melihat Karl dan karyanya secara langsung. But more than that, many people felt shattered for losing a friend, a family, a leader, an idol.

 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by CHANEL (@chanelofficial) on

 

Sebagaimana hidup terus berjalan, rumah mode yang ditinggalkan Karl pun kembali menyesuaikan posisi yang kosong. CHANEL memutuskan mengangkat tangan kanan Karl selama 30 tahun, Virginie Viard, untuk menjadi creative director. Bahkan di show terakhir Karl, Chanel Haute Couture Spring 2019, tiba-tiba saja ia tidak muncul memberikan final bow karena kondisi fisik yang melemah. Absennya Karl membuat Viard hadir sendiri pada show Chanel untuk pertama kalinya, sebulan sebelum Karl menghembuskan nafas terakhir.

 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Silvia Venturini Fendi (@silviaventurinifendi) on

 

Begitu pula dengan rumah mode FENDI. Rumah mode yang telah dipimpin Karl selama 54 tahun ini memilih Silvia Fendi sebagai creative director baru. Silvia menggores nama pertama kali dengan mendesain tas baguette FENDI yang kemudian menjadi “The It Bag” pada tahun 1997, sejak saat itu, Silvia membuktikan dirinya layak menjadi penerus usaha kakek dan neneknya, Adele dan Edoardo Fendi.

 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by felipeoliveirabaptista (@felipeoliveirabaptista) on

Di luar Chanel dan FENDI, ada juga rumah mode Kenzo yang mengganti creative director mereka tahun lalu. Felipe Oliveira ditunjuk menjadi penerus pengganti Carol Lim dan Huberto Leon yang telah menjabat posisi tersebut selama 8 tahun. Felipe sebelumnya adalah creative director dari Lacoste yang jika Anda ingat, mengganti logo buaya Lacoste dengan 10 binatang yang terancam punah. I guess no one can ever forget that epic collection.. Saya mengira-ngira apa yang akan dibuat Felipe sambil menggandeng Kenzo..

 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by LANVIN (@lanvinofficial) on

 

Perubahan juga terjadi di rumah mode asal Paris yang berusia 131 tahun, Lanvin. Bruno Sialelli yang dahulu mengepalai menswear di Loewe kini diberi tanggung jawab untuk mengembalikan garis sales Lanvin yang kerap menurun sejak 2012. Walau memiliki segudang pengalaman di brand besar lainnya, saya membayangkan betapa beratnya ekspektasi yang ditumpahkan kepadanya.

 

 

Melihat perubahan yang banyak terjadi di beberapa rumah mode ini, sejenak menyadarkan saya bahwa selalu ada awal di setiap akhir. Di saat jalan yang ditempuh sudah terasa familiar, akan ada jalan baru yang harus ditempuh, perubahan yang membawa pertumbuhan. And for now, let’s just see what these fresh minds are going to put on the table.