Judul diatas bukan menggambarkan situasi tanpa Listrik, atau pun ruangan tanpa cahaya. Melainkan maksud artikel saya disini ingin menggambarkan bahwa politik di setiap ranah pekerjaan pasti memiliki sisi kelamnya. Artinya disini bahwa setiap industri pekerjaan memiliki politiknya tersendiri yang tak sengaja diciptakan oleh para pemain di dalamnya. Dan semua ini disebabkan oleh perbuatan para manusia.
Pekerjaan adalah sesuatu yang apabila kita selesaikan secara satu persatu pasti akan selesai, sesuai timeline yang diciptakan. Namun apakah itu sesuai dengan ekspektasi dan harapan kita? Belum tentu. Karena diluar sana banyak motif yang ingin menjatuhkan kompetitor. Ingin menjadi paling unggul dan menjadi terdepan, sehingga saling sikut dan jegal itu sangat lazim terjadi di industri pekerjaan.
Fashion, film dan music ketiga ranah ini merupakan tiga industri yang sangat dekat kiranya dengan ruang lingkup gaya hidup. Yang mana ketiga saling beririsan dan sama-sama mengutamakan kesempurnaan tanpa celah. Maka ketika suatu karya diluncurkan mereka sudah harus siap menerima pujian bahkan cacian. Pola pandang banyak mata yang melihat sulit untuk dikontrol, berakar dari sinilah berkembang menjadi dengki dan kecemburuan yang kemudian menjadi politik jahat untuk menjatuhkan.
Bahkan seringkali kita melihat dalam malam apresiasi Oscar, banyak film-film yang kita prediksi akan menang justru berakhir sebaliknya. Sehingga tampak betul seperti ada permainan di dalamnya yang kurang wajar. Mungkin dibalik layar ada banyak kepentingan lain yang tidak kita ketahui. Begitu pula dengan anugerah grammy, yang seringkali mencengangkan dengan hasil keputusannya.
Maka jika selama ini kita selalu didoktrin untuk bekerja sesuai dengan passion, maka janganlah berharap lebih bahwa passion itu akan memberikan lebih sesuai dengan usaha yang kita keluarkan, karena ketika kita sedang berjuang untuk menaiki tangga di posisi puncak, banyak pihak yang akan menarik kaki kita untuk kembali kebawah.
Photo by Trarete – Pexels.com