Challenge Is Real

Bekerja dengan generasi milenial. Tantangan ataukah penderitaaan?

Sejujurnya saya menderita. Tetapi apa boleh buat. Masa depan bukan milik generasi saya atau di atas saya yang mungkin sudah keluar masuk rumah sakit, jadi saya mencoba mengubah penderitaaan itu menjadi sebuah tantangan. Bahkan saat Anda membaca tulisan ini saya masih dalam sebuah perjuangan untuk menjadikan tantangan itu sebagai sebuah kebahagiaan.

Saya berhenti tenggelam dalam stereotyping tentang generasi muda ini. Saya berusaha untuk melihat fakta tentang siapa mereka. Dengan fakta itu saya menjalani kehidupan profesional dan sosial. Jangan menanyakan apakah saya sudah berhasil. Saya masih suka terkaget-kaget bagaimana mereka menangani sebuah masalah.

Mereka generasi yang sangat kreatif tetapi dalam pengalaman saya, mereka lemah dalam menindaklanjuti kreativitas yang mereka suguhkan. Akan ada sejuta keluhan yang saya bisa ceritakan. Tetapi itu tak penting. Kalau terus mengeluh saya yang tambah sengsara, mereka tetap tak peduli. Kemudian saya berpikir seperti dalam sebuah pernikahan meski saya tak pernah menikah.

Sebuah pernikahan adalah sebuah tantangan yang tak pernah berhenti. Ada yang frustrasi menjalaninya dan berakhir dengan perceraian, ada yang bertahan dengan babak belur, dan ada yang bertahan karena saling mengerti. Saya mau memiliki pernikahan dengan generasi milenial dengan pengertian.

Pengertian tidak menihilkan masalah. Pengertian meringankan masalah yang ada. Pengertian menghentikan sterotyping. Bahkan pengertian mengantar saya ke sebuah pengalaman yang berbeda. Kalau generasi milenial super kreatif dan lemah dalam menindaklanjuti, maka saya mengambil alih untuk mengingatkan. Sama seperti  dalam sebuah pernikahan yang saling mengerti, maka salah satu pasangan menurunkan, yang satu menaikkan.

Tantangan yang masih saya jalani mengubah saya. Saya menjadi lebih sabar, saya menjadi lebih matang, saya menjadi terbuka sehingga sekarang saya mampu meredefinisikan apa itu sopan santun, apa itu tepat waktu, apa itu malas dan sebagainya. Dan terutama saya menjadi manusia yang tak selalu merasa bahwa saya benar hanya karena saya sudah tua, karena jam terbang saya sudah banyak.

Senangnya dengan tantangan, itu membuat saya naik kelas dan selalu merasa ada saja yang perlu dipelajari.