Suatu hari siang yang cerah, di sebuah akhir pekan. Saya bertemu seorang pria yang berasal dari generasi Z yang berumur 21 tahun. Cara berpakaiannya yang dapat dikatakan eksploratif menyiratkan bagaimana karakter dirinya yang ekstrovert ‘mentok’. Kiranya begitu ia memasuki ruangan, seluruh orang – orang yang berada di dalam ruangan akan otomatis menyambutnya dengan sumringah. Bahwa ia tau benar cara membuat semua mata tertuju padanya, and yes all eyes on him.

 

Pribadinya yang begitu percaya diri, menyiratkan bahwa ia tak memiliki keraguan untuk bersenda gurau dengan orang-orang yang usianya terpaut jauh darinya. Ia pun tahu benar bagaimana membuat suatu percakapan sehingga spotlight akan jatuh pada dirinya. Ia pun mulai mengangkat topik pembicaraan mengenai kisah percintaannya yang kandas. “Aku baru saja putus, Kak dengan mantanku setelah 3 tahun pacaran”. Saya pun menangapinya dengan bertanya apa yang menyebabkan hubungannya kandas. Lalu ia pun berkata “Pacarku berselingkuh dengan seseorang di Roblox, tapi mereka gak pernah ketemuan. Tapi aku nge-gap in mereka berselingkuh, pergi ke pantai berdua di Roblox".

 

Saya pun heran sekaligus terkagum-kagum dengan problema generasi sekarang yang begitu advance, seolah saya yang tertinggal jauh dengan kehidupan saat ini. Bagaimana bisa seseorang dikatakan berselingkuh tanpa pernah bertemu dan hanya melalui game online saja. Bagaimana bisa membangun perasaan tanpa pernah berjumpa, dan hanya melalui karakter dalam dunia maya.

 

Belum berhenti disitu, ia pun menceritakan bahwa dirinya saat ini sudah jenuh dengan lifestyle nightlife seperti pergi clubbing. Baginya era tersebut sudah selesai dan ia menyatakan pensiun. Dan saya pun berucap “Di usia kamu yang baru berusia 21 tahun, yang seharusnya baru legal untuk ke club, kamu malah pensiun. Memang kamu sudah clubbing di usia berapa?” Lalu ia pun mengatakan bahwa ia sudah clubbing sejak enam tahun yang lalu. Artinya ia sudah mulai mengenal dunia malam sejak usia 15 tahun. Wow! Sekali lagi saya terkesima. Karena ketika saya dulu berusia 15 tahun, saya masih menikmati film-film animasi Disney.

 

Dari dua pengalaman anak tersebut, membuat saya takjud sekaligus heran kepada generasi Z, mengapa begitu mudah mengambil keputusan yang tidak valid dan mempunyai rasa penasaran akan kehidupan dewasa di usia yang sangat muda?,  apa sebenarnya yang ada di dalam otak manusia muda saat ini? Bagaimana nanti perkembangan generasi selanjutnya? Yang dari sejak lahir sudah dijejalkan smartphone atau tablet?

 

Lantas bagaimana dengan perkembangan mental para generasi berikutnya, yang  saat ini yang hanya mengandalkan chat GPT sebagai penasehat sehari-harinya? Apakah nantinya mereka sudah tidak akan mendengarkan nasehat orang tuanya, dan hanya mendengarkan Chat GPT?…hhmm saya tidak berani membayangkannya.