Be Careful What You Wish For

Saya kira rumah adalah tempat paling nyaman, namun nyatanya tidak selalu demikian.

Saya lelah. Saya penat. Saya ingin di rumah saja. Ya, itu yang saya pikirkan setidaknya satu bulan lalu. Saya muak dengan rutinitas sehari-hari yang memaksa saya untuk mengabiskan setidaknya satu jam perjalanan menuju ke kantor. Saya sulit menemukan semangat untuk bekerja sekalipun ditemani dengan riuh canda rekan-rekan di kantor. Rasanya saya hanya ingin di rumah. Sendiri. 

Saya pikir akan lebih mudah jika semuanya dikerjakan di rumah. Tidak perlu repot merias wajah atau memilih pakaian yang rapi. Tidak perlu menghabiskan uang transportasi. Tidak perlu basa basi. Saya pikir. Namun, nyatanya saya salah. Satu hari tidak apa. Namun, menginjak hari ke empat, saya frustasi. Saya merasa sepi.

Saya rindu komunikasi bertatap muka. Saya rindu melihat raut wajah seseorang atau mendengar intonasi nadanya tanpa harus menerka-nerka bagaimana pesan tersebut disampaikan. Saya rindu dengan bebas berkeliaran tanpa rasa takut berlebihan. Saya ingin kebebasan. Tapi, sebentar. Jika yang saya inginkan kebebasan tanpa batas, apakah ketika saya mendapatkannya nanti, rasanya pun seperti ini? Seperti termakan doa sendiri?

Entahlah. Hanya ini yang saya ketahui saat ini. Tidak ada kondisi pasti untuk menjawab apa yang dicari. Tidak ada kondisi dalam hidup yang bisa memuaskan seluruh keiinginan manusia. Tidak juga berdiam diri di rumah. Ya, tidak juga dengan berdiam diri di zona paling nyaman sekalipun. Manusia terlalu kompleks untuk diterjemahkan semudah itu.