Yang Indah di bawah Pulau Rempah

Ketika pertama kali saya ditawarkan untuk berkelana ke Jailolo, saya sempat mengerutkan dahi, mendengar namanya saja saya belum pernah. Tetapi semenjak perjalanan saya ke Raja Ampat, saya terobsesi dengan keindahan alam Indonesia Timur yang masih belum banyak dieksplorasi. 

Setelah mencari informasi dan diiming-imingi foto keindahan bawah laut Halmahera Barat yang dipamerkan kepada saya, pada bulan Desember 2012 yang lalu, saya pun menginjakkan kaki saya di kepulauan Maluku Utara untuk pertama kalinya. Disambut dengan pagi yang sejuk di Ternate, saya dan teman-teman disambut ramah oleh petugas di Bandar Udara Sultan Babullah di Ternate; maklum, kami berangkat dari Jakarta bersama dengan rombongan Bupati Jailolo Ir. Namto H. Roba dan puteri-nya Irine Roba yang menjadi dive guide kami di Jailolo. Kami pun dibawa ke kediaman beliau di Ternate untuk menikmati sarapan khas lokal berupa Nasi Kuning yang ditemani oleh mie goreng, sambal kentang, potongan ikan cakalang dan tidak lupa sambal khas Indonesia Timur yang terkenal pedasnya.

Persiapan diving pun dimulai, saya diantar ke NasiJaha Dive Centre; operator selam  di Ternate yang akan membawa saya ke beberapa titik selam di sekitar pulau Ternate. Setelah mempersiapkan peralatan selam, mengatur ukuran BC (Buoyancy Compensator) dan Regulator, saya pun bertolak ke Pelabuhan Perikanan Ternate.

Florida(s) Ke Baghdad

Titik selam yang saya kunjungi pertama adalah Floridas yang dinamakan dari restoran yang berada dibukit tidak jauh dari sana. Floridas adalah salah satu restoran yang cukup terkenal dengan pemandangannya. Mau membayangkan seperti apa? Coba anda ambil secarik uang kertas seribu rupiah dan lihat pemandangan Pulau Tidore dan Maitara dibelakangnya. Ya, foto pemandangan tersebut diambil dari restoran Floridas dan banyak pengunjung Ternate yang menyempatkan diri untuk kesana dan menikmati sendiri pemandangannya. Namun, menurut divemaster saya di Ternate Adit & Samar, lebih banyak yang lebih suka makanan di restoran Baghdad yang tidak jauh dari Floridas. Makanya ada istilah menyelam di Floridas, makan di Baghdad yang cukup populer di kalangan diver di Ternate.

Floridas merupakan titik selam yang didominasi oleh Coral Wall dikarenakan kontur alam dari bukit dan pulau disekitarnya. Dengan kedalaman maksimum sekitar 32 meter dibawah permukaan laut, siluet coral yang menyerupai bangunan Candi menjadi salah satu favorit penyelam yang berkunjung ke Floridas. Selain terumbu karang sehat yang berwarna-warni, kumpulan Batfish dan juga Dartfish juga kami jumpai di Floridas berikut dengan beragam Anemone Fish, Angelfish dan juga Coral fish lainnya.

Setelah surface interval dan makan siang, saya dibawa ke spot kedua di Tanjung Konde. Yang spesial dari Tanjung Konde adalah gugusan Table Coral yang besarnya mencapai 12-15 meter di kedalaman 5-7 meter dibawah permukaan laut. Dengan snorkeling saja sudah bisa dilihat keindahan terumbu karang dan biota laut yang tinggal di dalamnya. Tentunya, sensasi melihat secara dekat jauh lebih menyenangkan untuk saya dibandingkan dengan hanya mengintip dari permukaan laut saja.

Setelah 45 menit saya habiskan di Tanjung Konde, saya pun menaiki kapal dari Pelabuhan Dufa-Dufa yang terletak di dekat Masjid Raya Ternate (yang juga merupakan titik selam untuk muck dive) menuju ke Jailolo di Halmahera Barat.

Teluk Jailolo

Kota Jailolo merupakan ibukota Kabupaten Halmahera Barat dengan luas 2.755 km persegi yang menaungi 94.000 jiwa ini terletak 20 kilometer di utara Pulau Ternate. Jailolo menjadi pelabuhan utama bagi desa-desa yang berada di pesisir barat daya Pulau Halmahera. Sebelum Kesultanan Ternate masuk di tahun 1551, Jailolo merupakan pusat kekuatan politik di Halmahera dan Jailolo banyak dikenal dengan sebutan “Gilolo” dalam literatur barat.

Saya diantar ke Pondok Saloi, penginapan yang dikelola oleh Bupati Halmahera Barat yang dikelilingi kebun sayur-mayur dan compound yang berisikan 13 ekor rusa. Dibelakangnya berdiri sebuah Gazebo diatas danau air tawar alami. Sebagai warga Jakarta, pemandangan dan suasana seperti ini yang bisa saya definisikan sebagai vakansi.

Satu sajian yang saya tidak lupakan di Pondok Saloi adalah Pisang Mulut Bebek. Hampir mirip dengan pisang goreng khas Sulawesi, Pisang Mulut Bebek adalah sejenis pisang tanduk yang lebih kecil dan digoreng kering setelah direndam dalam air garam. Pisang ini kemudian disajikan hangat dengan Sambal Roa atau dabu-dabu iris yang segar. Kudapan ini tidak hanya ada di sore hari, tetapi sering disajikan juga di pagi hari di Pondok Saloi.

Pulau Buabua

Keesokkannya kami bertolak ke titik selam pertama dari Gilolo Dive Center menuju NHR 6. Bersama Irine dan Guide lokal Martin & Jojo, kami pun turun ke kedalaman 18 meter dan memulai eksplorasi keindahan bawah laut Teluk Jailolo.

Kami disambut beragam Cigar Corals, Lettuce Corals dan Tree Corals mulai dari kedalaman 10 meter, di sekitaran Anemone kami pun disambut kawanan Clownfish, Anthias dan juga Angelfish. Kami juga menemukan Phyllidiella Nigra –species nudibranch atau siput laut, didekat gugusan Sea Squirts yang berwarna keunguan. Selang beberapa saat, Martin memberikan sinyal hiu kearah saya, ketika mencoba mencari saya melewatkan kesempatan untuk mengabadikan seekor White Tip Reef Shark sepanjang 1.5 meter yang katanya berenang tidak jauh dari saya.

Surface Interval kami habiskan di Pulau Buabua, sebuah pulau kecil ditengah-tengah Teluk Jailolo yang juga dikelilingi oleh Coral Wall tempat kami menyelam berikutnya. Di bawah Pulau Buabua, kami menemukan banyak Giant Sea Fan; rumah indah yang sering dihuni oleh Pygmy Seahorse, kuda laut mikro sebesar ujung kuku yang mengkamuflasekan tubuhnya ke biota sekitarnya. Kami menemukan dua ekor yang bersarang di Sea Fan berwarna kemerahan tidak jauh dari seekor nudibranch Phyllidia yang cantik warnanya.

Pulau Pastofiri dan Tanjung Gurano

Dalam bahasa lokal Gurano diartikan sebagai Hiu, Tanjung Gurano adalah salah satu pantai berkarang yang didekatnya ada titik selam NHR 8 yang terkenal dengan hiu-nya. Berbekal botol air mineral kosong, dive guide kami Jojo menggerus dan meremas-remas botol tersebut hingga mengeluarkan suara di kedalaman 14 meter. Konon, suara tersebut menyerupai suara hiu yang sedang makan, sehingga akan mengundang hiu-hiu lainnya untuk datang dan ikut mencari makanan. Sayangnya kami agak sedikit kesiangan, sehingga tidak ada hiu yang kami temui, melainkan Pygmy Seahorse lagi –kali ini berwarna jingga, dan seekor nudibranch Notodoris yang menyerupai seekor sapi dengan warna monokrom dan bertanduk.

Sama seperti Pulau Buabua, Pulau Pastofiri juga menjadi tempat interval kami, dikelilingi oleh coral wall dan juga bebatuan, keragaman biota di Pastofiri menjadi salah satu yang paling beragam di Jailolo. Tidak lama setelah kami turun, seekor Lobster karang sebesar tangan orang dewasa menyambut kami dibalik batu karang. Di sana kami juga mendapati seekor Crocodile Fish sepanjang satu meter yang menyamarkan tubuh dan moncong panjangnya yang menyerupai buaya diantara gundukkan pasir. Diantara beberapa Giant Clam kami juga dikejutkan oleh seekor Moray Eel yang mengintip dari balik bebatuan habitatnya. Kejutan terakhir adalah seekor Pinnate Batfish yang cukup jarang ditemui dengan siripnya yang memanjang ketika kami melakukan safety stop di kedalaman 6 meter.

Berburu Si Cantik Mandarin Fish

Salah satu daya tarik di Jailolo adalah Mandarin Spot titik selam tepat di depan Gilolo Dive Center yang merupakan habitat dari Mandarin Fish, ikan cantik dengan motif loreng berwarna biru, hijau dan oranye. Kami turun ke kedalaman 7 meter sekitar pukul 17:30 –jam dimana kabarnya Mandarin Fish di sekitar Gilolo House Reef tersebut akan keluar, ditemani dengan sampah-sampah dan aroma bahan bakar diesel untuk melakukan muck dive.

Selang 10 menit, kami sudah menemukan sekelompok Mandarin Fish dengan warna yang sangat indah. Ikan ini perlahan berenang dan mengumpat dibalik kumpulan karang yang sudah mati dengan anggun. Siripnya bergoyang kecil menyerupai seekor naga, dibalut dengan loreng jingga di kulitnya yang berwarna biru atau hijau cerah. Disana kami juga menemukan Giant Clam, Upside-Down Jellyfish dan juga seekor Mimic Octopus; gurita kecil berbulu sebesar telapak tangan.

Sunset Di Pantai Galau

10 menit berkendara dengan mobil, saya dibawa oleh Irine dan Martin menuju Banehena alias Pantai Galau. Nama Pantai Galau sendiri diberikan oleh Irine yang menurutnya sangat cocok untuk merenung kalau suasana hati sedang galau. Banehena bukan pantai pasir melainkan pantai bebatuan yang dikelilingi air sangat jernih, saya siap untuk langsung masuk ke dalam air sambil mengabadikan matahari terbenam yang begitu indah.

Siluet jingga matahari yang terbenam dibalik bukit menyambut saya di Banehena. Cahayanya terpantul di permukaan biru jernih dari air laut yang membuat goresan warna-nya makin indah. Ditambah lagi dengan desir ombak yang perlahan menerpa bebatuan tempat saya berdiri dan suara gembira anak-anak Jailolo yang sedang bermain di dekat Dermaga tidak jauh dari sana, menambah keindahan Sunset yang saya nikmati di Pantai Galau.

Festival Teluk Jailolo

Sebagai sarana untuk mempromosikan industri pariwisata di Halmahera Barat, pemerintah daerah setempat mengadakan Festival Teluk Jailolo; sebuah acara tahunan yang mengangkat kebudayaan lokal dan juga keindahan alam di Halmahera Barat. Beberapa acara seperti fun diving dan underwater photography competition menjadi daya tarik sendiri untuk penyelam domestik maupun internasional.

Wisatawan juga diajak untuk menjelajahi kekayaan rempah-rempah di Halmahera Barat seperti lada, pala, kayu manis dan lain-lain, juga ekspedisi burung Bidadari di kaki gunung Jailolo juga dilakukan selama festival berlangsung. Pengunjung festival juga diajak untuk melihat budaya lokal seperti tarian Sara Dabi-Dabi, Legu Salai dan juga tari Cakalele.

Selama festival akan banyak ditemukan sajian khas Jailolo seperti Pisang Mulut Bebek, Nasi Jaha dan masih banyak lagi. Puncak perayaan Festival Teluk Jailolo dirayakan dengan Cabaret of The Sea, sebuah pertunjukkan sendra tari yang dilakukan dipanggung yang dibangun diatas laut.

Teks: Adithya Pratama / Foto: Adithya Pratama, Dedy Koswara & Samar Ishak

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Basically, there’s always time to stop and stare at the precious one.

FOLLOW US ON