Why You Shouldn’t Watch Batman v Superman

Why You Shouldn’t Watch Batman v Superman

Mari periksa daftar film yang ditunggu tahun ini. Apakah Batman v Superman: Dawn of Justice ada di dalamnya? Jika iya, coba pikir ulang.

Kisah tentang superhero selalu menarik perhatian. Aksi laga nan seru menjadi sajian utama. Peralatan-peralatan canggih mengundang decak kagum. Pertarungan yang tak pernah usai antara kebaikan dengan kejahatan. Tapi kemudian, kejahatan berevolusi. Terus-menerus mengalami kekalahan, ruh jahat membentuk kekuatan yang lebih kuat. Kekuatan superjahat yang tak akan mungkin dikalahkan oleh hanya seorang superhero. Para superhero, yang sebelumnya muncul dalam film-film terpisah, pun dikumpulkan. Satu yang harus selalu dipegang: kebaikan tak akan pernah dikalahkan oleh kejahatan. Dan karena para penjahat membentuk kekuatan superjahat, para superhero pun harus membentuk kekuatan kebaikan yang super pula (padahal mereka sebelumnya sudah super).

Nyatanya, itu belumlah cukup. Apa yang menarik dari kebaikan melawan kejahatan? Toh, pada akhirnya, sudah bisa dipastikan pihak mana yang akan menjadi pemenang. Tapi, bagaimana jika kebaikan yang melawan kebaikan? Lebih tepatnya, sosok yang sebelumnya baik lalu berubah menjadi jahat melawan sosok baik yang tetap baik. Dan sepertinya, tema itu yang menjadi tren untuk film superhero tahun ini. Setidaknya Captain America: Civil War dan Batman v Superman: Dawn of Justice menggunakan pola itu. Hmmm…. Ini siapa yang mencontek siapa? DC? Marvel? Tapi, ya, sudahlah.

Sulit menebak siapa pemenang pertarungan antara Iron Man dengan Captain America. Pasalnya, kedua superhero itu merupakan “ciptaan”. Tapi, setidaknya bagi saya, tidaklah sulit menebak pemenang antara Batman melawan Superman. Dengan bekas cedera di sekujur tubuh Bruce Wayne, dia bukanlah lawan sebanding bagi mahluk yang tak pernah cedera seperti Clark Kent. Itu baru satu hal. Hal lainnya: nyali besar dan aneka peralatan canggih tidak bisa menafikan fakta bahwa Bruce Wayna adalah seorang manusia, yang bisa meninggal dunia. Selain itu, kecuali Bruce Wayne memiliki kryptonite, yang sepertinya tidak jika melihat cerita-cerita Batman selama ini, suatu hal yang mustahil bahwa dialah yang akan menjadi pemenang dalam pertarungan ini. Lagipula, Batman Space baru ada di versi Lego. Dan ketika Superman mengajak koleganya ini plesiran ke angkasa luar sana, itu menjadi pertanda akhir perjalanan si manusia kelelawar.

Lalu, dimana letak keseruan menyaksikan aksi-aksi menegangkan jika cerita akhirnya sudah bisa diketahui? Kecuali Anda penggemar kesenian wayang, menonton film yang sudah diketahui akhir ceritanya bukanlah hal yang menarik. Apalagi di dalam ruang teater tidak ada tukang sekoteng atau kacang rebus.

Lebih dari itu, ketika membaca sinopsis, sepertinya cerita dalam film ini lebih condong memihak pada Superman. Alasannya, karena hadirnya Lex Luthor yang mengkreasikan Doomsday untuk menghancurkan Metropolis. Dengan semua alasan itu, agak mustahil Batman yang akan menjadi pemenang – kecuali jika dia kerakusan virus haus kekuasaan dan ingin menjadikan Metropolis sebagai teritori kedua.

Namun, kehadiran Lex Luthor bukan sekadar mengarahkan film ini sebagai milik Superman. Adanya sosok yang benar-benar jahat akan mengembalikan orang baik yang menjadi jahat untuk kembali menjadi baik. Kembali kepada prinsip utama: kebaikan tidak mungkin dikalahkan oleh kejahatan. Bukankah musuh bersama akan membuat pihak manapun melupakan perseteruan di antara mereka?

Namun, ada hal lain yang cukup mengganggu ketika membaca sinopsis film ini. “It’s up to Superman and Batman to set aside their differences along with Wonder Woman to stop Lex Luthor and Doomsday from destroying Metropolis.” Ada superhero lain dalam film ini. Superhero yang dengan kekuataannya dapat menangani niat jahat yang dilakukan Lex luthor. Lalu, kenapa Batman dan Superman harus mengesampingkan perseteruan di antara mereka? Atau, tidakkah cukup Wonder Woman untuk mengalahkan Lex Luthor dan Doomsday? Apakah wanita masih tetap dipandang lebih lemah dari pria? Wanita tidak dapat mengalahkan pria? Dan pertanyaan yang lebih penting: apakah film dengan semangat seperti itu yang Anda sangat tunggu-tunggu?

 

Teks: Agung Suharjanto / Foto: Dok. Spesial

 

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Basically, there’s always time to stop and stare at the precious one.

FOLLOW US ON