What a Dream Comes True

What a Dream Comes True
View Gallery
10 Photos
What a Dream Comes True

What a Dream Comes True

What a Dream Comes True

What a Dream Comes True

What a Dream Comes True

What a Dream Comes True

What a Dream Comes True

What a Dream Comes True

What a Dream Comes True

What a Dream Comes True

Butuh waktu sembilan tahun bagi Kota Seregno, Italia, untuk mewujudkan sebuah mimpi besar. Bukan untuk menjadi kota terbaik maupun tercantik di dunia. Namun, “hanya” sebuah keinginan untuk dapat menyediakan fasilitas bagi para penyandang  disabilitas.

Mungkin bagi sebagian orang, hal ini terdengar remeh atau bahkan tidak layak dikategorikan sebagai mimpi sebuah kota. Namun, saya sangat mengapresiasi perjuangan Seregno demi merealisasikan rasa kemanusiaan masyarakatnya. Niat untuk meningkatkan kualitas hidup para penyandang disabilitas, serta membantu keluarga yang berjuang menyelamatkan masa depan generasi mereka. Itulah yang terus membuat Seregno tetap konsisten pada mimpinya. Meskipun diterpa keterbatasan finansial, secara perlahan proyek besar ini tetap dijalankan hingga akhirnya resmi membuka pintu pertamanya 2012 lalu.

Cangkang Raksasa

Salah satu dari segudang karya Archea Associati ini menyandang nama lokal Centro Diurno per Disabili (CDD). Di atas lahan seluas 10.000 meter persegi, Archea memanfaatkan kurang dari seperlima bagiannya untuk mendirikan “istana” bagi penyandang disabilitas yang bermukim di Seregno dan juga Giussano.

Jika definisi megah adalah sesuatu yang besar dan nampak “wah”, saya memastikan tak ada unsur kemegahan yang ditawarkan oleh Archea. Arsitektur ini hanya terdiri dari dua lantai yang terbagi perannya secara jelas. Lantai bawah yang merupakan semi basement berfungsi sebagai area parkir dan room service. Sedangkan satu lantai di atasnya berjejer beberapa kelas dan laboratorium untuk mengakomodir kegiatan para penyandang disabilitas.

Meskipun terkesan simpel, namun saya tahu tim Archea tak begitu saja membiarkan bangunan ini berdiri tanpa sebuah konsep. Di bawah naungan atap yang kokoh, CDD menawarkan perlindungan serta memberikan kemudahan dalam proses pendekatan diri penyandang disabilitas kepada lingkungan.

Tim desain mengimplementasi pendekatan diri melalui unsur transparansi di sisi timur bangunan. Bidang ini berisi jejeran ruang yang dipenuhi kaca. Rancangan tembus pandang ini memberi ruang yang lebih maksimal untuk menyatu dengan lingkungan luar. Selain itu, kehadiran pohon-pohon besar dan taman terbuka yang dengan mudah diakses oleh mata, dapat menyuguhkan nuansa belajar yang jauh dari kekakuan.

Sementara di sisi lain, tampilan serta material yang digunakan tampak amat kontras. Di sepanjang sayap bagian barat, fasadnya terbungkus rapat oleh lekukan beton. Sejak awal, tampilan ini yang paling menyita perhatian sudut mata saya karena ada kesan misterius yang diciptakan. Sepotong celah terbuka sebagai akses kendaraan pun tak mampu menghilangkan kesan tertutup dari bagian ini.

Beruntung ada lubang-lubang besar yang bersarang di selimut beton. Selain memberikan ruang bagi penerangan, cahaya yang masuk juga memberikan efek dramatis dengan membentuk pola polkadot raksasa di sepanjang lorong bangunan. Rupanya, konstruksi seperti ini sengaja dibuat layaknya sebuah cangkang raksasa yang melindungi penghuninya.

Menyadari bangunan ini dibuat untuk mereka yang berkebutuhan khusus, saya mulai berpikir tantangan apa yang Archea hadapi. Karena tentu bukan hanya tampilan bangunan yang menjadi fokus, namun pasti ada detail khusus yang menjadi perhatian lebih. Setelah diterka, saya menilai tak ada hal sulit bagi Archea. Mereka hanya perlu membangun akses tanpa halangan bagi para penghuni. Karenanya, seluruh permukaan beton harus terjamin mulus agar memudahkan pengguna kursi roda dalam menjangkau berbagai area, terutama akses menuju salah satu area strategis dari kawasan ini, yakni taman luar.

Walaupun tidak ditumbuhi ratusan spesies tanaman langka maupun bunga-bunga nan elok warna, taman ini memainkan peran penting bagi proses pengajaran. Keberadaan pohon-pohon tinggi serta hijau rumput yang tumbuh dengan tertib, menjadi perangsang keterbukaan diri terhadap alam sekitar.

Meski tidak seperti karya-karya Archea lainnya yang didominasi bangunan mewah ataupun berlokasi di lahan strategis, namun saya rasa Archea tetap sangat memerhatikan detail dalam pembangunan CDD. Bagi saya, inilah konsep ideal yang setidaknya harus dimiliki oleh sebuah bangunan. Terlihat sederhana, namun dapat melindungi penghuninya tanpa harus menutup diri dari lingkungan luar.

Teks: Erin Widyo Putri / Foto: Dok. ARCHEA ASSOCIATI by Pietro Savorelli

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Basically, there’s always time to stop and stare at the precious one.

FOLLOW US ON