We Write with Paint

We Write with Paint
View Gallery
6 Photos
We Write with Paint
MEMORY by Reza Bustami

2015

Mixed-media on canvas

30 cm x 40 cm

Price Rp1.500.000,00

This art piece is available for purchase. For further information, please contact editorial@clara.co.id

We Write with Paint
THE COVER by Andreas Winfrey

2015

Mixed-media on canvas

30 cm x 40 cm

Price Rp1.500.000,00

This art piece is available for purchase. For further information, please contact editorial@clara.co.id

We Write with Paint
ONE WAY STREET by Perkasa Kusumah Putra

2015

Acrylic on canvas

30 cm x 40 cm

Price Rp1.500.000,00

This art piece is available for purchase. For further information, please contact editorial@clara.co.id

We Write with Paint
DIBUTAKAN STATUS by Rianti Dwiastuti

2015

Acrylic on canvas

30 cm x 40 cm

Price Rp1.500.000,00

This art piece is available for purchase. For further information, please contact editorial@clara.co.id

We Write with Paint
UNORTHODOX by Claresta Pitojo

2015

Nothing on canvas

30 cm x 40 cm

Price Rp1.500.000,00

This art piece is available for purchase. For further information, please contact editorial@clara.co.id

We Write with Paint
RASA by Syazka Narindra

2015

Acrylic on canvas

30 cm x 40 cm

Price Rp1.500.000,00

This art piece is available for purchase. For further information, please contact editorial@clara.co.id

MEMORY

Bagi saya lukisan ini menceritakan mengenai memori-memori kehidupan yang diterjemahkan melalui warna-warna tersebut. Yang mana teknik pelukisan tersebut adalah hasil tumpukan warna-warna yang membentuk kurva dengan alur yang berbeda-beda. Setiap warna saling tumpang tindih antara satu sama lain. Sama hal nya seperti ingatan akan suatu kenangan yang semakin lama semakin hilang, akibat tertumpuk oleh kenangan yang baru, sehingga pada akhirnya hanya dapat diingat secara sekelibat saja. Begitu pula dengan tumpukan warna tersebut yang mana warna dasarnya hanya tampak sekilas mata saja.

Teks: Reza Bustami

 

THE COVER

Warna hitam kerap dikonotasikan sebagai sebuah warna yang kelam dan erat kaitannya dengan kesan kesedihan, kemuraman, kesendirian, dan keputusasaan. Warna hitam yang dipilih sebagai warna dasar pada lukisan ini kemudian disiram dengan berbagai campuran warna cerah yang justru dikaitkan dengan kebahagiaan dan keceriaan, seperti biru, putih, kuning, dan merah.

Lukisan berjudul The Cover ini menjadi simbol perasaan kelam berwarna hitam, yang ditutupi dengan perasaan ceria berwarna cerah. Hanya saja, lumuran warna cerah terlihat pudar, dan warna hitam tetap terlihat mendominasi lukisan. Hal ini menandakan bahwa seberapa pintar seseorang berusaha menutupi perasaan kelamnya (hitam) dengan keceriaan (biru, putih, kuning, dan merah), keceriaan palsu tersebut akan pudar. And all goes back to black.

 Teks: Andreas Winfrey

 

ONE WAY STREET

Jika boleh saya mengumpamakan, hidup layaknya sebuah perjalanan panjang di jalan satu arah.; Anda tidak dapat berputar balik ketika telah memilih ‘arah’ yang Anda ambil. It’s a point of no return. Once you choose a path in life, there’s no turning back, there’s no turning right or left.

Warna terang yang menjadi latar belakang lukisan ini adalah sebuah representasi terhadap kesucian dan kemurnian hidup yang Tuhan berikan. Dua garis yang menjadi elemen utama lukisan ini memiliki dua arti yang berbeda. Garis terang adalah pilihan yang benar dan garis gelap adalah pilihan yang salah. Dan layaknya hidup, ‘salah’ dan ‘benar’ adalah dua perjalanan yang berjalan beriringan; there are no rights without wrongs and vice versa.

Teks: Perkasa Kusumah Putra

 

DIBUTAKAN STATUS

Manusia dididik bahwa kebutuhan material hanya ada tiga: sandang, pangan, dan papan. Ketiga hal tersebut kemudia saya ibaratkan dengan tiga warna primer: merah, kuning, dan biru. Bukan tanpa sengaja saya mensejajarkan tiap kebutuhan dengan tiap warna, sandang diwakilkan dengan warna merah karena apa yang melekat ditubuh seseorang bisa menjadi perwakilan dari semangat hidup individu tersebut, pangan dilambangkan dengan warna kuning karena asupan gizi yang dimakan sehari-hari merupakan energi kehidupan, dan papan disamakan dengan warna biru karena sebuah rumah sudah selayaknya memberikan rasa nyaman dan tenang untuk individu yang tinggal di dalamnya.

Tujuan dari mendidik manusia akan ketiga kebutuhan ini adalah agar semua dapat hidup dalam kesederhanaan. Namun, kenyataannya manusia tidak pernah puas dengan apa yang didapatkannya, apalagi setelah melirik ke kiri dan kanan. Ya, warna hitam adalah perlambangan dari hati manusia yang digelapkan oleh rasa iri dan dengki atas apa yang dimiliki oleh orang lain.

Teks: Rianti Dwiastuti

 

UNORTHODOX

Kanvas merupakan salah satu media yang digunakan untuk menuangkan segala khayalan dan imajinasi ke dalam bentuk gambar. Untuk merealisasikan suatu bayangan, biasanya dibutuhkan media lain seperti pensil atau cat air, untuk digoreskan di atas kanvas.

Namun, tak seperti pada umumnya, penerapan seni dalam karya kanvas ini disampaikan dalam bentuk berbeda. Tanpa menambahkan elemen atau media apapun, kanvas ini diubah menjadi sebuah kanvas baru dengan sentuhan kontemporer. Kanvas ini diibaratkan sebagai gambaran hidup manusia. Perubahan tak perlu datang dengan pengaruh dari luar, tetapi fokus terhadap diri sendiri dan berkembang menjadi sosok yang baru.

Teks: Claresta Pitojo

 

RASA

Pemakaian warna putih, biru dan hitam yang menggambarkan perubahan ide murni tercampur dengan gejolak perubahan. Lingkungan yang menjadi sumber utama atas disonansi ide. Mimpi individu terlihat sebagai bumbu menarik dalam kehidupan. Tanpa disadari, influens eksternal yang terlihat menarik, membuat manusia tak hanya lupa motivasi utama, tetapi juga membuat pandangan kabur atas keinginan. Yang tertinggal hanya rasa.

Teks: Syazka Narindra

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Basically, there’s always time to stop and stare at the precious one.

FOLLOW US ON