Virgin Doesn’t Make You A Saint, Thomas!

Virgin Doesn’t Make You A Saint, Thomas!
View Gallery
15 Photos
Virgin Doesn’t Make You A Saint, Thomas!

Virgin Doesn’t Make You A Saint, Thomas!

Virgin Doesn’t Make You A Saint, Thomas!

Virgin Doesn’t Make You A Saint, Thomas!

Virgin Doesn’t Make You A Saint, Thomas!

Virgin Doesn’t Make You A Saint, Thomas!

Virgin Doesn’t Make You A Saint, Thomas!

Virgin Doesn’t Make You A Saint, Thomas!

Virgin Doesn’t Make You A Saint, Thomas!

Virgin Doesn’t Make You A Saint, Thomas!

Virgin Doesn’t Make You A Saint, Thomas!

Virgin Doesn’t Make You A Saint, Thomas!

Virgin Doesn’t Make You A Saint, Thomas!

Virgin Doesn’t Make You A Saint, Thomas!

Virgin Doesn’t Make You A Saint, Thomas!

St. Thomas, U.S. Virgin Islands, memiliki apapun untuk siapapun, dari lapangan golf yang berdetak lambat hingga kereta gantung setinggi 210 meter yang berdebar kencang. Satu hal pasti, St. Thomas bukan tempat memperdalam iman, karena ini adalah surga pulau tropis milik Amerika Serikat di kepulauan Karibia yang indah.

Tempat terpenting di St. Thomas tidak lain adalah tempat saya menginjakkan kaki pertama kali di pulau ini: Charlotte Amalie. Nama indah pemberian kolonialisasi Denmark di masa lampau itu kini telah menjadi nama bagi ibukota sekaligus pelabuhan tersibuk bagi St. Thomas, U.S. Virgin Islands. Sekitar 1,5 juta turis singgah di pelabuhan ini dalam setahun, padahal penduduk yang menetap di pulau ini berjumlah kurang dari 60 ribu kepala.

Charlotte Amalie juga dikenal dengan nama Taphus yang berarti Tap House atau Rum Shop. Tidak aneh tempat ini pernah menjadi surga bagi para bajak laut, bahkan Christopher Columbus tak terkecuali. Saya menikmati nuansa pinggir pantainya sambil duduk di atas pagar tembok rumah-rumah berwarna pastel. Sungguh bajak laut ini pasti anti-mainstream, sangat bertolak belakang dengan bir berlabel Blackbeard khas Virgin Island yang baru saja saya beli.

Saya kemudian naik Safari, transportasi yang banyak dipakai untuk mengelilingi pulau dan melihat apa saja hal menarik yang ada di sini. Safari ini semacam SUV box tetapi kotak besar untuk menampung barang digantikan oleh 4-5 deret bench. Mural yang dicatkan di lapisan badan Safari sedikit membuatnya mirip dengan angkutan anak-anak yang biasa ada di gang-gang Jakarta. Berkendara dengan Safari saya melihat Coral World di ujung pulau. Seperti Taman Impian Jaya Ancol, Coral World memiliki atraksi binatang-binatang laut seperti singa laut dan lumba-lumba. Bedanya karena Laut Karibia ini terpelihara, pengunjung bisa berenang bersama ikan hiu, penyu, bahkan sea walking, dan scuba diving.

Saya menuju ke downtown area dan melompat turun di sebuah tempat oleh-oleh yang tampak menarik. Sunny Caribbe Herbs & Spice. Bagian luarnya tampak seperti bangunan di Santorini, didominasi warna biru dan putih, tetapi bagian dalamnya dipenuhi oleh rak-rak kayu berisikan botol-botol dan toples. Alih-alih rak kayu penyimpanan wine, mereka menyimpan rempah-rempah. Rasanya seperti menemani wanita pergi ke toko kosmetik, padahal hanya satu kategori tapi variannya luar biasa banyak! Merica, garam laut, jerk sauce, biji pala, hingga love potion berbagai jenis. Tidak bercanda, di sini seperti melihat hadiah Paskah disilang dengan Valentine. Dibingungkan oleh banyak kemasan yang menarik, akhirnya saya menyerahkan satu botol ke kasir. Nama rempah-rempah itu adalah Calypso. Curiosity makes you brainless.

Saya melanjutkan dengan Safari yang lewat berikutnya, tapi kali ini saya sudah memutuskan akan turun di mana: pantai paling populer di St. Thomas, Pantai Magens. Terbentang sepanjang 1 mil, dikelilingi oleh taman, dan telah jadi milik publik atas donasi dari Arthur Fairchild, seorang ahli keuangan Wall Street. Tempat ini terletak di sisi yang berlawanan dari Pelabuhan Charlotte Amalie, bisa dibayangkan kalau pulau ini sama sekali tidak besar, bukan? Tempat ini tidak hanya menarik pengunjung, tapi juga salah satu sumber penarikan dana. Well, 4 dollars to get in the area. Selain kapal-kapal pesiar yang parkir di sini, hadir juga kios pizza, kios burger, kios tapas, kios minuman beralkohol, hingga lifeguards tak berkaus. Saya mengambil bathrobe milik seseorang yang ada di salah satu kursi pantai. Memakainya seperti Jay Gatsby, mendatangi salah satu kios bir dan mengetukan dua jari di atas etalasenya. Hey, Blackbeard kita bertemu lagi! Let’s dip into this emerald stranger tides! 

Teks & Foto: Aditya Arnoldi

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Basically, there’s always time to stop and stare at the precious one.

FOLLOW US ON