Two Sides of Peninsula – Punta del Este

Two Sides of Peninsula – Punta del Este
View Gallery
19 Photos
Two Sides of Peninsula – Punta del Este

Two Sides of Peninsula – Punta del Este

Two Sides of Peninsula – Punta del Este

Two Sides of Peninsula – Punta del Este

Two Sides of Peninsula – Punta del Este

Two Sides of Peninsula – Punta del Este

Two Sides of Peninsula – Punta del Este

Two Sides of Peninsula – Punta del Este

Two Sides of Peninsula – Punta del Este

Two Sides of Peninsula – Punta del Este

Two Sides of Peninsula – Punta del Este

Two Sides of Peninsula – Punta del Este

Two Sides of Peninsula – Punta del Este

Two Sides of Peninsula – Punta del Este

Two Sides of Peninsula – Punta del Este

Two Sides of Peninsula – Punta del Este

Two Sides of Peninsula – Punta del Este

Two Sides of Peninsula – Punta del Este

Two Sides of Peninsula – Punta del Este

Bersama Patricia, di bawah sinar mentari yang hangat saya menyusuri trotar di pinggir kota pantai dengan jalanan yang besar serta gedung-gedung tinggi membingkai panorama. Sejenak saya merasa sedang berada di Miami atau Brisbane, namun Patricia, bir lokal Uruguay yang segar menyadarkan bahwa kini saya tengah berada di Punta del Este, sebuah kota resor pantai di bagian tenggara Uruguay. Kota pantai dengan populasi 9.280 penduduk ini memang terbilang kecil, namun pada musim panas, Punta del Este berubah menjadi kota sibuk yang disambangi para turis untuk menghabiskan liburannya. Punta del Este terkenal dengan pantai indah, spot surfing, dan kehidupan malamnya yang meriah. Namun, kota resor ini terkenal cukup mahal, kira-kira 50% lebih mahal dari area lainnya di Uruguay. Tidak heran jika kota ini kerap dikunjungi selebriti internasional, seperti Ronnie Wood dari Rolling Stones dan Shakira yang bahkan memiliki rumah peristirahatan pribadi di tepi pantainya.

Karena terletak di sebuah semenanjung, Punta del Este memiliki dua garis pantai dengan karakter bertolak belakang. Pantai pertama yang berombak tenang disebut Playa Mansa, sedangkan pantai kedua yang lebih berangin dan berombak menantang dinamakan Playa Brava. Dari tepi jalan tempat saya berdiri di tepi jalan, terlihat segaris pantai berpasir putih berkilauan yang langsung berbatasan dengan Samudra Atlantik yang biru jernih dengan deburan ombak yang memecah menjadi buih ketika mencapai garis pantai.

Tak sabar untuk mulai menjelajah, saya bergegas menyebera-ngi jalan menuju area pantai Playa Brava. Pantai berombak tinggi ini adalah rumah bagi landmark ikonik Monumento al Ahogado yang berarti Monument to the Drowned atau singkatnya sering disebut La Mano (The Hand). Monumen La Mano karya seniman Chile, Mario Irarrázabal, yang berbentuk jemari raksasa menyembul dari dalam pasir seolah sedang tenggelam ini dibuat sebagai peringatan terhadap pada turis untuk berhati-hati karena ombak di Playa Brava memang ganas dan berbahaya untuk perenang. Patung ini telah menjadi simbol Punta del Este dan bahkan menjadi landmark paling terkenal di Uruguay.

Jika Anda ingin menikmati suasana pantai yang lebih bersahabat, Anda bisa bersantai di Playa Mansa. Pantai ini memiliki ombak yang tenang dan pasir putih lembut sehingga banyak turis yang mengunjungi pantai ini untuk berjemur menikmati sinar matahari, bermain frisbee, sepak bola, atau berenang di air yang tenang. Di sisi pantai ini Anda juga bisa menyewa jet ski atau banana boat. Pantai ini sebaiknya dikunjungi pada sore hari untuk menyaksikan keindahan matahari yang perlahan tenggelam di Samudera Atlantik dengan semburat jingga. Anda bisa menyaksikan sunset sembari duduk-duduk di kafe yang banyak terdapat di sini, kemudian lanjut ke bar untuk menghabiskan malam. Jika Anda berniat untuk clubbing, Punta del Este adalah kota yang terkenal dengan clubbing scene-nya. Setiap tahun, tren kehidupan malam di kota ini selalu berganti, jadi Anda takkan bisa menebak tempat mana yang hip setiap musim panas. Tetapi kebanyakan klub terletak di La Barra, agak jauh dari semenanjung Punta del Este.

Kota pantai tentu saja tidak lengkap tanpa pelabuhan. Oleh karena itu, pada hari kedua di Punta del Este saya memutuskan untuk mengunjungi pelabuhan yang terletak di ujung peninsula. Tidak sulit menemukan Puerto de Punta del Este, karena banyak kapal dan yacht yang merapat di pelabuhan sibuk ini. Di sini, Anda dapat melakukan perjalanan menuju Isla Gorriti yang bisa dicapai dengan kapal sewaan atau perjalanan feri selama 20 menit. Anda juga bisa menyeberang ke Isla de Lobos untuk melihat kawanan singa laut yang banyak terdapat di pulau tersebut. Jika Anda tidak menyeberang, di sekitar pelabuhan terdapat banyak pilihan restoran, pub, dan pasar ikan untuk memanjakan perut Anda. Saya memutuskan untuk duduk di sebuah restoran dan memesan Empenada, makanan ringan khas Uruguay. Bentuknya mirip pastel, tetapi lebih tebal dengan isi daging, keju, atau sayur-sayuran. Tidak lupa saya mencoba Mate, minuman panas dari seduhan daun yerba mate kering dengan cita rasa unik. Setelah remah Empenada terakhir lenyap dari piring, saya beranjak menuju kios-kios cenderamata sekitar pantai.

Barang-barang etnik khas Amerika Latin bermotif tribal seperti kain-kain dan kerajinan tangan lokal lain jadi pilihan oleh-oleh saya. Sebagai penikmat seni dan sejarah, saya tak luput berkunjung ke beberapa situs bersejarah di Punta del Este. Saya menumpang bus menuju Punta Ballena dari Terminal Bus Punta del Este untuk menyambangi Casa Pueblo, sekitar 30 menit dari Punta del Este. Bangunan bercat putih yang memiliki arsitektur bergaya Mediterania surealis ini merupakan bekas rumah seniman Uruguay Carlos Páez-Vilaró dan kini difungsikan sebagai museum, galeri seni, serta hotel. Casa Pueblo adalah persem-bahan untuk putra Carlos, Carlitos Páez, salah satu dari 16 penumpang Uruguayan Air Force flight 571 yang selamat dari kecelakaan di tahun 1972.

Dari pelataran Casa Pueblo, Anda bisa menyaksikan matahari terbit di Samudra Atlantik juga matahari terbenam di Río de la Plata, pemandangan spektakuler yang sayang untuk dilewatkan. Di dalam kota sendiri juga terdapat ba-nyak tempat bersejarah yang kebetulan letaknya hanya selang beberapa blok dan dapat dijangkau sembari jalan-jalan santai menjelajahi kota. Destinasi pertama wisata dalam kota saya adalah Museo Paseo de Neruda yang ditujukan untuk penyair Chile tersohor, Pablo Neruda. Di dalam museum yang dulunya merupakan rumah musim panas Neruda, saya melihat beberapa barang peninggalan beliau, juga kisah dibalik puisi-puisi sang penyair yang terinspirasi dari keindahan Punta del Este. Setelah puas, saya berjalan menyusuri jalanan Punta del Este yang merupakan campuran menarik antara bangunan modern dengan arsitektur kolonial yang didominasi warna putih, biru muda, serta pastel. Langit biru cerah yang memayungi kota ini memberi impresi cantik yang membuat kamera saya tak berhenti membidik ke seluruh penjuru.

Selang satu blok dari Museo Paseo del Neruda, saya tiba di sebuah bangunan gereja bercat biru muda, seperti disepuh birunya langit yang menghampar di atasnya. Iglesia de Nuestra Señora de la Candelaria adalah sebuah gereja Katolik terpenting di Punta del Este yang gedungnya dibangun pada pertengahan abad ke-20. Di dalam gereja yang sejuk ini terdapat potret Perawan Candelaria yang dibawa menyeberangi lautan dari Spanyol. Tepat di seberang gereja, berdiri Mercusuar Punta del Este yang terkenal itu. Menjulang dengan tinggi 45 meter, Anda bisa menaiki tangga spiralnya yang berjumlah 150 anak tangga. Menjelang petang, saya kembali menuju daerah pantai untuk menghabiskan hari terakhir saya di Punta del Este. Sembari menyaksikan matahari tenggelam di ufuk Barat, saya duduk di sebuah bar dengan sepiring barbekyu dan segelas medio y medio yang merupakan campuran sparkling wine manis dan dry white wine. Ditemani musik berirama tango yang menghentak, saya melewati malam dengan berdansa bersama penduduk lokal dan turis yang bersuka cita, menutup perjalanan tak terlupakan saya di semenanjung
paling jauh Uruguay.

Teks & Foto: Aditya Arnoldi

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Basically, there’s always time to stop and stare at the precious one.

FOLLOW US ON