Solemn in Tranquility

Solemn in Tranquility
View Gallery
7 Photos
Solemn in Tranquility

Solemn in Tranquility

Solemn in Tranquility

Solemn in Tranquility

Solemn in Tranquility

Solemn in Tranquility

Solemn in Tranquility

Para arsitek sepakat untuk menghadirkan pengalaman maksimal setiap­ kali penghuninya beraktivitas di ruang ini. Mereka melibatkan alam­setempat untuk menghadirkan suasana alami. Melalui kaca yang terpasang horizontal di sepanjang sisi terluar, pandangan dari dalam bisa leluasa menuju ke alam bebas.

Bagi saya, ketenangan hampir selalu tentang kesederhanaan. Pikiran yang tenang berasal dari urusan yang sederhana. Hati yang tenang bersumber dari pikiran yang sederhana pula. Ukuran sederhana pun berbeda bagi setiap individu. Dalam hal ini, sederhana bukan diukur melalui materi, tapi soal pilihan hati. Saya kerap memilih mengucilkan diri ke tempat yang sederhana jumlah orangnya tapi kaya akan suasana alamnya. Sama seperti salah satu pasangan tua di Jepang yang memilih area Karuziwa sebagai tempat mereka mendirikan rumah di tengah hutan sebagai tempat pelarian.

Penuh Suasana Alam

Di rumah ini, mereka bisa menemukan ketenangan di semua sudut bahkan di ruang mandi yang seringkali menjadi bagian terabaikan. Di tangan Kyoko Ikuta dan Katsuyuki Ozeki, ruang mandi justru menjadi primadona di bangunan seluas 71,4 meter persegi ini.

Para arsitek sepakat untuk menghadirkan pengalaman maksimal setiap kali penghuninya beraktivitas di ruang ini. Mereka melibatkan alam setempat untuk menghadirkan suasana alami. Melalui kaca yang terpasang horizontal di sepanjang sisi terluar, pandangan dari dalam bisa leluasa menuju ke alam bebas. Dengan begitu, ritual mandi tak sebatas menghilangkan keletihan raga, tapi juga membawa jiwa bermuara pada ketenangan.

Suasana serupa juga bisa dirasakan oleh penghuni di ruang tidur. Ruang yang menempati sayap barat bangunan ini mengadopsi desain yang sama dengan ruang mandi. Batang pepohonan dan tumbuhan liar yang terbingkai oleh kaca transparan menjadi sajian utama di sepanjang hari.

Atmosfer berbeda baru bisa dirasakan saat beralih ke ruang lain. Di ruang utama yang menjadi pusat aktivitas, menghabiskan waktu terasa lebih menyenangkan berkat suguhan lanskap hutan yang lebih luas.

Ukuran kaca yang jauh lebih besar dibanding dua bilik lainnya membuat ruang utama dibanjiri lebih banyak sinar matahari. Porsi pemandangan hutan pun berlipat-lipat besarnya. Memasuki waktu terik, kerumunan pucuk pohon yang bergoyang mengikuti irama angin membentuk bayangan dramatis yang menyebar ke seluruh ruangan. Keindahannya bak lukisan hidup yang berganti setiap detik.

Ruang pertama yang terakses dari pintu masuk ini juga diterpa angin yang berlebih berkat bukaan yang maksimal. Pintu kaca yang membentang di bawah jendela raksasa menjadi gerbang utama bagi udara untuk bertukar. Selain memaksimalkan sirkulasi udara dan cahaya, peletakkan pintu dan jendela ini juga mengalahkan kesan sempit pada ruangan yang berasal dari penerapan atap miring.

Untuk memaksimalkan penggunaan lahan dan pengalaman penghuni, tim arsitek merancang satu ruang lagi yang bisa dimanfaatkan untuk menggali ketenangan dengan lebih maksimal. Mengambil posisi di antara ruang mandi dan ruang tidur, sebuah ruang terbuka hadir menawarkan suasana yang lebih leluasa.

Terbebas dari atap bangunan, ruang ini mengundang sinar matahari untuk masuk tanpa penghalang. Setidaknya hanya dempetan pucuk pohon yang sedikit mengurangi keganasan sinar matahari di siang hari. Selebihnya, sinar dari langit itu menjadi sumber cahaya alami yang menerangi ruang terbuka dan menyebar hingga ke dalam ruang utama.

Tim arsitek mendapat tantangan dalam mendesain ruang ini. Sang pemilik rumah menginginkan suasana terbuka tapi tetap memerhatikan privasi. Berbekal tantangan itu, mereka membuat dua buah dinding dari sisi yang berbeda dengan desain mengerucut sehingga membingkai ruangan menjadi bentuk segitiga. Kedua dinding dibiarkan tidak menyatu sehingga tersisa sedikit celah yang ditujukan sebagai titik pandang utama.

Bagian yang menjadi elemen utama dari keseluruhan desain rumah ini mengarahkan mata untuk fokus pada satu titik. Selanjutnya, pandangan menjalar ke atas hingga menjumpai kawanan pucuk pohon larch setinggi belasan meter dengan latar belakang arakan awan.

Duduk di tengah ruang sederhana ini, seharusnya tak banyak hal yang kita lakukan. Cukup memejamkan mata, menghirup wangi aroma terapi alami dari pepohonan, menangkap lengkingan kicauan burung yang menembus gendang telinga, serta membiarkan energi positif yang dipancarkan alam merasuk hingga ke sela-sela rusuk.

Teks: Erin Widyo Putri / Foto: Dok. Spesial

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Basically, there’s always time to stop and stare at the precious one.

FOLLOW US ON