The Older, The Better

The Older, The Better

Oh my God, I just can’t wait to get old!” celetuk seorang teman saya desama penulis kecantikan. Mengingat profesi kami yang notabene selalu dikelilingi produk dan program dengan embel-embel “ANTI AGING” alias “Menolak Penuaan”, kontan saja saya menyambutnya dengan hardikan “What? Why?”

Because i can do whatever i want. I don’t have to give a sh*t anymore.”

Beda banget, sama saya yang kerjaannya googling apa yang sekiranya menjadi terobosan anti-penuaan paling anyar. Bahkan, diam-diam saya percaya bahwa suatu hari nanti akan ditemukan pil atau eliksir anti-tua dengan efek serupa youth potion milik Lisle Van Rhoman di film ‘Death Becomes Her’. Dan saya berharap ketika temuan tersebut diluncurkan, rupa saya masih pantas untuk ‘diawetkan’. Namun, pernyataan teman saya ini ternyata lumayan menohok dan menjadi bahan renungan.

Pada saat itu, ternyata ia sedang membuka blog fashion ciptaan Ari Seth Cohen dan Lina Plioplyte yang berjudul “Advanced Style”. Yang membedakan blog ini dengan jutaan blog fashion lainnya adalah para manusia yang menjadi subjek di dalamnya. Bukannya menampilkan gaya fashion para editor/blogger/socialite yang sudah semakin banal, Advanced Style meyuguhkan warna-warni dan energi baru dari gaya fashion kaum yang kerap ‘disembunyikan’ di dunia yang memuja keremajaan ini, yaitu kaum berumur di atas 60 tahun.Tak hanya inspirasi busana yang spektakuler, tetapi’ blog ini pun menyelipkan petuah-petuah bijak dan cara pandang sang subjek dalam menyikapi hidup. Kombinasi dari fashion dan risalah sosial ini melahirkan sebuah fenomena yang positif.

Beberapa tahun setelah kemunculan Advanced Style, para label fashion dan kosmetik ternama mulai menggaet sosok-sosok yang tergolong uzur untuk merepresentasikan produk mereka. Sebut aja Jacqui Murdock untuk Lanvin F/W ’12, Leslie Wiener untuk Vivienne Westwood, para nenek Italia untuk Dolce & Gabbana, hingga yang paling fenomenal, Joni Mitchell untuk Saint Laurent dan Joan Didion untuk Celine. Industri beauty pun tak mau kalah. Nars menggaet Charlotte Rampling sebagai wajah terbarunya, Marc Jacobs Beauty menunjuk Jessica Lange, dan beberapa tahun lalu, MAC mengeluarkan koleksi Iris Apfel, yang lipstiknya laku keras. Belum lagi jika menilik popularitas eyang-eyang heitz seperti Betty White atau Baddie Winkle yang amat dicintai di jagad maya. Apakah ini artinya industri fashion dan masyarakat mulai berpindah haluan? Apakah hal ini mengakibatkan perubahan aspirasi, yang tadinya berniat untuk menghalalkan segala cara agar tetap terlihat bak ABG di usia lanjut, jadi lebih realistis, pasrah, dan membiarkan proses penuaan berjalan apa adanya?

Sayangnya, tidak. Kenyataannya, kecantikan dan kemudaan tetaplah menjadi pemenangnya. Wajah-wajah remaja segar dengan babyfat dan kulit kencang tetap menjadi idaman dan tetap lebih dominan. Ya, tidak bisa disalahkan, kebanyakan otak manusia memang secara alamiah lebih terangsang oleh yang masih ranum.

Akan tetapi, setidaknya buat saya, hal-hal di atas merupakan pergerakan positif yang mendorong semangat dan lumayan mengobati ketakutan akan menjadi tua, memadamkan persepsi bahwa menjadi tua artinya harus rela kehilangan daya tarik dan semangat hidup. Melihat sosok-sosok penuh gaya di Advanced Style, saya jadi tidak harus terlalu ketakutan menerima kenyataan bahwa wajah saya akan berubah setiap harinya, that getting wrinkles is not the end of everything. Buat saya, sosok-sosok seperti Iris Apfel, Beatrix Ost, Linda Rodin, dengan lipstik cerah dan personal style mereka yang luar biasa, terlihat jauh lebih menarik daripada perempuan dengan wajah yang terlihat ditarik dan dipompa. Mengutip kata Coco Chanel, “Nothing makes a woman look so old as trying desperately hard to look young”. Mereka adalah sosok-sosok yang sudah makan asam-garam kehidupan, tidak menghapus jejak-jejak pengalaman hidup di wajah mereka, namun tetap terlihat bahagia. Mungkin pada akhirnya, seperti para perempuan ini, kita akan berhenti terobsesi dengan kecantikan dan kemudaan, mengingat betapa mengejar hal ini adalah sesuatu yang percuma. Tua itu pasti, dan cantik itu relatif. Chasing youth and beauty is a battle that we can never win.

Teks: Putricaya / Foto: Dok. Spesial

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Basically, there’s always time to stop and stare at the precious one.

FOLLOW US ON