The Nomad

The Nomad
View Gallery
6 Photos
The Nomad
Dylan Sada in Céline

Photographer: Wong Sim

Stylist: Claresta Pitojo

Make-up Artist & Hair Stylist: Ifan Rivaldi

Artwork: Triyadi Guntur

The Nomad
Dylan Sada in Céline

Photographer: Wong Sim

Stylist: Claresta Pitojo

Make-up Artist & Hair Stylist: Ifan Rivaldi

The Nomad
Dylan Sada in Céline

Photographer: Wong Sim

Stylist: Claresta Pitojo

Make-up Artist & Hair Stylist: Ifan Rivaldi

The Nomad
Dylan Sada in Céline

Photographer: Wong Sim

Stylist: Claresta Pitojo

Make-up Artist & Hair Stylist: Ifan Rivaldi

The Nomad
Dylan Sada in Céline

Photographer: Wong Sim

Stylist: Claresta Pitojo

Make-up Artist & Hair Stylist: Ifan Rivaldi

Artwork: Triyadi Guntur

The Nomad
Dylan Sada in Céline

Photographer: Wong Sim

Stylist: Claresta Pitojo

Make-up Artist & Hair Stylist: Ifan Rivaldi

Artwork: Triyadi Guntur

Life is just already a gift, just enjoy it! You don’t need to prove anything to anyone. – Dylan Sada

Pertama kali bertemu dengan wanita ini, intuisi saya mengatakan bahwa ia memiliki suatu hal yang menarik untuk digali. Entah apa yang membisikkan saya ketika bertemu wanita bernama Dylan Sada untuk suatu proyek pemotretan. Mungkin dari bahasa tubuhnya, atau mungkin juga dari personality-nya yang begitu hangat kepada setiap orang yang ditemuinya.

Dan ketika kesempatan itu datang, pilihan untuk profil cover Majalah CLARA kali ini pun jatuh kepada wanita pemilik nama asli Aldila Wulandari. Apa yang menarik dari wanita ini selain profesinya sebagai fotografer, model, dan pencipta lagu? Bagi saya, ia tidak hanya seorang seniman dengan wujud yang unik. Cara ia menjalankan hidup ini bagaikan menciptakan sebuah karya seni. Apabila diungkapkan dalam suatu lukisan abstrak, maka garis, warna, dan konsepnya tak dapat dilihat dan dimengerti hanya dengan hitungan detik. Anda harus memerhatikan secara seksama untuk dapat mengerti pesan yang ingin disampaikan oleh sang pelukisnya.

 

Hi Dylan, ini wawancara kamu yang keberapa kali?

Enggak tahu, hahaha. I lost count.

Udah sering banget, ya?

Lumayan, hahaha….

Kalau sebagai jadi cover, sudah berapa kali?

Pertama kali…. Yeay! Hahaha…. Deg-degan, nervous. Tapi, honored, apalagi untuk CLARA. I was really excited. (Tersenyum)

Bagaimana ceritanya kamu menghabiskan masa kecil kamu, sampai akhirnya sekarang tinggal di New york dan menjalankan profesi kamu sebagai fotografer sekaligus model?

So, um… it’s not an option. Mama aku balik ke New York karena cerai. Saat itu, aku masih kecil, dan kita pindah ke New York tahun 1989. And thenum, there she met my stepfather dan akhirnya kita tinggal di sana sekitar 5 tahunan, and we had to go back. Di Indonesia, aku cuma SD, SMP, SMA terus aku kuliah di Lim Kok Wing (Kuala Lumpur). Habis itu, aku pisah dari keluarga.

The first time aku pisah dari keluarga all I did is party and then I felt like I was wasting my parents money. And then I was thinking I can’t do this anymore, so I left for a year…. I told my mom that I want to pursuit what I love, at that time was photography. Terus aku langsung cari networking aja. Saat itu, ada fotografer di Singapore namanya Ivanho Harlim. He is so… so nice and he mentored me, and I lived there for one year.

Jadi kamu memang sudah menyadari kalau kamu sudah menyukai art dari sangat kecil?

Dari kecil, karena keluarga aku memang di musik semua.

Kalau tidak salah kamu adalah cucu dari Pranadjaja (Bina Vokalia)?

Iya!

Jadi kamu diwajibkan untuk belajar musik dari kecil oleh mereka?

Aku belajar musik dari umur 3 tahun. Enggak wajib, sih. Cuma memang aku senang aja. Dulu, kalau setiap pagi ada yang main piano, aku langsung lari turun ke bawah (kebetulan aku tinggal di atas sekolah musiknya). Since I was little I surrounded by music.

Kamu bisa main semua alat musik?

Dulu piano, sih. Sku nyesel banget berhenti main piano. So that’s my tips to everyone. While you’re still young just keeps doing it, ‘cause when you’re old you will regret it.

Setelah kamu lama tinggal di New York, apakah kamu pernah merasa culture shock setiap kali kamu pulang ke Indonesia?

The first time aku baru pulang, aku kaget banget. This is why I would back to New York because… aku udah terbiasa dengan the culture of freedom, freedom of dress to share your opinions, freedom to love, and I came here…. I mean I don’t know. And back then I was dating girls and before I moved back to the states LGBT wasn’t big back then…. I’m a very open person, even my closest friends, they’re a bit afraid of me.

And I felt like I’m not belong here, I love Indonesia so much but I never felt I belong. That’s why I moved to New York and starts writing music, and I collaborated with Chino Maurice, he is Beyonce’s guitarist. That’s why I wrote the song Nation. I love Indonesia but I never felt I belong here.

Tapi kalau kita lihat, generasi di bawah kamu sekarang, kan, sudah sangat berbeda, dan setelah kamu balik ke Indonesia ke beberapa kalinya, yang kamu lihat tentang Indonesia bagaimana?

Everyone so obsessed with social media. I mean, back in the days, cuma ada Devianart, and then when I came here I understand how they be influenced for social medias. I don’t understand how people make money from Instagram. I learn that when I got back here. Ya… everyone is obsessed with numbers.

Kamu sebagai seorang fotografer, model, pencipta lagu, katakanlah sebagai seorang seniman, apakah mempunyai role model dalam hidup kamu?

Still my mother. She went through a lot. Dia tetap kekeuh setelah kakekku meninggal dan itu tidak mudah mempertahankan sekolah musik (Bina Vokalia). And she lost her husband, and she’s working hard for that. Dia, sih, role model aku. Tapi kalau artist, ah… there’s too many dude!

Waktu pertama kali kamu menyadari kalau kamu pernah tertarik dengan sejenis, apakah kamu menutupi hal tersebut dari orang-orang terdekat, misalnya Ibu kamu? Atau kamu berbicara apa adanya dengan mereka?

My mother does not know until today. Because… pelan-pelanlah aku kasih tahunya. Karena, she’s been through a lot. Seperti sekarang… I married and my husband is atheist, and because of the culture my mother wants him to marry dan masuk Islam. But then I can’t. I don’t want someone to move to another religion just the family image. And if I have kids, I want to give them freedom to choose what religion they want, and about my orientation my husband know, my best friends know. But I think, if I tell my mom I think should be fun.

Kamu kenal dengan suami, saat itu bagaimana?

We met online. So I was living in Brooklyn and then my roommate keeps bringing hot guys bolak–balik. Dan, aku tanya ke temanku itu, How do you find all these guys?” dan ternyata dari online dating Cupid. Nah, suami aku itu orang pertama yang aku coba. Dan, ternyata berhasil. Sampai ibu aku nanya, ”Kamu, kok, ndak mau coba-coba yang lain dulu?” Aku bilang, ”Enggak. Sudah cocok!”.

Tapi semua keluarga setuju?

Setuju, sih. In the end, my mom realized yang penting anak saya happy.

Kamu percaya dengan horoscope?

Aku percaya. My husband doesn’t. He hates horoscope.

Menurut kamu definisi art bagaimana?

Art is just something you appreciate I guess. It can be at any form, doesn’t need to be like super monalisa or just can be little-little things. Everyone has their own different perspective about art. Art is universal I guess.

And like music as well, music is universal. I think music in art is also music. In some way like… lo denger lagu enak banget, tapi lo enggak ngerti bahasanya. You just like it, you appreciate it, and I think that’s art. You don’t need to understand it as long as you like it and you appreciate it.

Saya dengar kamu tidak tinggal menetap di suatu tempat dan memilih nomad, bisa jelaskan?

So, before I got married, I’m such a free sprit, and I’m a Gemini as well. I can’t stay put in a place very long, there is the reason why I stay so long in the states. But um… I’m like a nomad at heart, and right now ever since I turn 31, I stop planning things, because things are so unpredictable. So I just see where life takes me. If I see someone rich, I’m so jealous. I don’t need a mansion, I don’t need an expensive car, but it’s just nice to be like… ”Eh, gue bosen, nih. Gue mau ke Tibet besok!”. That’s what I want in life, I wanna see everything! And travel is so expensive, it’s a luxury.

Terus bagaimana cara kamu memenuhi itu semua, untuk traveling, kan, mahal?

Save up money, yoo! Hahaha…. You work hard, travel a lot! But uh… my only gift in life is… I’m really brave. If I want something, I just do it and I figure it out. When I moved to New York, all by myself. I don’t know anyone. Itu, sih, yang aku dapetin sekarang. So if I go anywhere, aku bisa survived.

Tapi apabila kamu pindah ke suatu tempat, artinya kamu harus mempersiapkan keuangan untuk misalnya satu tahun ke depan, dan harus membangun network baru. Nah, apakah kamu membuat planning untuk itu?

Oh, man this is really weird, but I’ve never thought of that. I’ve never thought like gue mau tinggal di suatu tempat setahun, terus gue harus nyiapin uang buat setahun. Enggak, sih. Gue kalau mau pindah ke suatu tempat, ya, gue kerja saja. Gue save money, dan gue enggak terlalu mikirin itu, sih.

Dan selalu berhasil?

Enggak juga, sih. I failed many times. But, ya, I really like the challenge. The only things annoying about moving places like visa problems, take care visas… bla… bla…. That’s why I love living in the states, because lo kerja apa aja bisa and people don’t judge you. Kayak misalnya kerja jalanin anjing atau mau apa. Di sini, tuh… hmm, no offense.

Kamu pernah melakukan pekerjaan dengan sesuatu keterpaksaan enggak?

Ooh I’ve done everything, dog walking, waitressing, I’ve through a lot… dan itu semua bukan suatu keterpaksaan. I learn and I meet people.

Gue pernah kerja pake baju gorilla gitu dan nari-nari. That’s not degrading. I mean I can be in the costume and dance. I don’t find the jobs just degrading me. It’s just the job and if you like what you do, you won’t feel embarrassed.

Kamu sendiri ada estimasi apabila menetap di suatu tempat akan berapa lama?

Enggak ada. I wanna be as free as I can. Ada teman suami aku, dia dan istrinya just traveled the world, dan dia melahirkan anaknya pas lagi di atas boat. I want that life. I don’t wanna plan when I have a kid. I don’t wanna plan everything.

(to be continued)

 

Teks: Reza Bustami / Foto: Wong Sim

 

Read more about Dylan Sada in our Volume XCV “The Universart Issue”!

 

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Basically, there’s always time to stop and stare at the precious one.

FOLLOW US ON