The Art of Beauty

The Art of Beauty

Adanya kaitan yang erat membuat seni dan kecantikan menjadi tak terpisahkan.

Kata seni biasanya langsung membuat orang berpikir tentang sebuah karya yang sarat dengan sentuhan estetik. Misalnya lukisan, keramik, ukiran, dan lainnya. Tetapi, jika mendengar kata cantik, atau kecantikan, jarang yang mengasosiasikannya dengan karya estetis. Karena (at least bagi saya), yang pertama kali ada di benak adalah beragam rangkaian produk-produk kecantikan.

Padahal, keduanya memiliki persamaan yang sangat erat. Yang pertama adalah adanya keindahan. Karya seni maupun kecantikan diciptakan sebagai ekspresi atas keindahan yang dirasakan penciptanya. Apakah ada perbedaan diantara keduanya? Menurut pendapat saya, karya seni itu lebih kepada pernyataan atau opini penciptanya. Sedangkan, kecantikan atau keindahan adalah semua hal yang membuat seseorang merasa positif atau bahagia. Kecantikan/keindahan belum tentu merupakan sebuah karya seni, tapi sebuah karya seni bisa dihasilkan melalui sebuah hal yang dinilai indah, misalnya foto atau lukisan tentang alam yang cantik.

Perkara hasil akhir dari karya seni itu benar-benar indah atau tidak, itu adalah urusan dari yang melihatnya. Toh, pepatah mengatakan “Beauty is in the eye of the beholder”.

Jadi, jangan heran atau mencibir jika Anda melihat sebuah lukisan abstrak atau karya instalasi yang memaksa Anda mengerenyitkan kening. Mungkin itulah yang menggugah emosi keindahan dari penciptanya. Dengan hal yang sama, juga jangan mencibir jika suatu saat nanti melihat seseorang lewat di depan Anda dengan kulit wajah yang empat kali lebih putih dibanding kulit tubuhnya, atau orang dengan rambut disasak tiga jengkal dari kepalanya. Melihat seseorang dengan bulu mata palsu super tebal yang membuat kelopak matanya justru jadi sayu karena tak kuasa menahan beratnya? Mungkin saja itu merupakan ekspresi orang tersebut terhadap konsep “cantik”.

Beberapa bulan lalu, saya melihat pameran di sebuah museum di Tokyo. Tema pamerannya adalah “Cleopatra & The Queens of Egypt”. Sesuai namanya, dalam pameran tersebut ditampilkan beragam barang peninggalan Cleopatra dan para ratu lain yang hidup di zaman Mesir kuno. Yang menarik dari pameran tersebut adalah bahwa di zaman tersebut mereka sudah sangat sadar akan arti tampil cantik. Beragam alat untuk mempercantik diri peninggalan mereka ditampilkan di situ, mulai dari sisir sampai dengan besi dengan sumber panas dari api untuk mengeriting rambut! Ada juga beragam wadah untuk menyimpan berbagai perkakas kecantikan seperti tempat eyeliner (eyeliner pada masa itu sangat mahal karena dibuat dari batu-batu mulia yang ditumbuk).

Apa hubungannya dengan karya seni? Semua wadah dari benda untuk mempercantik diri itu dibuat begitu cantik dengan ukiran dan lukisan, bahkan beberapa dihiasi batu-batu mulia. Rupanya, di zaman purbakala seperti itu mereka sudah sadar bahwa penampilan luar sangat mempengaruhi emosi. Dengan kata lain, kemasan yang cantik mampu mempengaruhi emosi penggunanya agar lebih sering mempercantik dirinya.

Di era sekarangpun, keindahan packaging dari produk-produk kecantikan masih diterapkan – walau mungkin zaman sekarang ini lebih kepada sisi marketing dari poduk tersebut. Tapi setidaknya, ini bukti sederhana dari eratnya hubungan karya seni dengan kecantikan.

Teks: Ardi Setiatmawan / Foto: Dok. Spesial

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Basically, there’s always time to stop and stare at the precious one.

FOLLOW US ON