Take a Little Time

Take a Little Time
View Gallery
8 Photos
Take a Little Time
Endings No Endings by Ringo Bunoan / 2013 / The Philippines

Take a Little Time
Endings No Endings by Ringo Bunoan / 2013 / The Philippines

Take a Little Time
A Travel Without Visual Experience: Malaysia by William Lim / 2008 / Hong Kong

Take a Little Time
A Travel Without Visual Experience: Malaysia by William Lim / 2008 / Hong Kong

Take a Little Time
Calendars (2020-2096) by Herman Chong / 2004 / Singapore

Take a Little Time
Calendars (2020-2096) by Herman Chong / 2004 / Singapore

Take a Little Time
Arabian Party by Saleh Husein / 2013 / Indonesia

Take a Little Time
Arabian Party by Saleh Husein / 2013 / Indonesia

Ketika menginjakkan kaki ke Singapura, kerap kali saya sebisa mungkin mengusahakan diri dan waktu untuk berkunjung ke museum seni. Bukannya apa, saya selalu takjub bagaimana negara yang total areanya sekitar dua ribu lebih kecil dari total area Indonesia ini, begitu memahami dan menganggap serius pentingnya seni. Sehingga bukan tak mungkin Singapura segera menjadi penggalang seni utama di daerah Asia, khususnya Asia Tenggara. Terakhir kali ke Singapura bulan lalu, saya mengunjungi Singapore Art Museum (SAM) dan cukup takjub dengan karya-karya yang dipamerkan pada tiga perhelatan berbeda. Ya, bayangkan. Bahkan di satu museum saja, terdapat tiga perhelatan seni yang berbeda, dengan sejumlah karya yang mampu membuat saya, atau mungkin juga Anda, terpukau. Beberapa karya tersebut merupakan hasil jerih seniman asal seluruh Asia, termasuk Indonesia, bahkan Singapura sendiri. Oh, betapa negara ini berkembang begitu pesatnya.

Singapore Art Museum mempersembahkan Time of Others, sebuah pameran seni yang merupakan hasil kolaborasi dengan Museum of Contemporary Art Tokyo, National Museum of Art Osaka, Queensland Art Gallery | Gallery of Modern Art, dan Japan Foundation Asia Center. Seluruh karya seni yang dipamerkan membahas mengenai sosial, sejarah, dan geopolitikal di tengah dunia modern. Karya-karya di pameran ini akan dibawa ke beberapa museum tersebut, namun belangsung di Singapura pada 21 November 2015 – 28 Februari 2016.

Dari pembahasan yang diangkat, awalnya pikiran skeptikal saya bergejolak, mengasumsi bahwa pameran ini akan dipenuhi dengan ekspresi seni abstrak politik kritis nan membosankan. Dan tentunya saya salah. 17 seniman menampilkan karya seni yang berbeda-beda dan menarik, sehingga melangkahkan kaki menelusuri SAM seakan menjadi sebuah petualangan yang begitu mengasyikkan. Para seniman dengan begitu niat dan kreatif mengulas hal berat justru menjadi mudah dipahami, tanpa harus kehilangan “keseniannya”.

What to See:

Endings dan No Endings oleh Ringo Bunoan (Filipina)

Bunuoan membuat instalasi kumpulan lembar terakhir sekitar 100 novel dengan tulisan “The End” sebagai keterangan kisah novel tersebut berakhir. Di sebelah instalasi tersebut, terdapat tumpukan novel yang telah dihilangkan halaman terakhirnya, dari lantai hingga melampaui langit-langit ruangan.

A Travel Without Visual Experience: Malaysia oleh Tozer Pak (Hong Kong)

Pak mencoba memisahkan esensi penting dari melancong, yakni visual. Bagaimana rasanya mengunjungi sebuah destinasi baru tanpa melibatkan indera penglihatan? Pak mengekspresikan ide tersebut dengan berkeliling Malaysia, negara yang belum pernah ia singgahi, selama lima hari, dan mengabadikan lokasi menggunakan kamera dengan mata tertutup, sehingga ia sendiripun tak tahu apa yang ia abadikan. Ia baru mengetahui hasil potretnya ketika ia kembali ke rumah. Hasil foto tersebut menjadi sebuah hal menarik untuk Anda lihat.

Calendars (2020 – 2096) oleh Heman Chong (Singapura)

Memulai karyanya di tahun 2004 lalu, Chong memotret sudut-sudut ruang tersembunyi di Singapura yang tak dapat diakses oleh banyak orang, kemudian foto-foto tersebut dijadikan foto kalender dari Januari 2020 hingga Desember 2096. Yang membuat foto-foto ini lebih menarik adalah bagaimana tak adanya eksistensi manusia di ratusan foto tersebut. Kesan sepi, dingin, dan kosong, begitu terasa di setiap fotonya, terlebih lagi ketika disusun dan ditempel menyelimuti dinding salah satu ruang pameran SAM.

Arabian Party oleh Saleh Husein (Indonesia)

Sebagai pria Indonesia keturunan Arab, Husein mengangkat isu nasionalisme di mana ia merasa bahwa warga Indonesia keturunan Arab masih dianggap sebagai warga asing non-Indonesia. Pada karya ini, Husein melisik jauh sejarah mengenai Arab-Indonesia. Terdapat pula 100 lukisan Husein yang dibuat berdasarkan materi foto yang ia temukan semasa menelusuri penelitiannya.

Teks: Andreas Winfrey / Foto: Dok. Singapore Art Museum

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Basically, there’s always time to stop and stare at the precious one.

FOLLOW US ON