Stepping Over the Belitung Sea

Stepping Over the Belitung Sea
View Gallery
9 Photos
Stepping Over the Belitung Sea

Stepping Over the Belitung Sea

Stepping Over the Belitung Sea

Stepping Over the Belitung Sea

Stepping Over the Belitung Sea

Stepping Over the Belitung Sea

Stepping Over the Belitung Sea

Stepping Over the Belitung Sea

Stepping Over the Belitung Sea

Sebelum meroketnya fenomena Belitung akibat film layar lebar Laskar Pelangi yang diangkat dari tulisan puitis Andrea Hirata, saya telah lama memiliki keinginan untuk bertandang ke pulau ini. Sesungguhnya sangat banyak tempat wisata eksotis, perawan, namun tersembunyi di daearah Jawa Barat, yang ketika menemukannya bagai berendam di jaccuzi seusai berenang sore hari. Bahagia yang sederhana. Tempat-tempat dekat macam itulah yang selama ini membuat saya gagal mencapai destinasi lebih jauh dari Pulau Jawa, tentunya karena kondisi keuangan yang menjadi semakin pas-pasan akibat impulsive traveling ke daerah-daerah random.

Saya berlibur selama 4 hari 3 malam, sangat singkat saya tahu, itupun dengan telah mengambil cuti hari terjepit. Terpujilah libur yang jatuh di hari Selasa atau Kamis. Perjalanan dimulai dengan mendarat di Pulau Bangka menggunakan pesawat, lalu dilanjutkan hari berikutnya dengan naik kapal ekspres bernama Bahari dari Pelabuhan Pangkal Balam di Bangka menuju Pelabuhan Tanjung Pandan di Belitung. Sejenak di Pulau Bangka yang penting saya sudah mencicipi kuliner jalanannya sepanjang malam. Mulai dari otak-otak Bangka yang tidak menggunakan saus kacang, tetapi saus berwarna oranye seperti saus fuyunghai namun pedas dan asam. Ada lagi mie Bangka, ikan bakar tenggiri, dan tentunya martabak Bangka yang mainstream namun juara. Di Jakarta sendiri ada beberapa pedagang martabak yang kelezatan tumpahan wijsmannya menyamai rasa martabak Bangka asli, hanya saja di Bangka tidak perlu lagi mencari mana yang paling enak. Pick one and it won’t be no good. Cukup soal Bangka, saya akan kembali kepada Belitung dan wisata pantainya yang luar biasa! Akhir-akhir ini pantai-pantai di Belitung menjadi tujuan wisata yang sangat populer, namun percayalah hal tersebut tidak menyisakan cacat sedikitpun pada keindahannya yang membuat nafas Anda, setidaknya saya, tertahan.

Kapal berlabuh di Tanjung Pandan kira-kira pada waktu setelah Maghrib. Tidak mungkin beraktivitas di daerah pantai di hari gelap, maka saya menutuskan untuk rileks di dekat alun-alun kota. Ini literal benar-benar dekat, karena setelah radius 200 meter dari alun-alun, saya tidak menemukan apapun kecuali rumah-rumah warga dengan penerangan jalan yang minim. Satu-satunya tempat makan dan minum, yang juga ditemani dengan live music –yang tidak saya sangka ternyata membawakan lagu-lagu hip-hop terbaru dengan sangat baik– adalah di dalam kompleks Pantai Tanjung Pendam, pantai komersil di tengah kota Tanjung Pandan. Di luar lampu-lampu hias yang menambah kehangatan di restaurant & café ini hanya ada gelap dan sepi. It’s a mixed feeling when you’re on holiday, but there’s no crowd, but it’s intimate at the same time. Seandainya saat itu saya memiliki waktu untuk pergi ke Manggar, Kota 1001 Warung Kopi, tentu rasa intim itu akan hadir lebih pekat lagi.

Pagi hari yang cerah membangunkan saya sejak pukul 6 pagi, sangat terang mentari bersinar. Ini pertanda bahwa pantai telah memberikan undangan ekslusif lengkap dengan karpet merah untuk saya melangkah menuju dirinya. Perlu saya jelaskan terlebih dahulu bahwa saya tidak banyak berencana dalam perjalanan ini, bagaimana saya tahu tentang pantai apa saja yang wajib untuk dikunjungi? TripAdvisor. Bagaimana saya mengetahui lokasinya? Google Maps dan receptionist hostel. Bagaimana saya mecapai lokasi tersebut? Pinjam motor dari satpam hotel dengan 75.000 rupiah seharian. Semua siap, saya melesat ke Tanjung Kelayang, start point untuk memulai island hooping!

Tanjung Kelayang adalah pantai nelayan, terlihat banyak kapal-kapal berkapasitas 6-8 orang di sepanjang air dangkalnya. Pantai ini berpasir putih, bersih, luas, dan landai. The excitement hasn’t begun yet I’ve already in joy. Saya masih ingat rasa di dada ini ketika melihat hamparan Tanjung Kelayang, seperti ketika berlama-lama menahan nafas di dalam air lalu pada batasnya kita akan bergegas ke permukaan untuk menarik nafas sebanyak mungkin mengembangkan paru-paru. Ada sesuatu yang berat masuk ke dalam tubuh, tapi kemudian melegakan, menyegarkan. Segera saya ingin memulai menyeberangi laut, namun ternyata uang saya tidak cukup untuk membayar sewa satu perahu jika hanya diisi berdua saja bersama partner perjalanan saya. Akhirnya saya harus menunggu sampai ada rombongan lain yang mengizinkan kami menumpang dan menggenapi jumlah orang sehingga biaya perorangannya lebih murah, sebaliknya mereka mendapatkan orang luar yang bisa memotretkan mereka secara lengkap. Win-win solution untuk kedua belah pihak. Tancap!

Island hopping ini meliputi Pulau Kelayang, Pulau Lengkuas, dan Pulau Burung. Batuan putih besar yang banyak berserakan di tepi pantai dan tengah laut menjadi ciri khas eksotisme perairan Belitung. Jika Anda berfoto di atas bebatuan ini pastinya akan terabadikan gambar-gambar yang dramatis dengan langit biru berawan tipis sebagai latar belakang. Dalam perpindahan dari Pulau Kelayang menuju Pulau Lengkuas, saya tidak akan melupakan pengalaman berenang bersama ikan-ikan berwarna-warni yang sangat sangat sangat banyak! Saya hanya menjulurkan jari dan mereka akan mengerubungi tangan saya seolah saya Ariel The Little Snorkeler. Saya ingin menjerit di dalam air saking terpananya tapi tidak bisa, yang keluar hanya gumam jeritan di tenggorokan. Berhubung saya belum pernah ke Bunaken, Maratua, apalagi Raja Ampat, maka saya dapat berkata ini adalah pemandangan warna-warni koral dan ikan terjelas sepanjang traveling saya. Ubur-ubur pun tertangkap mata walau akhirnya tetap tersengat juga di bagian tubuh yang paling tidak saya inginkan.

Pulau Lengkuas adalah highlight dari island hopping. Mercusuar putih berhiaskan karat telah menanti dengan gagahnya. Menaiki 19 lantai melalui anak tangga yang berbunyi seperti kaleng jika diinjak, lalu sampai ke puncak kecil dimana saya bisa memandang megahnya laut kepulauan. It’s crazy, truly breathtaking. Saya bahkan tidak bisa langsung membidik lensa kamera, hanya bisa berusaha melahap semua pemandangan menakjubkan yang mampu ditangkap mata ini. Laut berwarna se-toska itu, tanpa filter, tanpa photoshop. Saat itu saya menyanyikan lagu Bonfire dari The Strangers sekeras yang saya bisa, bahkan menceritakan pengalaman ini melalui tulisan pun kembali membuat saya teringat akan betapa bahagianya rasa itu. Dalam ketidakrelaan turun dari mercusuar, saya melihat langit yang mulai mendung. Uh oh, what happened? What about my exclusive invitation term? Gotta hurry because I still have one paradise island awaits me!

Ketika tiba di Pulau Burung, dinamakan seperti itu karena ada batu besar di pesisirnya yang berbentuk seperti kepala burung tampak samping, awan-awan gelap telah berkumpul. Saya sejujurnya tidak peduli, dan tetap berjalan-jalan bersenandung sambil agak melompat dalam setiap langkah. Angin berat dan lengket menerpa kulit, tapi saya yang sedang senang merasa ini eksotis dan penuh misteri mengagumkan. Barulah ketika diberitahu bahwa mungkin kami tidak bisa mencapai Tanjung Kelayang karena ombak besar yang bisa terjadi jika hujan turun, terburu-buru saya berlari menuju kapal agar bergegas memacu baling-baling. Terlambat, saya basah dari ujung rambut sampai kuku kaki karena terpaan ombak dan hujan yang menghantam kapal. Tapi tetap, itu seru.

Begitu menepi kembali di Tanjung Kelayang, hujan hanya tinggal rintik-rintik, digantikan matahari terbenam yang akan menjelang. Segera setelah berganti baju kering, saya berjalan tanpa alas kaki menuju pinggir pantai. Inilah perwujudan buku Kartini, habis gelap terbitlah terang. Saya berusaha merasakan energi positif bumi ini dari setiap pori kulit saya. Ada rasa pencapaian ketika begitu banyak tempat yang berhasil saya kunjungi dalam waktu singkat, dan diantaranya tidak ada yang tak indah. Bahkan setelah ini saya dan partner terbaik saya masih berniat untuk mengendarai motor, menembus angin, dan makan mie rebus di Tanjung Tinggi, pantai iconic milik Ikal dan laskarnya. Why must we are limited by time, when we are already achieving this feeling of treasuring everything in every condition? Anda tidak perlu tahu bahwa berikutnya motor Pak Satpam hostel kehabisan bensin di tengah jalan. Just, let’s go!

Teks & Foto: Astri Primasari

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Basically, there’s always time to stop and stare at the precious one.

FOLLOW US ON