Seribu kata dari Chichu Art Museum Naoshima

Malam ini, ruang makan, pukul sepuluh malam, berhasil mencuri waktu saat anak umur 3 bulan saya tertidur lelap bersama malam. Kembali berhadapan dengan layar 17 inch yang menyala menerangi separuh muka dan seluruh telapak tangan, sambil mencoba menghadirkan kembali memori lama, saat saya pertama kali menginjakkan kaki saya di negri tempat Sin-chan dan Doraemon dilahirkan: Jepang. Bukan memori tentang kota Tokyo dan patung Haciko yang terkenal, tetapi memori yang tidak bisa saya simpan dalam bentuk .jpeg tentang pulau Naoshima. Pulau cantik dimana saya bisa melihat pasir dan ombak dari atas bukit, pada saat pasir dan ombak bisa melihat saya dari bawah pantai.

“Lights that owned by you who look, not to be held, but known” James Turrell

Naoshima terdiri dari beberapa pulau kecil, terletak 13 km dari utara kota Takamatsu, Kagawa dan 2 km dari selatan kota Tamano, Okayama. Benesse Art Site Naoshima sengaja melahirkan kembali pulau yang terdiri dari bukit bukit ini menjadi pulau seni, dengan bermodal mimpi bahwa karya-karya seni terpilih yang ditempatkan didalamnya dapat bergema secara harmonis bersama alam.

Mengutip kalimat Soichiro Fukutake, ketua yayasan Naoshima Fukutake Art Museum, pada essay nya di buku Chichu Art Museum karya Hatje Cantz. “Program yang tepat untuk ditempatkan di pulau seindah ini harus menjadi program yang bisa menyentil kesadaran manusia, untuk mempertanyakan bagaimana cara hidup dengan baik, how to live well. Kesimpulan yang terlepas dari bisikan agama atau teriakan kata-kata. Kesimpulan yang seharusnya didapat dari diam. Diam yang akan dirasakan secara subjektif oleh masing masing individu, kesimpulan dari diamnya sebuah karya seni.”

Perjalanan lima tahun lalu menuju Jepang disusun berdasarkan tiga lembar daftar kunjungan menuju objek objek arsitektural sepanjang Fukuoka menuju Ibu kota Tokyo, dinamai perjalanan Jepang Selatan. Tiga lembar daftar ini merupakan alasan utama mengapa saya bisa sampai di pulau ini, pulau yang merumahi karya arsitektural yang dibangun tanpa masa menjulang diatas tanah. Tetapi dapat mendiktekan kesan dan pesan penting mengenai eksistensi cahaya yang diundang masuk kedalam tiap ruang bawah tanahnya: Chichu Art Museum, karya Tadao Ando.

Chichu Art Museum hanya memilih empat seniman yang bisa memamerkan karya didalamnya. Empat Seniman ini memamerkan karya mereka secara permanen. Karya yang tidak akan berganti sesuai acara atau tema, tetapi karya yang akan melekat pada medium pamernya menjadi satu karya berdimensi, yang akan meruangi para pengamat didalamnya. Seniman terpilih tersebut adalah Calude Monet, Walter de Maria, James Turrell, dan Tadao Ando sendiri. Kembali mengutip kalimat Soichiro Fukutake, “Hanya empat seniman ini yang bisa membuat ruang dimana suara spiritual bisa menjadi satu suara secara tenang. Dan museum ini tidak memerlukan seniman lainnya”

Ruang Tadao Ando

“Hanya empat seniman ini yang bisa membuat ruang dimana suara spiritual bisa menjadi satu suara secara tenang…”

Ruang Masif atau ruang terbuka, atap Benton atau langit, air conditioner atau angin, redup atau silau, beberapa perasaan yang silih berganti kita dapatkan di Museum ini. Tidak banyak memang, intinya hanya terbagi dua, masif atau terbuka, tetapi Tadao Ando dengan jenius bisa secara tepat mentransformasikan rasa akan ruang yang ia miliki sendiri, menjadi rasa akan ruang yang akan dimiliki oleh orang lain: pengunjung.

Dalam buku Chichu Art Museum, oleh Hatje Cantz, Tadao Ando menuliskan bahwa Chichu Art Museum adalah karya yang selama ini ia impikan untuk terbangun,mimpi akan sebuah “matrix of space”, yang didalam imajinasi nya adalah sebuah gua terbuat dari tembok bumi yang kokoh, atau sebuah ruang gelap dan hanya ada segaris sinar didalamnya. Ruang yang terbentuk dari kumpulan memori nya akan sebuah ruang berdebu dimana ia hidup saat kecil, labirin bawah tanah pada rumah gua di Cappadocia yang ia kunjungi saat muda,atau  jalan menurun menuju bawah tanah di Adalaj Step Well, Ahmedabad.

Ruang Claude Monet

“…, bahwa seni dan arsitektur adalah sama sama sebuah bentuk ekspresi, hanya berbeda cara menginterpretasikan nya.”

Putih, luas , dan (lagi) putih (yang) luas merupakan interpretasi dari ruang yang dibuat Tadao Ando untuk menempatkan lima lukisan sepanjang empat belas meter (jika dijejerkan) dalam satu ruang khusus di salah satu ruang pamer museum ini. Lukisan Water-Lily Pond, karya Claude Monet menjadi megah menempel seperti menyala ditemboknya. Tanpa mengerti tentang Calude Monet atau gaya Impresionis, saya mengamati lukisan tersebut ditemani angan yang tiba tiba datang. Angan yang seperti menyuruh diam dan mengamati, angan yang seperti mengaktualkan “kolam lily” menjadi satu banding satu dihadapan saya, dan angan yang seolah olah menghilangkan pengunjung lain: hanya saya. Saat itu saya tau, bahwa karya seni ini berhasil mengelabuhi saya di level yang sama dengan keberhasilan ruang mengelabuhi saya. Tadao Ando berhasil membuat karya seni dan arsitektur berada pada level yang sama.

Ruang James Turrell

Daratan sebagai sirkulasi, daratan sebagai tempat berdiam diri, dan langit terbuka. Ini adalah cara James Turrell mempresentasikan cahaya sebagai karya seni nya. Sekilas tidak Nampak seperti ruang yang spesial, sekilas juga tidak bisa membuat saya mengerti tentang karya seni ini. Tetapi selagi saya menaiki tangga yang menjadi bagian dari sirkulasinya, atau selagi saya duduk melihat langit sebagai bagian dari berdiam diri. Saya mengerti bahwa cahaya berperan sebagai karya tak bernama yang dapat membuat kita menikmati (dengan melihat) area yang seolah olah karya utamanya, atau cahaya justru berperan sebagai karya utama yang seolah olah di frame kan oleh langit langit bangunan.  James Turrell melalui karya ini, seperti ingin memberikan cahaya harga yang lebih besar dari sekedar gratis.

Ruang Walter de Maria

Bola besar ditengah ruang penuh tangga,  ditemani bagan bagan bergaris geometris di temboknya. Ruang gigantisme, yang mengekspresikan kekuatan, dan kemegahan. Tetapi entah mengapa ruang ini menghadirkan ngilu, ngilu yang lagi-lagi mendatangkan kesunyian. Seperti bisa merasakan kekuatan pada saat merasakan kelemahan. Saya dan Sembilan teman lain yang ada didalam ruang itu, menggunakan beberapa menit yang disediakan untuk mengamati bola besar yang diam seimbang, dan sebagian lagi mengamati bayangan akibat sobekan atap untuk mendatangkan cahaya alami, yang jatuh berbeda beda di setiap temboknya. Terbesit untuk lari kencang menaiki anak tangganya dan mendorong bola, tapi tidak ada yang melakukan. Saya yakin ketidak tertarikan untuk melakukan itu bukan karena adanya pengawas museum yang berdiri diam dipojok ruangan. Mungkin karena ingin merasakan perasaan ngilu sedikit lebih lama lagi.

Empat karya yang berada di tempat yang tepat, berhasil membuat saya, mungkin sekarang juga anda, kembali merenungi dan belajar bagaimana karya seni bisa mempengaruhi kita. Memberikan sebesit konsep baru untuk dikembangkan. Konsep yang mungkin jauh dari apa yang si seniman ingin sampaikan. Tadao Ando dalam ruang untuk Claude Monet, Walter De Maria dan James Turrell mengajarkan saya bahwa ruang yang sepadan dengan karya yang akan ditampilkan, akan memberikan harga lebih pada karya tersebut. Karya seni di dalam ruang (Monet), karya seni dipengaruhi ruang (De Maria), karya seni menyatu dengan ruang (Turrell) dan ruang sebagai karya seni itu sendiri (Ando) berhasil menggabungkan seni dan arsitektur menjadi satu bahasa yang sama, kembali pada sifat awalnya bahwa seni dan arsitektur adalah sama sama sebuah bentuk ekspresi, hanya berbeda cara menginterpretasikan nya. Naoshima, Chichu Art Museum berhasil mewujudkan perasaan akan ruang yang bisa merangkul kehidupan, perasaan yang didapat ketika melihat keatas langit saat berada jauh didalam bumi, pencarian akan cahaya.

Teks: Arsheila Kinan, Foto: Ujitsuka Mitsumasa, Mitsuo Matsuoka, Michael Kellough, Naoya Hatakeyama, Takeo Shimizu, Noboru Morikawa.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Basically, there’s always time to stop and stare at the precious one.

FOLLOW US ON