Seni Oh Seni

Seni Oh Seni

Ada seni lukis, ada seni menjual perusahaan. Ada seni patung, ada seni menjatuhkan pesaing dan lawan politik. Siapa yang disebut seniman?

Pada suatu siang di ruang berpendingin, saya duduk sambil menyantap nasi kuning yang sudah dingin terkena imbas pendingin ruangan. Nasinya menjadi keras dan terasa kering ketika dikunyah. Sambil menyantap makanan siang hari itu, saya mendengar sejumlah seniman dan wartawan mengajukan beberapa pertanyaan.

Salah satu dari mereka menjelaskan seniman itu memiliki cara berpikir yang bebas. Nasi kuning yang kering dan lumayan nikmat itu pun saya habiskan. Setelah kenyang, saya mulai berpikir mengapa hanya seniman yang memiliki pemikiran yang bebas? Siapakah seniman itu sehingga mereka memiliki kebebasan menyatakan pemikiran itu? Bisa jadi perut kenyang itu membawa pikiran saya ke mana-mana.

Saya sendiri tidak tahu apakah ini sebuah stereotip atau bukan. Kalau seseorang mengeluarkan kata seniman dari mulutnya, otak saya langsung membayangkan seorang laki-laki (dan bukan perempuan) yang rambutnya gondrong, dekil, tidak mau diatur, pakai kaos lusuh, merokok, dan madesu alias “masa depan suram” – meski katanya sekarang ini seniman tak lagi seperti itu, malah bisa seperti seorang kapitalis yang parlente, harum mewangi, serta kaya raya.

Saya sama sekali tak sedang menyindir mereka yang disebut seniman. Yang saya pertanyakan mengapa hanya mereka yang bisa mengatakan kalau pemikiran merekalah yang bebas dan tidak dapat dikekang? Mengapa orang keuangan dan mereka yang bekerja di pabrik mobil dan di pengeboran minyak lepas pantai tak bisa berpikir demikian? Apakah ilmu eksakta dan yang tidak eksakta telah membuat perbedaan yang demikian itu?

Seniman itu, kalau buat saya, tak hanya berakhir menjadi pelukis, pematung, pembuat seni instalasi, atau perancang mode. Bukankah membuat mobil pun ada seninya? Membuat usaha dari yang biasa saja sampai luar biasa juga ada seninya. Seni menjual, misalnya. Mengapa kemudian kedua dunia itu, yang eksak dan tidak, melakukan diskriminasi yang tajam? Apakah karena disebut eksak mereka dilarang mengkhayal? Kalau pun mengkhayal, khayalan mereka harus diterjemahkan dalam bentuk budget, begitu?

Kalau jadinya begitu, artinya mereka bukan seniman. Mereka juga bukan manusia eksak. Mereka manusia yang seperti banci. Laki tidak, perempuan pun bukan. Manusia yang ada di tengah-tengah. Waktu berkhayal jadi seniman, waktu menerjemahkan khayalan, harus memikirkan cost.

Suatu hari, saya berbicara dengan salah satu pemilik galeri seni yang memiliki beberapa seniman yang menjadi andalannya. Menurutnya, begitu mendapatkan uang dari hasil karya seni, para seniman tak berpikir untuk berinvestasi. Memiliki rumah, misalnya. Sehingga, teman saya itu yang mengatur pemasukan para senimannya.

Apakah artinya itu? Saya melihat orang yang hidup di dunia yang eksak kelihatan keder. Mudah menjadi pesimis, meski ada yang pantang menyerah. Mereka menghitung semuanya padahal masa depan tak ada yang bisa mengetahui. Mereka mudah digoyang. Dollar naik bingung, resesi terjadi bingung. Amerika menaikkan suku bunga bingung. Mereka menikmati hari ini dengan deg-degan.

Sementara, dunia non-eksak mengajarkan kebebasan untuk berpikir tanpa batas – meski sejujurnya dunia ini senantiasa ada batasannya. Maka, demikianlah ilmu pengetahuan membagi dua dunia itu dengan istilah manusia yang berpikir dengan otak kanan dan otak kiri.

Saya tak tahu apakah mereka yang hidup di dunia non-eksak tak pernah keder, karena biasanya kekederan terjadi kalau berpikir terlalu banyak dan mengetahui terlalu banyak. Sementara, dunia yang tidak eksak seperti mimpi. Bisa jadi orang eksak bertemu dengan yang tidak eksak akan bingung setengah mati. Dan, mungkin akan bertanya bagaimana mungkin, kok, ada manusia yang mengelola hidup tidak seperti mereka.

Jadi, siapakah sejujurnya yang pantas disebut seniman? Dunia yang mana yang disebut dunia seni? Ada pematung, ada seni menjual. Ada perancang mode, ada seniman membuat mobil. Ada pelukis, ada seniman menjatuhkan pesaing dan lawan politik. Ada perancang mode, ada seniman politik. Ada seni memasak, ada seni bercinta. Ada seni berselingkuh, ada seni mengatur kehidupan rumah tangga agar damai dan sejahtera. Ada seni merayu suami untuk dapat tas Birkin Himalaya, ada seni merayu klien agar memindahkan dana pemasangan iklan pesaing ke majalah ini. Ups…. Seni… oh… seni….

Teks: Samuel Mulia

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Basically, there’s always time to stop and stare at the precious one.

FOLLOW US ON