Sehari Jelajah Kota Ronda

Kebanyakan wisatawan mungkin akan memilih tujuan wisata populer pada negara yang hendak dikunjungi. Seringkali Ibu Kota negara dan beberapa kota-kota populer menjadi daya tarik utama untuk disambangi. Tidak ada yang salah dengan itu. Namun, tidak ada salahnya juga jika sesekali berkunjung ke lokasi yang bukan menjadi tujuan utama para pelancong. Bagaimana jika ke sebuah kota mungil berpenduduk tak lebih dari 35,000 orang di Spanyol? Terbersit di pikiran pun tidak. Apalagi mengunjunginya?

Siapa yang tak kenal Madrid dan Barcelona? Dua kota tersebut memang menakjubkan. Sayang memang ketika menyambangi Spanyol, namun tidak singgah di kedua kota cantik itu. Akan tetapi, jika Anda memiliki waktu lebih saat berpelesir ke Spanyol, tidak ada salahnya menyisipkan Kota Ronda ke dalam itinerary Anda. Ronda merupakan sebuah kota di sisi selatan Spanyol. Tepatnya terletak di Provinsi Malaga. Menghabiskan waktu sehari di Ronda, justru menjadi highlight perjalanan saya menjelajah negeri asal pesepak bola Fernando Torres itu.

Pagi Hari

Perjalanan menuju Ronda saya tempuh dengan bus selama kurang lebih 10 jam dari Madrid. Pilihan jalan darat saya pilih agar dapat menyambangi beberapa kota sekaligus dan tentunya merasakan suasana luar kota serta gaya hidup penduduk lokal. Namun, Anda juga dapat menggunakan pesawat menuju Kota Malaga dan melanjutkan perjalanan melalui darat untuk sampai di Ronda. Pilihan moda transportasi dapat disesuaikan dengan budget dan waktu yang Anda miliki.

Tiba di Ronda sekitar pukul 8 pagi. Suasana Ronda sudah cukup ramai oleh penduduk lokal yang hendak memulai aktivitasnya. Jangan bayangkan Ronda seperti kota-kota mungil pada umumnya. Ronda jauh dari kesan sunyi senyap. Memang tidak seramai di kota-kota besar, namun Ronda jelas bukanlah seperti kota-kota kecil di Indonesia. Berbagai jenis mobil Eropa keluaran terbaru hingga toko-toko seperti Zara dan Mango dapat Anda temui di Ronda. Perut yang sudah kelaparan membuat saya bergegas mencari kafe yang sudah buka. Ternyata cukup banyak kafe yang telah buka dan terlihat sudah ramai dikunjungi penduduk lokal. Saya pun memilih Cruzcampo yang direkomendasikan oleh kolega saya yang bekerja di Kedutaan Besar RI. Cokelat hangat dirasakan sangat pas menemani panganan churros, kue khas Spanyol yang disajikan dengan pilihan saus white & dark chocolate, karamel, kayu manis, atau gula tepung. Bagi yang tidak menyukai susu cokelat hangat dapat menggantinya dengan secangkir kopi dengan berbagai pilihan cara penyajian.

Setelah perut terisi, perjalanan menjelajah Ronda resmi dimulai. Pemberhentian pertama adalah Bullring Museo yang terletak tidak jauh dari “New Bridge”. Perlu diketahui bahwa Ronda merupakan tempat lahirnya bullfighting modern. Maka jangan lewatkan untuk mengunjung mu-seum yang satu ini. Dengan membayar 6 euro, Anda dapat mengelilingi lingkar luar dari bullring yang tak lain memuat berbagai memorabilia seputar pertarungan adu banteng lengkap dengan penjelasannya dalam dua bahasa, yakni Spanyol dan Inggris. Tak hanya melihat museum, Anda juga dapat memasuki dan mengelilingi arena pertarungan. Jangan lewatkan untuk berfoto di tengah-tengah hamparan pasir arena bullfighting. Sensasi yang dirasakan betul-betul luar biasa! Meskipun kini pertarungan banteng ini sudah tidak diizinkan lagi, namun berbagai suvenir bertemakan bullfighting tetap mendominasi isi toko-toko suvenir di Ronda. Setelah menghabiskan waktu 1 jam berkeliling Bullring Museo, saya pun beranjak menuju Alameda del Tajo. Dari Alameda del Tajo, dapat terlihat keindahan alamiah Ronda. Terkenal dengan keindahan alamnya, Ronda memang menjadi destinasi wisata yang memanjakan mata. Deretan bukit-bukit serta tebing berhiaskan perumahan penduduk amat menarik perhatian bagi siapa pun yang melihatnya. Pengunjung dapat menjelajah dari sisi tebing berpagar besi yang memang sengaja dibangun agar para pecinta fotografi dapat mengambil gambar secara maksimum. Seakan pemerintah daerah setempat sangat memahami betapa kekuatan sebuah foto yang berkualitas baik dapat menjadi media promosi yang berdampak besar.

Penjelajahan saya pun beranjak ke Museo del Ronda. Bagi pecinta wine, museum ini wajib dikunjungi! Berbagai perkebunan anggur di Ronda memamerkan produksi wine miliknya di Museum ini. Para pengunjung dapat mempelajari sejarah, cara pembuatan, hingga mencoba berbagai wine for free. Selain itu, terdapat pula display pakaian tradisional lengkap dengan keterangannya. Walaupun seluruh keterangan ditulis dalam bahasa Spanyol, namun jangan khawatir karena tersedia juga pemandu yang fasih berbahasa Inggris. Anda juga dapat membeli wine di sini, namun dengan harga yang relatif lebih mahal. Kurang rasanya jika berkunjung ke Ronda, namun melewatkan air terjun Ronda yang tersohor itu. Dengan berjalan kaki menelusuri lereng-lereng bukit, Anda akan sampai pada gemericik suara air terjun. Pemandangan alam yang sungguh menggoda mata. Tak salah jika Ronda masuk ke dalam 3 tempat teratas di Andalusia yang wajib dikunjungi wisatawan.

Siang Hari

Matahari yang sudah tepat di atas kepala mengingatkan saya untuk rehat sejenak sambil menyantap makan siang. Inilah saatnya untuk mencicipi sajian khas Spanyol, Paella. Paella merupakan salah satu makanan khas Spanyol yang kaya akan rasa. Berupa nasi berwarna kuning yang disajikan dengan seafood. Sepintas mengingatkan saya akan nasi kuning ala Indonesia. Rasa manis dan asam mendominasi masakan yang banyak dijumpai di berbagai restoran ini.

Beruntung jika Anda mengunjugi Ronda saat Musim Panas. Mengapa? Anda dapat menikmati suasana Ronda yang betul-betul berbeda dibandingkan dengan musim-musim lainnya. Saat Musim Panas, tepatnya di bulan Juli, Ronda kerap mengadakan festival kebudayaan yang diberi nama Gala Folklorica Internacional de Ronda. Berbagai negara, termasuk di antaranya Indonesia, turut berpartisipasi pada festival tersebut. Menjelang sore hari, para negara partisipan serta tuan rumah Spanyol berpawai meramaikan jalan-jalan di Ronda. Cuaca yang cukup terik menjadi terabaikan saat menikmati keindahan budaya yang ditampilkan tiap negara. Penampilan dari Mexico menjadi favorit saya. Kostum yang begitu atraktif dan musik pengiringnya mengalun indah bak sedang menyaksikan pertunjukan orkestra.

Sore Hari

Berjalan-jalan menikmati jejeran pertokoan di Ronda paling tepat dilakukan saat sore hari saat matahari sudah tidak terlalu terik. Selain itu, sebagian besar toko juga  tutup saat siang hari atau saat waktu makan siang tiba. Berbagai jenis brand baik yang berskala internasional hingga brand lokal memeriahkan sepanjang kiri-kanan jalanan utama. Jangan lewatkan juga grocery store yang menjual beragam jenis buah-buahan lokal seperti nectarina, limonera, dan kiwi. Rasa manis dari buah-buahan tersebut sanggup menjadi pasokan energi saat tubuh mulai terasa lelah.

Saya pikir inilah saat yang tepat untuk berburu cenderamata khas Ronda. Cukup banyak toko yang menjual suvenir seperti kartu pos, pajangan magnet, kipas, hingga boneka penari flamenco. Harga yang ditawarkan cukup bervariasi sesuai dengan jenis dan kualitasnya. Saya pun membeli pernak-pernik khas Ronda untuk melengkapi koleksi di rumah.

Pada Waktu Petang Itu

Jelang petang, saya pun bersiap untuk mengejar sunset di tepi tebing Sierra de Ronda. Di sinilah lokasi paling baik untuk menikmati indahnya senja di Ronda. Cahaya matahari yang mulai merendah perlahan bersembunyi di balik celah bukit-bukit terlihat begitu cantik nan menggoda. Semilir angin sepoi-sepoi seakan mengajak Anda untuk rehat sejenak dari berbagai aktivitas yang melelahkan. Pastikan kamera Anda tetap dalam keadaan prima untuk mengabadikannya.

Setelah puas mengantarkan matahari terbenam, saya pun beranjak menuju Puente Nuevo atau lebih akrab di telinga pelancong sebagai “New Bridge”. Puente Nuevo merupakan ikon Kota Ronda. Merupakan jembatan yang memiliki tinggi 98 meter terbaru dan terbesar di antara tiga jembatan lainnya. Jembatan ini menghubungkan sisi kota lama dengan kota baru. Belum pas rasanya jika sudah meletakkan kaki di Ronda, namun tidak memiliki foto “New Bridge” yang dibangun lebih dari 40 tahun lamanya.

Di bawah Puente Nuevo terdapat “Old Bridge” atau Puente Viejo. Lanjut di bawah “Old Bridge”, terdapat Arab Baths yang menjadi tempat tinggal bagi para narapidana dan sebuah bar pada masa silam. Kombinasi letak yang cukup kontras mengingat kedua fungsinya yang amat berbeda. Kini, lokasi tersebut dimanfaatkan sebagai museum dan dapat dikunjungi publik secara gratis.

Malam Hari

Meskipun Ronda adalah sebuah kota kecil, tidak berarti Ronda sepi kegiatan di malam hari. Terdapat night club dan bar yang dapat dijadikan pilihan. Meskipun musik yang dimainkan agak out of date, namun cukup untuk memuaskan hasrat berdansa dan mencicipi kehidupan malam di Ronda.

Seperti yang sudah saya singgung sebelumnya, di Musim Panas, Anda dapat menyaksikan pertunjukan seni dan budaya dalam rangkaian festival. Alameda del Tajo yang sepi di siang hari, justru menjadi ramai di malam hari karena disulap menjadi panggung hiburan bagi penduduk lokal dan wisatawan. Tiap-tiap malam selama festival akan selalu ada penampilan dari para negara partisipan secara bergiliran. Tata panggung dan pencahayaan dibuat maksimal lengkap dengan sistem suara yang mumpumi. Merupakan sajian seni dan budaya yang menggugah mata, hati, dan telinga.

Teks & Foto: Clarina Andreny

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Basically, there’s always time to stop and stare at the precious one.

FOLLOW US ON